Belanda, Memanusiakan Manusia Lewat Seni Dan Budaya

Lebih dari 150 tahun yang lalu, Karl Marx yang awalnya merupakan seorang liberal radikal, mengalami revolusi pemikiran dalam dirinya dan mulai beralih menjadi seorang sosialis. Kunjungannya ke Paris dan pertemuannya dengan orang-orang sosialis radikal seperti Produhon dan lainnya lah yang menjadi penyebab revolusi pemikiran Marx tersebut. Salah satu pemikiran yang muncul dari Marx di awal masa-masa ketika ia mulai menjadi seorang sosialis adalah mengenai pendapatnya soal hakikat pekerjaan dan bagaimana pekerjaan di bawah sistem kapitalisme menyebabkan manusia teralienasi dari dirinya sendiri.

Menurut Marx, manusia seharusnya mengobjektivasikan diri ke dalam alam melalui pekerjaannya. Lewat pekerjaan, manusia menjadi nyata. Hal semacam itu tidak akan tercapai apabila manusia bekerja di bawah sistem kapitalisme dan bekerja tak sesuai dengan keinginannya. Pekerjaan yang semacam itu membuat manusia gagal mengeluarkan kreatifitasnya, dan gagal mengobjektifikasi dirinya dalam pekerjaannya. Akibatnya, manusia menjadi teralienasi dari dirinya sendiri.

Pendapat Marx tersebut membuat saya kemudian berpikir bahwa salah satu pekerjaan yang mampu membuat manusia tak teralienasi dari dirinya sendiri adalah seni dan budaya. Lewat seni dan budaya, manusia dapat mengekspresikan dirinya dalam pekerjaannya, mengobjektifikasikan dirinya pada karya-karyanya.

Harus diakui, kini, tak banyak lagi pihak yang menghargai pekerjaan yang bukan mengejar materi dan lebih pengekspresian diri manusia dalam karya-karyanya. Apalagi, jika Anda berbicara mengenai negara. Tak banyak pemerintah negara-negara di dunia yang mendorong manusia-manusianya untuk mampu menjadi manusia dengan pekerjaan-pekerjaan di bidang seni dan budaya. Paham kapitalisme yang kian kental kini membuat setiap negara berlomba-lomba untuk menyokong berkembangnya sektor ekonomi negara, bukan seni dan budaya.

Namun hal yang berbeda akan tampak jika kita berbicara soal Belanda. Melalui bacaan-bacaan yang sempat saya lahap, saya mengetahui, atau setidaknya berpikir, bahwa Belanda adalah negara yang amat menghargai kreatifitas manusia, dengan dukungannya yang besar terhadap sektor seni dan budaya.

Sebuah karya di Bandara Schiphol, Amsterdam. (Sumber foto: Hongkiat.com)

Belanda adalah negara yang sangat mendukung dunia seni dan budaya, dan tak henti-hentinya mendukung warganya untuk berkarya. Salah satu dukungan paling nyata yang mereka berikan adalah dengan adanya Public Cultural Funds. Ini adalah sebuah kebijakan subsidi bagi kegiatan-kegiatan dan proyek-proyek budaya. Kebijakan ini sendiri tertuang dalam Cultural Policy Act (Wet op het specifiek cultuurbeleid), yang dibuat pada tahun 1993. Lewat kebijakan ini, pemerintah Belanda melalui instansi-instansi tertentu memberikan bantuan subsidi dan dukungan bagi kelompok atau perseorangan yang memiliki proyek seni dan budaya.

Ada berbagai macam program dalam Public Cultural Funds, yang membuat kebijakan ini memiliki cakupan yang luas. Mulai dari desainer visual, perupa, arsitek, pembuat film, seniman performing arts, bahkan hingga kritikus dan kurator. Tak hanya di bidang seni, bidang literatur pun mendapatkan perhatian yang serupa. Penulis-penulis dari Belanda, ataupun warga asing yang tertarik dengan literatur Belanda, bisa mendapatkan dukungan pemerintah dari program ini.

GO Gallery, salah satu galeri yang ikut serta dalam Project Amsterdam Street Art. (Sumber foto: http://indigosadventures.wordpress.com)

Program yang begitu mendukung kegiatan kesenian dan budaya inilah yang membuat Belanda menjadi negara yang begitu “ramah” bagi mereka yang tertarik menggeluti bidang seni dan budaya. Dukungan yang begitu nyata tersebut membuat masyarakat Belanda menjadi percaya diri untuk berkarya dan menuangkan kreatifitas mereka. Tanpa disadari, pemerintah Belanda telah merangsang warganya untuk tetap menjadi manusia, dan bukan robot-robot penggerak roda ekonomi di pabrik-pabrik belaka.

Referensi:

COMPENDIUM. (2011). Netherlands/ 8.1 Support to artists and other creative workers: http://www.culturalpolicies.net/web/netherlands.php?aid=812. Diakses pada Sabtu, 12 Mei 2012 Pkl. 18.51

Magnis-Suseno, Franz. (2003). Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama

Posted in Buah pikiran | Tagged , , | Leave a comment

Keenan, Perahu Kertas, Dan Sebuah Pertanyaan Mengenai Seni Dan Belanda

Saya baru membuka sekitar empat halaman bab pertama novel “Perahu Kertas” saat sebuah pertanyaan muncul dalam kepala saya: mengapa Dee memilih Belanda, tepatnya Amsterdam, sebagai tempat Keenan (salah satu tokoh utama di novel ini) sekolah dan belajar mendalami ilmu melukisnya? Kenapa bukan Paris, yang selama ini mungkin lebih dikenal sebagai kota paling nyeni di Eropa? Kenapa harus Amsterdam?

Vondelpark, taman favorit Keenan untuk melukis. (Sumber foto: The Art of Slow Travel)

Dewi ‘Dee’ Lestari memang membuka Perahu Kertas dengan cerita seorang Keenan yang sedang bersiap-siap meninggalkan Belanda untuk kembali ke Indonesia, pada suatu hari di bulan Juni 1999.  Dee menggambarkan bagaimana kesedihan Keenan yang begitu mencintai Amsterdam, kota di  mana segudang pelukis favorinya tinggal dan berkarya, dan memiliki berbagai lokasi yang menyenangkan untuk melukis. Bagi Keenan, Amsterdam adalah kota terbaik untuk mengembangkan bakat melukisnya yang ia dapat dari sang ibunda.

Dari pertanyaan yang muncul itulah saya kemudian mencari tahu mengenai kehidupan kesenian di Belanda, mencari hal-hal yang mungkin dijadikan Dee sebagai pijakan untuk memilih Amsterdam sebagai kota yang ia pilih untuk Keenan tumbuh dan mengembangkan bakat melukisnya.

Dan dari hasil iseng-iseng mencari tahu itulah, saya kemudian tersadar: Belanda adalah salah satu negara di dunia yang begitu menghargai kreatifitas manusia, entah itu dalam bentuk seni maupun budaya.

Sebuah karya di Bandara Schiphol, Amsterdam. (Sumber foto: Hongkiat.com)

Belanda adalah negara yang sangat mendukung dunia seni dan budaya, dan tak henti-hentinya mendukung warganya untuk berkarya. Salah satu dukungan paling nyata yang mereka berikan adalah dengan adanya Public Cultural Funds. Ini adalah sebuah kebijakan subsidi bagi kegiatan-kegiatan dan proyek-proyek budaya. Kebijakan ini sendiri tertuang dalam Cultural Policy Act (Wet op het specifiek cultuurbeleid), yang dibuat pada tahun 1993. Lewat kebijakan ini, pemerintah Belanda lewat instansi-instansi tertentu memberikan bantuan subsidi dan dukungan bagi kelompok atau perseorangan yang memiliki proyek seni dan budaya.

Ada berbagai macam program dalam Public Cultural Funds, yang membuat kebijakan ini memiliki cakupan yang luas. Ada Fonds BKVB yang mendukung desainer visual, perupa, arsitek, hingga kritikus dan kurator. Ada juga Mondriaan Stichting yang mendukung seniman-seniman Belanda yang ingin terjun ke dunia internasional. Selain itu, ada Stimuleringsfonds voor Architectuur yang mendukung arsitek-arsitek Belanda, dan Nederlands Fonds voor de Film yang mendukung perfilman dalam negeri. Dan terakhir, yang baru saja dibentuk, terdapat Nederlands Fonds voor Podiumkunsten+, sebuah program khusus bagi performing arts.

GO Gallery, salah satu galeri yang ikut serta dalam Project Amsterdam Street Art. (Sumber foto: http://indigosadventures.wordpress.com)

Tak hanya di bidang seni, bidang literatur pun mendapatkan perhatian yang serupa. Ada dua program untuk bidang literatur, yaitu Fonds voor de Letteren dan Nederlands Literair Productie- en Vertalingenfonds. Menariknya program Fonds voor de Letteren bahkan memiliki kebijakan yang isinya mendorong agar penulis-penulis asing yang sedang tinggal permanen atau sementara di Belanda bisa menulis literatur dalam bahasa Belanda!

Program yang begitu mendukung kegiatan kesenian dan budaya inilah yang membuat Belanda menjadi negara yang begitu “ramah” bagi seniman. Dukungan yang begitu nyata tersebut membuat masyarakat Belanda menjadi percaya diri untuk berkarya dan menuangkan kreatifitas mereka.

Tak heran Keenan begitu berat meninggalkan Amsterdam.

Referensi:

COMPENDIUM. (2011). Netherlands/ 8.1 Support to artists and other creative workers: http://www.culturalpolicies.net/web/netherlands.php?aid=812. Diakses pada Sabtu, 12 Mei 2012 Pkl. 18.51

Lestari, Dewi. (2009). Perahu Kertas. Yogyakarta: Bentang Pustaka

Posted in Buah pikiran | Leave a comment

Rumah, Keluarga, Dan Jarak

10 tahun merupakan rentetan waktu yang cukup panjang dalam hidup kita di dunia. Ada begitu banyak hal yang bisa terjadi dalam waktu 10 tahun, ada begitu bayak pengalaman yang hadir dan dialami oleh seorang manusia dalam waktu 10 tahun. Ada banyak kenangan, ada banyak perasaan, begitu pula pelajaran. 10 tahun bukanlah waktu yang pendek.

Tetapi 10 tahun bisa berlalu tanpa kita sadari karena kita menjalaninya tanpa menghitung hari demi hari yang berganti begitu saja, layaknya sebuah kegiatan yang menjadi kebiasaan yang bisa kita lakukan tanpa kesengajaan sekalipun. Layaknya menaiki MRT apalagi Shinkansen, tanpa kita sadari, kilometer demi kilometer kita lalui dengan cepat, dan tahu-tahu kita sudah sampai di stasiun yang kita tuju.

Tak terasa, kurang dari enam bulan lagi, genap sudah 10 tahun saya hidup jauh dari orang tua.

Rasanya semuanya berlalu begitu cepat. Rasanya masih terngiang suara tangisan Mamam (sebutan untuk almarhumah nenek saya dari ibu) yang tak rela melihat cucu yang ia rawat sejak kecil pergi meninggalkannya untuk memulai kehidupan baru di sebuah kota yang berjarak ratusan kilometer dari rumah. Tangisan yang merupakan gabungan dari rasa sayang plus (saya duga) rasa kasihan karena saya harus tinggal jauh dari orang tua di usia yang teramat muda, demi menggapai cita-cita yang saat itu saya tidak tahu persis, apa.

Selama 10 tahun, saya hidup tanpa didampingi orang tua, kecuali di saat liburan sekolah atau kuliah. 10 tahun yang mungkin benar-benar mengubah hidup saya.

Saya tumbuh menjadi seorang yang (saya rasa) cukup mandiri. Selain saat mendaftar kepindahan saya di kelas 6 ke sebuah SD yang berjarak sekitar 1,5 km dari rumah mbah saya di Sleman, saya selalu melakukan semuanya sendiri. Saya ingat sekali, saat saya harus mendaftar di SMP 1 Sleman, saya melakukannya seorang diri, sementara anak-anak lainnya selalu diiringi oleh orang tuanya. Hanya sesekali mbah saya ikut karena ada beberapa dokumen yang memang harus ia urus di sana.

Saya juga masih begitu ingat, ketika saya, yang tidak tahu di mana itu letak SMA N 1 Yogyakarta dan buta wilayah Jogja karena selama 4 tahun hanya tinggal di daerah Sleman, naik bis Jogja-Tempel sendirian untuk mendaftar sekolah di jenjang SMA. Tak ada yang pernah mengiringi saya, apalagi orang tua saya yang bekerja keras demi menghidupi anak-anaknya ratusan kilometer dari tempat saya berada.

Menyesalkah saya menjalani masa remaja yang mungkin agak berbeda dengan anak-anak lain sebaya saya?

Tidak, saya malah merasa beruntung. Saya merasa beruntung karena tumbuh dengan cara demikian membuat pemikiran saya menjadi lebih dewasa daripada beberapa anak lain. Saya merasa beruntung karena saya bisa mandiri dalam usia yang begitu muda. Saya merasa beruntung karena saya merasa orang tua saya ternyata begitu mempercayai saya sampai-sampai berani melepas sejak saya masih berusia sekitar 10 atau 11 tahun. Tidak banyak orang tua yang bisa mempercayai anaknya sebegitu rupa. Saya yakin itu.

Tetapi pilihan hidup seperti ini memang bukannya tanpa konsekuensi, bukannya tanpa resiko. Salah satu konsekuensinya adalah menyoal hubungan saya dengan orang tua.

Bukan, bukannya hubungan saya dan orang tua menjadi renggang. Tidak, saya masih cukup dekat dengan kedua orang tua saya, walau harus diakui memang mungkin tidak sama dengan jika saya tidak pernah memilih untuk pergi ke Jogja hampir 10 tahun yang lalu. Yang menjadi masalah terbesar yang saya anggap konsekuensi karena begitu lama jauh dari orang tua adalah minimnya rasa rindu dan keinginan saya untuk pulang ke rumah, pulang ke orang tua saya. Homesick, bagi beberapa orang yang merantau mungkin hal yang wajar dan selalu dirasakan, tetapi tidak bagi saya. Terkadang saya memang rindu dengan kedua orang tua saya, dengan tawa adik-adik saya, tetapi tak ada rindu yang begitu menggebu yang bisa memaksa saya untuk pulang dengan semangat di kala libur atau mengambil jatah bolos demi bisa pulang di tengah-tengah semester untuk mengobati rasa rindu pulang ke rumah.

Saya tidak pernah merasakannya. Dan saya rasa, inilah konsekuensinya.

10 tahun jauh dari orang tua membuat saya menjadi begitu terbiasa, dan pada akhirnya malah membuat diri saya lebih nyaman untuk hidup sendiri. Begitu lamanya saya tidak tinggal bersama orang tua membuat saya malah merasa aneh ketika saya harus pulang, ketika saya harus tinggal bersama keluarga saya. Ya, rasa aneh itu terkadang muncul, yang merupakan akibat dari merasakan pengalaman yang berbeda dari kebiasaan yang saya alami di kota tempat saya merantau (baca: sendirian di kamar kos-kosan). Anda juga pasti akan merasa aneh, bukan, apabila misalnya Anda yang biasa tinggal di sebuah rumah yang begitu sunyi harus menginap di rumah yang begitu ramai? Itulah yang saya rasakan ketika saya harus pulang ke rumah.

Harus saya akui, itu adalah hal yang tidak sehat. Tetapi harus saya akui juga, itu adalah hal yang alamiah sifatnya dan tidak bisa saya utak atik karena bukan saya pengendalinya. Inilah konsekuensi yang harus saya hadapi karena pilihan hidup 10 tahun yang lalu itu.

Tak heran jika malam tadi, ketika saya bersama Tama, Uli, Eva, dan Dini makan bersama dan membicarakan soal keluarga, saya kembali dihinggapi rasa iri. Rasa iri yang aneh. Iri karena teman-teman saya masih memiliki rindu dengan orang tuanya, iri karena masih memiliki rasa rindu pulang yang selalu hadir di sela-sela rutinitas kuliah di UI.

Tak adanya rasa rindu itu membuat saya menjadi semakin sedih mengingat tanggal 22 April kemarin merupakan tanggal ulang tahun ibu saya. Di hari yang spesial dalam sebuah siklus tahunan di hidupnya, saya tak bisa datang, memberikan selamat secara langsung, mencium pipinya, dan merayakan langsung bersamanya. Saya tidak bisa, karena saya begitu jauh dengannya.

Di saat seperti ini, saya hanya bisa berandai-andai, seandainya pintu kemana saja itu benar-benar ada…

Posted in Buah pikiran, Pengalaman | 1 Comment

Bahagia Itu Sederhana

Entah kenapa, kalimat ini begitu populer di duna Twitter dalam beberapa bulan terakhir. Setiap orang seperti memiliki definisinya sendiri mengenai kebahagiaan versi mereka, dan memperlihatkan bahwa bahagia bukanlah sebuah kata atau perasaan yang rumit. Bagi mereka, untuk mendapatkan kebahagiaan itu sebenarnya bisa dicapai lewat hal-hal yang begitu sederhana.

Saya sangat setuju dengan hal tersebut. Kebahagiaan itu bisa dicapai lewat hal-hal yang sederhana: menonton acara atau film yang disukai, makan makanan yang sudah lama diidam-idamkan, mendengar musik favorit, atau lewat hal yang paling absurd sekalipun. Seperti saya malam ini, yang bisa merasa begitu bahagia hanya karena bisa skypean dalam waktu yang singkat dengan seseorang yang sekarang sedang berada di Korea karena menjadi salah satu peserta pertukaran pelajar hingga Juni nanti. Iya, hanya karena hal itu, saya bisa merasa senang bukan kepalang.

Jadi, bahagia itu begitu sederhana, bukan?

Posted in Buah pikiran | Leave a comment

Fenomena Buku Traveling

Entah kapan tepatnya fenomena ini mulai terjadi. Yang pasti, dalam beberapa tahun terakhir, gue merasa bahwa munculnya buku-buku mengenai traveling udah jadi fenomena tersendiri; jenis buku ini kian menjamur seiring juga dengan kian menjamurnya fenomena traveling di masyarakat Indonesia.

Fenomena traveling ke luar negeri oleh masyarakat Indonesia sendiri menurut gue bisa muncul akibat makin banyaknya rangsangan tawaran-tawaran menggiurkan yang disodorkan oleh maskapai-maskapai penerbangan di Indonesia. Siapa yang gak tergiur sih dengan tiket murah seperti yang biasa ditawarkan maskapai penerbangan murah seperti Air Asia atau Tiger Airways? Dengan 200rb kita udah bisa sampai Singapore? Ah, pasti nggak ada yang menolak.

Apalagi, kini udah makin banyak orang yang ingin ikut arus fenomena ini. Entah itu karena kebutuhan eksistensi diri sendiri (baca: karena pengen foto-foto dengan background tempat wisata di luar negeri), atau murni karena ingin ngeliat tempat-tempat baru yang selama ini cuma bisa diliat di tv. Menurut gue, traveling bahkan udah jadi semacam lifestyle tersendiri. Fenomena inilah yang kemudian ditangkap sama penerbit-penerbit buku yang kemudian dengan gencarnya menawarkan buku-buku soal tempat wisata luar negeri, tips dan trik pas traveling, atau novel yang berbasis kegiatan traveling (Ada yang tau novel “Traveller’s Tale: Belok Kanan, Barcelona!”?).

Dan fenomena itulah yang menarik perhatian gue pas mengunjungi Gramedia Depok tadi sore….

Ini baru satu rak. Masih ada satu-dua rak lain yang isinya serupa. Nah, Anda mau ke mana? Silakan pilih buku-buku tersebut dan belajar soal traveling dari sana.

Sebenernya, beli buku untuk persiapan travelling itu bukan hal yang wajib juga. Toh di internet informasi soal tempat-tempat wisata terkenal di suatu negara udah banyak banget. Tinggal pinter-pinter nyari aja. Tapi beli buku juga sah-sah aja. Kalau ada yang lebih simpel, kenapa harus ribet, ya kan?

Ngomong-ngomong, setelah sekian lama, gue akhirnya mengunjungi bagian komik di toko buku. Dan bener-bener kaget pas tau kalo harga komik sekarang udah 17 ribu rupiah. Ya Tuhan, dulu gue beli komik Kung Fu Boy bahkan nggak sampe lima ribu rupiah, lho. Inflasi!

Bahkan komik-komik kayak Slam Dunk dengan tampilan baru kayak ini harganya udah 20rb. Keinginan gue untuk mulai ngoleksi komik-komik yang gue suka pun harus layu sebelum berkembang.

Ada yang minat demo Elex Media buat nurunin harga komik?

Posted in Buah pikiran | Leave a comment

Minggu Pagi di UI

Untuk kedua kalinya dalam tiga minggu terakhir, hari Minggu kemarin gue melakukan ritual olahraga pagi di hari Minggu seperti yang biasa orang-orang lain lakukan. Biasanya, gue paling males untuk olahraga di hari Minggu. Pertama, karena malemnya pasti begadang nonton bola dan paginya pasti harus nulis banyak laporan pertandingan yang panjangnya gak bisa disamain sama artikel normal. Yang kedua, karena hari Minggu pagi di UI pasti rame banget. Dua hal inilah yang membuat gue gak pernah olahraga di hari Minggu pagi di UI walau udah nyaris tiga tahun kuliah di sini.

Tapi tiga minggu terakhir, gue akhirnya nyoba untuk ikutan ritual orang-orang kota besar ini. Awalnya sih karena emang ngerasa butuh untuk ngegerakkin kaki yang pegel-pegel kebanyakan duduk di depan laptop. Tapi belakangan, gue punya alasan khusus: merhatiin orang-orang yang dateng ke UI untuk olahraga.

Bermodal sepeda pinjeman dari Tama, gue pun bersepeda keliling UI. Dan bener-bener merhatiin banyak orang yang tumplek blek di kampus UI Depok ini. Baru bener-bener sadar kalo di hari Minggu, UI ini bener-bener multifungsi.

Pertama, jelas komplek UI ini bisa dijadiin tempat lari atau jalan santai, baik sendiri atau sama teman-teman, atau malah sama keluarga. Hal ini sendiri kayaknya udah terjadi sejak lama, maklum, kampus UI yang juga merangkap jabatan sebagai hutan kota emang punya udara yang adem dan enak buat dijadiin tempat olahraga di pagi hari.

Seiring dengan menjamurnya lagi wabah bersepeda ria dalam beberapa tahun terakhir, fenomena sepeda pun juga ikut menjamur di UI di hari Minggu pagi (gue salah satu contoh yang ikut fenomena ini).  Hebatnya, di UI bahkan ada spot khusus buat tempat nongkrong para pesepeda ria, entah yang udah bapak-bapak maupun yang masih muda. Entah ini komunitas beneran atau cuma kebetulan ketemu doang, tapi di daerah jalan yang nyambungin antara daerah Teknik dan Asrama UI, para pesepeda Minggu pagi UI pada ngumpul di sana, saling majang sepeda-sepeda yang mereka gunakan, dan mengobrol satu sama lain.

Lewat lapangan depan rektorat (gue lupa nama lapangannya apa), yang dulu dipake buat upacara bendera pas masih mahasiswa baru, gue ngeliat UI rupanya bisa dipake buat aktivitas lain: adu main layangan! Iya, di sana, gue ngeliat beberapa anak kecil main layangan di satu tempat ditemani orang tua mereka. Asik, berasa ada festival layangan gitu di UI. Sayang gue lupa ngambil fotonya.

Fenomena lain yang gue temui adalah UI jadi tempat pacaran macam di film-film romantis! Hahaha.. UI emang punya beberapa spot yang kalo diliat sekilas bisa dijadiin tempat syuting film romantis deh. Dan spot-spot itupun dipake oleh mereka-mereka yang kurang beruntung karena masih muda tapi udah terikat sama orang lain untuk berpacaran. Dan untuk yang ini, gue juga lupa ngambil fotonya. Lagian…………. nekat amat gue ngambil foto orang pacaran dari deket. :D

Tapi yang paling menarik adalah fenomena paling baru yang gue liat kemarin: UI jadi semacam showroom mobil bekas. Warga sekitar Depok yang ingin berolahraga di UI emang biasanya bawa mobil ke lingkungan UI, dan mereka biasanya parkir berjejer di pinggir jalan. Fenomena showroom mobil bekas ini pun terjadi dimulai dari depan Fakultas Ekonomi sampai depan Stadion UI. Pinggir jalan bener-bener dipenuhin mobil. Mulai mobil butut, sampai mobil mewah, semuanya ada.

Ngeliat jejeran mobil-mobil ini, ingetan gue langsung melayang ke hari Minggu di depan TVRI Yogyakarta. Di sana setiap hari Minggu memang selalu diadain bursa mobil bekas, dan di pinggir jalan di Jalan Magelang di depan TVRI pasti ada jejeran mobil-mobil bekas yang sedang menanti tuannya yang baru. Jadi mikir, gimana kalo di UI juga ada bursa mobil bekas gitu ya? :D

Posted in Buah pikiran | Leave a comment

Tanpa Ide

Jadi ceritanya, saya nggak punya ide sama sekali untuk menulis di blog. Well, sebenarnya kemarin ada, tapi saat itu saya terlalu malas menuliskannya di blog.

Tadinya, saya mikir ‘asik juga kali yah kalo gue ngeblog kegiatan sehari-hari kayak Mahar Nirmala‘. Tapi niat itu segera saya urungkan. Kenapa? Pertama, Mahar sekarang lagi di Korea, jadi apa yang dia tulisin bakal menarik untuk dibaca. Saya? Tersudut di pojok selatan ibukota, di kota satelit bernama Depok. Kedua, Mahar punya banyak kegiatan dan cerita menarik. Saya? Kuliah, nulis berita, nongkrong di Takor (kantin FISIP UI), nonton variety show Korea di laptop, dan semacamnya. Apa asiknya untuk dibaca?

Yah, pada intinya, saya cuma mau mengungkapkan bahwa sebenarnya saya iri sama Mahar. Akhwat nan cantik ini bisa bermukim di Korea selama kurang lebih lima bulan karena kecerdasannya. Saya? Tetap tersudut di pojok ibukota.

Begitulah hidup.

Posted in Buah pikiran | 1 Comment