Indonesia: Negara multikultural yang belum mengerti multikulturalisme

Indonesia adalah negara kepulauan yang sangat luas wilayahnya, sekitar 1.922.570 km2 luas daratan yang terdiri dari 17.504 buah pulau. Karena merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang jarak antar pulau bisa sangat jauh, membuat Indonesia memiliki sejumlah besar suku bangsa yang berbeda-beda. Tercatat sekitar 300 kelompok etnis tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Banyaknya suku bangsa di Indonesia ini menjadikan Indonesia kayak akan keragaman budaya, salah satu hal yang membuat Indonesia menjadi salah satu tujuan wisata bagi wisatawan asing. Selain itu sudah banyak pula para ahli yang menjadikan Indonesia sebagai objek penelitian karena Indonesia sebagai salah satu negara yang multikultur yang memiliki kekayaan budaya yang luar biasa.

Namun, multikultiralisme yang selama ini membuat Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa itu juga membuat sering terjadinya konflik antar etnis. Sejarah mencatat sudah terjadi begitu banyak konflik etnis berdarah yang memakan banyak korban jiwa. Dalam 12 tahun terakhir saja, terjadi berbagai konflik etnis, seperti peristiwa Mei 1998, dimana etnis tionghoa menjadi sasaran kemarahan massa yang berusaha menggulingkan Soeharto, lalu konflik Poso, tragedi Sampit, lalu di Ambon, dan banyak lagi. Banyak orang menganggap konflik-konflik antar etnis atau suku ini adalah hal yang wajar terjadi, apalagi di negara yang terdiri dari banyak suku dan etnis seperti Indonesia. Tetapi, apakah kita nyaman dilanda konflik terus menerus? Jawabannya tentu tidak. Konflik memang wajar terjadi, namun apabila sampai menyakiti sesame manusia apalagi sesama warga negara Indonesia, seharusnya hal ini tidak boleh terjadi.

Banyak hal yang melatarbelakangi sebuah konflik etnis. Mulai dari masalah ekonomi atau kesenjangan sosial, lalu rasa primordialisme yang masih tinggi, atau juga dendam sejarah panjang antar suku-suku yang bertikai. Seperti saat kejadian Mei 98 misalnya. Saat itu etnis tionghoa menjadi sasarannya. Mereka dibunuh, para wanita di culik lalu diperkosa, harta kekayaannya di jarah. Mengapa hal tersebut terjadi? Hal yang pertama menjadi penyebab adalah karena kesenjangan sosial antara etnis tionghoa dengan etnis lain nya. Seperti yang kita ketahui, saat pemerintahan Soeharto, etnis tionghoa bisa maju dan menguasai perdagangan karena kebebasan investasi yang dipegang teguh pemerintahan Soeharto dalam 32 tahun. Akibatnya etnis lain yang kalah bersaing tidak bisa maju, karena terhambat oleh kemajuan etnis tionghoa, lalu terjadilah kesenjangan sosial.

Banyak pihak berpendapat, Indonesia sebenarnya terlambat belajar mengenai multikulturalisme. Mengapa ada anggapan tersebut? Tidak lain adalah karena saat pemerintahan Orde Baru, kita dilarang untuk membicarakan perbedaan. Seharusnya sudah banyak sekali konflik antar etnis yang terjadi di masa lalu, namun semuanya diredam oleh pemerintah, karena pemerintah ingin menciptakan keadaan yang terlihat aman tentram dan tanpa konflik. Di sini adalah letak kesalahannya. Karena dalam negara yang multukulturalisme seperti Indonesia, konflik bukan harus diredam sehingga semua orang menganggap tidak ada yang namanya multikulturalisme, namun seharusnya dikendalikan dan kemudian dijadikan bahan pelajaran bagi setiap warga negara Indonesia, bagaimana cara kita untuk menerima, mentoleransi dan bekerja sama dalam multikulturalisme itu sendiri.

Jadi kesimpulan yang dapat saya ambil adalah masyarakat Indonesia masih harus belajar tentang multikulturalisme. Masyarakat Indonesia harus belajar untuk toleransi antar etnis, belajar untuk meredam rasa primordialisme, belajar untuk bekerja sama antar etnis sehingga semakin memperkaya Indonesia. Masyarakat Indonesia juga harus belajar untuk berpikir secara bangsa, bukan suku bangsa. Mari kita jadikan konflik-konflik antar etnis dimasa lalu tersebut menjadi pelajaran bagi seluruh masyarakat Indonesia, bagaimana seharusnya bersikap sebagai bangsa Indonesia, bangsa yang multicultural.

Advertisements

One thought on “Indonesia: Negara multikultural yang belum mengerti multikulturalisme

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s