Pergerakan Mahasiswa, Esensi dan Sikap Luhurnya

Saya baru saja membaca Bagian I dari buku Catatan Seorang Demonstran nya Soe Hok Gie. penulis bagian I ini adalah Daniel Dhakidae. dia menuliskan sosok Gie yang dia kenal dari tulisan-tulisannya di koran-koran dan catatan hariannya, walaupun tidak mengenal secara pribadi. di bagian pertama tersebut, Daniel Dhakidae banyak mengisahkan kehidupan Gie sebagai seorang Cendikiawan dan seorang Demonstran.

Sebagai seorang Demonstran, Gie adalah salah seorang yang menjadi motor pergerakan mahasiswa anggatan 66 yang menggulingkan Soekarno. dia berjuang bersama teman-teman angkatannya, dan dengan kepercayaan diri berujar, “Kita, generasi kita yang ditugaskan untuk memberantas generasi tua yang mengacau…. Kitalah yang dijadikan generasi yang akan memakmurkan Indonesia.” Sebuah cita-cita yang tinggi.

Gie selalu percaya bahwa apa yang diperjuangkan oleh pergerakan mahasiswa adalah perjuangan moral dan keadilan untuk menggulingkan kekuasaan rezim Soekarno. perjuangan mahasiswa adalah perjuangan moral, bukan perjuangan politik untuk mencari kekuasaan. Gie paham betul akan hal ini. Daniel Dhakidae mengatakan bahwa Gie menyadari bahwa moral dan kekuasaan tidak bisa disatukan.

Gie memandang bahwa pergerakan mahasiswa dan organisasi mahasiswa adalah dan tetap menjadi kekuatan moral dan tidak pernah mendasarkan tindakan-tindakannya pada perhitungan politik. Daniel mengatakan bahwa Gie menyebut seharusnya pergerakan mahasiswa dan organisasi mahasiswa itu seperti perjuangan cowboy. seperti dalam tulisan Gie di KOMPAS, 25 Oktober 1967 dalam rangka dua tahun KAMI:

“Mahasiswa turun ke “kota” karena terdapat “bandit bandit PKI Soekarno-Soebandrio” yang sedang menteror penduduk, merampok kekayaan rakyat dan mencemarkan wanita-wanita terhormat. Mahasiswa ini menantangnya berduel dan menang. Setelah ia menang ia balik lagi ke bangku-bangku kuliah, sebagai mahasiswa yang baik. Ia tidak ingin mengeksploitir untuk dapat rezeki-rezeki.”

luar biasa. sebenarnya ini merupakan esensi yang luar biasa jika para aktivis pergerakan mahasiswa itu mengerti betul esensi ini.
tapi jika kita lihat kenyataannya, para mantan aktivis-aktivis pergerakan mahasiswa itu yang dulunya begitu keras mengecam penguasa dan wakil rakyat, ketika umur sudah bertambah dan ada kesempatan, malah menjadi bagian dari kekuasaan dan wakil rakyat. artinya, malah menjadi bagian dari politik praktis pemerintahan. sebenarnya hal ini bukanlah hal yang haram, bukan hal yang tabu, tapi menurut saya adalah sebuah bentuk penghianatan atas semangat pergerakan mahasiswa yang dulu dipegang. sekali lagi, kemunafikan manusia terlihat.

Gie menjelang akhir hidupnya sampai-sampai mengirimkan Bedak dan Pupur kepada para kawan-kawan perjuangan pergerakan mahasiswa angkatan 66 yang selanjutnya duduk tenang menjadi wakil-wakil rakyat. “Agar mereka bersolek didepan penguasa”.

ironis, namun itulah yang terjadi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s