Menegakkan Demokrasi Tanpa Melanggar Ajaran Agama

Saya merasa agak terganggu dengan tweet-tweet dari salah satu aktivis Kompak yang menyerang seorang Menteri karena sang Menteri (yang juga memiliki twitter) tidak mau mengucapkan selamat hari raya kepada umat agama lain. Sang aktivis menyerang sang Menteri dan menganggap hal yang dilakukan sang Menteri merupakan preseden buruk yang seharusnya tidak dilakukan oleh seorang menteri di negara demokrasi. Si Aktivis menganggap hal ini mengganggu demokrasi yang diperjuangkan sebelas tahun yang lalu (oh ya, kalau tidak salah si Aktivis juga merupakan aktivis 98).

Padahal sang Menteri hanya melaksanakan perintah agama yang memang melarang muslim untuk mengucapkan selamat hari raya atau menghadiri perayaan hari raya agama lain. Tapi si Aktivis beranggapan bahwa menyatakan bahwa hanya mengucapkan selamat hari raya saja tidak akan mengurangi kadar “orang sholeh”. Dan mengucapkan selamat hari raya bukan berarti menjadi bagian dari agama tersebut. Dan dia pun terus mengecam sang Menteri karena menganggap itu mencederai demokrasi Indonesia.

Jujur saja, saya merasa terganggu dengan pemikiran dan kata-kata si Aktivis tentang hal ini. Saya lalu bertanya-tanya, apakah pelaksanaan demokrasi harus mengorbankan diri kita dengan melanggar perintah agama? Apakah demokrasi harus ditunjukkan dengan mengucapkan selamat hari raya kepada umat agama lain walaupun hal tersebut dilarang agama kita sendiri?

Masalah muslim dilarang mengucapkan selamat hari raya kepada umat agama lain sudah disepakati oleh sebagian besar ulama mengharamkan umat Islam mengucapkan selamat natal. Alasannya, ketika mengucapkan seperti ini berarti seseorang itu setuju dan ridho dengan syiar kekufuran yang mereka perbuat. Ibnul Qoyyim dalam kitabnya Ahkamu Ahlidz Dzimmah mengatakan bahwa ucapan selamat hari raya kepada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada Salib, bahkan perbuatan seperti ini lebih besar dosanya di sisi Allah. Anda bisa membaca lengkapnya dari salah satu referensi yang saya peroleh: http://www.pusdai.com/konsultasi/35-konsultasi/745-mengucapkan-selamat-natal-boleh.html

Lalu kalau boleh mengira-ngira, menurut saya masalah demokrasi yang dimaksudkan si Aktivis ini mungkin masalah kebebasan beragama dan menghormati antar umat beragama. Islam tidak melarang kebebasan beragama. Nabi Muhammad bahkan memerintahkan umat Islam untuk menghormati keyakinan agama lain. Tapi apakah menghormati tersebut harus dengan mengucapkan selamat hari raya? Saya kira tidak. Menghormati berarti tidak melecehkan bukan? Nah, bagi saya, yang terpenting kita tidak melecehkan atau merendahkan agama lain, itu sudah merupakan salah satu bentuk menghormati agama lain tersebut. Lalu, mengapa untuk melaksanakan demokrasi kita harus mengucapkan ucapan selamat hari raya kepada agama lain padahal hal tersebut jelas-jelas sudah dilarang oleh ulama-ulama yang mengetahui masalah agama?

Apakah demokrasi harus mengorbankan ajaran agama?

Tentu saja tidak. Demokrasi kita menghormati ajaran agama. Di Pancasila saja, masalah kepercayaan (Ketuhanan) ada di sila pertama. Berarti, dasar negara kita saja menghormati agama. Tentu, kita sebagai manusia beragama juga harus menghormati ajaran agama kita sendiri dan melaksanakannya. Jadi, hal yang dilakukan oleh sang Menteri menurut saya merupakan hal yang benar (dari kacamata saya sebagai seorang muslim) dan hal yang wajar (dari kacamata saya sebagai manusia Indonesia yang menjunjung demokrasi). Wajar? Ya, karena kita harus mengerti bahwa seorang menteri pun seorang manusia biasa yang harus taat menjalankan ajaran agamanya. Jadi mengapa sang Menteri harus dikecam? Toh demokrasi pun dapat ditegakkan tanpa melanggar ajaran agama. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s