Sejenak Berhenti Berlari, Lalu Merefleksi Apa Yang Sudah Terjadi

Barusan sholat Jum’at. seperti biasa, saya jum’atan di Fakultas Psikologi, gedung H lantai 4. Saya datang jam setengah dua belas, sengaja biar bisa didepan, biar enak sholatnya. nah, abis wudhu, saya baca dulu tuh selebaran khas yang isinya renungan Jum’at gitu. dan yang kali ini saya baca cukup menarik perhatian saya.Awalnya kita akan diajak menyimak si kecil Adi, yang mengingatkan kita ketika kecil. Si kecil Adi ini bermain bola, berlari-lari mengejar bola, lalu terjatuh, bangun dan berlari lagi, terjatuh lagi, lalu bangun dan berlari lagi seakan tidak merasakan sakit akibat jatuh berkali-kali di tanah. Baru ketika dia selesai bermain, dia mengeluh kesakitan dan diobati ibunya dengan kasih sayang. Si kecil Adi ini heran lalu bertanya kepada ibunya,
“Ma, kok tadi pas lari-lari aku gak ngerasain sakit ya walaupun jatuh?”
Sang Ibu hanya tersenyum sambil terus mengobati luka di kaki Adi.

Pernah gak merasa begitu? kita terluka tetapi gak merasakan sakitnya sehingga kita terus beraktifitas, baru setelah aktifitas kita selesai, sakit baru dirasakan. Tulisan yang saya baca ini lalu mengkaitkannya dengan diri kita, jiwa kita, dan apa yang kita lakukan sehari-hari. tahukah kita bahwa sebenarnya jiwa kita terluka karena perbuatan dosa yang kita lakukan? tentu kita tidak merasakannya.

Lalu saya teringat dengan ajaran yang saya dapatkan di kelas MPK Agama. Persis seperti tulisan yang saya baca barusan. Waktu itu dosen saya berkata begini, “Coba sekali-sekali kalian bangun tengah malam, dalam kesunyian, lalu coba renungkan hidup kita. tentang apa yang pernah kita lakukan. Di saat sunyi seperti itu, apalagi dalam keadaan gelap, maka yang akan keluar adalah apa yang ada dalam jiwa kita. Ketika kita merenung sendirian dalam kesunyian seperti itu, yang akan kita rasakan adalah apa yang dialami jiwa kita. Jika kita sering berbuat dosa, maka akan ada penyesalan yang terasa, dan itulah bagian dari sakit yang dirasakan jiwa kita karena perbuatan yang telah kita lakukan.”

Dosen saya juga berkata bahwa ketika kita beraktifitas seperti biasa, maka jiwa kita akan terkungkung dan tidak bisa keluar. Jadi, kita tidak pernah mengetahui bagaimana sebenarnya yang dirasakan jiwa kita. Karena itu, sesekali biarkanlah jiwa kita keluar, dengan cara sholat, atau menyendiri dalam suasana sepi. Karena saat seperti itulah jiwa kita baru bisa keluar dan kita dapat merasakan apa yang dirasakan jiwa kita..

Advertisements

4 thoughts on “Sejenak Berhenti Berlari, Lalu Merefleksi Apa Yang Sudah Terjadi

  1. terima kasih udah berkunjung kemari! maaf belum bisa kunjungan balik karena internet di kos lagi lemot parah, jadi nunggu ke kampus dulu. hehehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s