Kemarin Sore

Pernahkah Anda merasa tidak bisa mengungkapkan sesuatu yang ada di hati Anda? Saya merasakannya saat ini. Ternyata menulis memakai hati dan otak itu tingkat kesulitannya berbeda.
Sebenarnya saya ingin sekali menulis tentang seorang gadis bernama Maulida Fitriani. Orangnya biasa saja, sama seperti gadis lain, baik dari segi fisik maupun sikap. Tetapi entah kenapa semuanya menjadi berbeda ketika sebuah hal absurd bernama cinta masuk dan memainkan peranan penting. Semuanya menjadi tampak berbeda bagi saya. Dan mungkin juga bagi Anda, ketika Anda mencintai seorang gadis yang sebenarnya jika dilihat secara objektif, biasa saja.
Saya melihatnya sebagai sosok yang luar biasa. Saya melihatnya sebagai kesempurnaan. Saya melihatnya sebagai pasangan ideal bagi saya. Saya melihatnya sebagai penyeimbang dalam kehidupan saya. Dan saya melihatnya sebagai, errr, katakanlah, masa depan. Padahal jika dilihat dengan objektif, sebenarnya dia biasa saja. Lalu apa yang membuatnya menjadi tidak biasa bagi saya? Karena saya mencintai dia.
Ketika melihat kebelakang, ternyata ada banyak hal yang telah dilakukannya buat saya, namun tidak saya sadari. Sebenarnya bukan tidak saya sadari, tetapi kurang saya hargai. Ketika posisi saya sudah di depan lalu melihatnya di belakang, maka saya baru menyadari, betapa luar biasa yang sudah dia lakukan buat saya, namun saya kurang menghargainya. Akhirnya yang timbul adalah perasaan bersalah dan sebuah penyesalan. Dan sebuah tekad untuk terus membuatnya bahagia.
Sebenarnya apa yang membuat saya ingin melihat kebelakang? Saya tiba-tiba melihat kebelakang karena ada perasaan kehilangan. Sebenarnya bukan hanya saya yang bisa melakukan hal itu, hampir semua orang ketika ada perasaan kehilangan, maka yang dilakukan adalah mengenang, lalu baru menyadari betapa berharganya sesuatu yang hilang itu. Begitu juga yang terjadi dengan saya, kemarin.
Tiga hari yang menyenangkan di Depok, kehadirannya seperti mengubah hidup saya yang terbiasa menyendiri. Hidup rasanya berbeda, penuh senyuman, seakan tak ada beban. Lalu ketika dia akhirnya melangkahkan kaki ke dalam bus, saya langsung merasa ada sesuatu yang hilang. Hidup kembali berubah menjadi kenyataan, menjadi sesuatu yang harus saya hadapi sendirian. Saya benar-benar kehilangan, sehingga akhirnya saya terpaksa menengok ke belakang untuk ‘melihatnya’ dalam kenangan singkat kami.
Aneh, saya kehilangan dari segi fisik, bukan dari dalam hati. Namun pengaruhnya begitu hebat sampai membuat saya seperti ini. Cinta? Yah. Mungkin dia memegang peranan penting. Sebuah hal absurd yang tidak saya mengerti.
Seperti postingan saya ini. Absurd, saya sendiri tidak mengerti apa yang saya tulis. Saya hanya tau, saya cinta dia. Kemarin, hari ini, dan mungkin untuk esok hari.
Advertisements

One thought on “Kemarin Sore

  1. Sebenarnya apa yang membuat saya ingin melihat kebelakang? Saya tiba-tiba melihat kebelakang karena ada perasaan kehilangan. Sebenarnya bukan hanya saya yang bisa melakukan hal itu, hampir semua orang ketika ada perasaan kehilangan, maka yang dilakukan adalah mengenang, lalu baru menyadari betapa berharganya sesuatu yang hilang itusaya suka kata2… saya juga merasakan hal yang demikian……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s