Gender

Saat ini saya sedang di dalam kelas Sistem Politik Indonesia, dengan dosen yang susah dimengerti dan cuek sehingga saya bisa dengan enaknya ngenet menggunakan wireless kampus. Hehehehe..
Tapi bukan masalah dosen yang gak saya mengerti ini (walaupun ternyata dia ketua dosen SPI) yang mau saya bahas. Ada yang menarik di kelas ini, dan menggelitik saya untuk menulis masalah ini di blog. Setelah post-post sebelumnya mungkin rada absurd (karena saya emang lagi latihan nulis berita soal musik dan sepakbola), mungkin post kali ini bisa sedikit dimengerti.
Ada seorang cowok, teman saya seangkatan di Komunikasi, teman saya sekelas di kuliah SPI ini juga yang menggunakan kaos warna pink cerah ceria. Oke, mungkin kita sudah biasa melihat cowok menggunakan pakaian warna pink di luar sana, tetapi tidak di sini. Yang terjadi kemudian adalah: olok-olok dari teman-teman sekelas. Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa di kehidupan sehari-hari, sikapnya memang “feminim”. Dia sudah cukup lama menjadi “ikon” dari cowok yang tidak “cowok”. Entah dia menyadarinya atau tidak, atau malah justru sengaja agar label itu tetap melekat di dirinya.
Saya pernah belajar mengenai hal ini di Pengantar Sosiologi dan Sistem Sosial Indonesia, mengenai Gender. Di kuliah tersebut dijelaskan bahwa hal-hal yang menjadi “dasar” dari penilaian orang mengenai gender biasanya dibentuk oleh orang tua sejak kita masih kecil. Misalnya laki-laki identik dengan warna biru, perempuan identik dengan warna pink; mainan laki-laki biasanya yang sangar-sangar seperti perang-perangan, mobil-mobilan, dan lain-lain sedangkan mainan perempuan biasanya yang bersifat keibuan seperti boneka, masak-masakan dan lain-lain. Jadi sebenarnya sejak kecil kita sudah dibentuk sebuah pola pikir mengenai perbedaan gender antara laki-laki dan perempuan.
Lalu ketika ada perilaku seperti teman saya tadi, mengapa dianggap menyimpang? Tentu saja ketika kita sudah mempunyai pola pikir seperti yang dibentuk sejak kita kecil, yang tidak sesuai dengan pola pikir kita dianggap sebagai perilaku menyimpang. Padahal, di zaman yang sudah semakin absurd ini (saya menyebut absurd karena ada banyak hal yang tidak masuk di akal -_-“), sebenarnya apa yang terjadi pada teman saya itu sah-sah saja dan merupakan kebebasan dia untuk mengekspresikan apa yang ia suka melalui sikap, perilaku, bahkan pakaiannya. Tetapi, ketika harus berbenturan dengan sebuah stereotipe yang sudah terbentuk sejak dulu dan dianut oleh sebagian besar orang di dunia, maka harus dimaklumi jika ada nada-nada miring mengenai sikapnya. Itu adalah hal yang wajar, dan menurut saya memang harus dia hadapi jika dia tetap ingin mempertahankan apa yang dia pegang selama ini.
Tapi jujur saja, saya sendiri juga kaget sekaget-kagetnya tadi.
Dan……………………………………………………… Man in SHOCKING PINK itu memang, errrr…. (maaf), disgusting.
Hehehehe… Kabur ah!
Advertisements

5 thoughts on “Gender

  1. lah bukannya kuliah malah posting blog, mana pake acara kabur segala ngeliat cowo pake baju pink, ati2 nanti dikejar ama dia loh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s