Indonesian National Orchestra

Menggabungkan alat-alat musik tradisional dari seluruh Nusantara lalu membentuknya menjadi sebuah kelompok orkestra? Sepertinya hanya Franky Raden yang memiliki obsesi besar seperti itu.
Dan Franky Raden (57), seorang ethnomusikolog dan komposer jenius yang pernah menjadi Associate Professor di York University, Toronto, Kanada, ‘mendeklarasikan’ obsesinya tersebut ke hadapan orang banyak pada 12 Mei yang lalu, di gedung Sapta Pesona Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata RI. Saya pribadi sebetulnya tidak menonton pagelaran ini, bahkan baru tahu setelah melihat liputan di TVOne semalam setelah selesai menonton Spanyol vs Arab Saudi. Hehehe..Disebutkan blog Indonesia Proud, lebih dari 50 instrumen yang merupakan alat-alat musik tradisional daerah-daerah di Indonesia dimainkan dalam satu kesatuan layaknya kelompok orkestra khas Barat. Saya kutipkan paragraf berikut dari Bataviase.co.id:

Komposisi instrumennya mirip orkestra Barat. Bagian string diwakili oleh rebab Betawi untuk menjangkau nada tinggi. Nada rendah diwakili oleh rebab Bali, yang dibuat khusus oleh seniman Bona Alit. Rebab ini bentuknya raksasa, dengan tinggi gagang fingering-nya sekitar 2 meter. Begitu juga alat tiup dan perkusi. Setiap instrumen mewakili format orkestra dasar seperti di Barat.

Luar biasa bukan? Di INO ini sendiri ada tiga orang local genius yang menciptakan alat musiknya sendiri demi menciptakan musik yang diinginkan. Ketiga orang tersebut adalah Anusirwan (Sumatera Barat) yang membuat rebab besar dan perangkat perkusi metalofon baru, Bona Alit (Bali) yang membuat rebab raksasa, dan I Nyoman Windha (Bali) membuat jegog raksasa. Rebab yang dibuat Bona Alit (Bali) misalnya, bentuknya raksasa, dengan tinggi gagang fingering-nya sekitar 2 meter. Bisa dibayangkan sendiri bagaimana repotnya membuatnya.

Alat-alat musik tradisional yang dimainkan dalam Orkestra INO ini sendiri benar-benar seperti mencerminkan “Bhinneka Tunggal Ika”-nya Indonesia. Dari alat musik petik ada sasando dari Nusa Tenggara Timur, kecapi Sunda, guzheng dari China, hasapi dari Tapanuli. Dari alat tiup terdengar serunai dari ranah Minang, suling gambuh Bali. Dari jenis perkusi ada kolintang, rebana, taganing, selunding, reong, kendang, sampai beduk. Ada pula kelompok gesek, mulai dari rebab, tarawangsa dari musik Sunda, hingga kong ahyan.


Franky Raden sendiri dengan bersemangat berkata, ““Bila dalam ujicoba orchestra musik tradisional ini berhasil, kita akan menjadi negara pertama di dunia yang memiliki national orchestra yang berbeda dengan orchestra musik umumnya selama ini yang bersumber dari barat,” seperti saya kutip dari blog IndonesiaProud.

Ada tiga hal yang mendasari Franky Raden untuk mendirikan INO. Yang pertama adalah estetika. Indonesia memiliki keragaman budaya yang luar biasa yang juga mampu menghasilkan estetika musik yang luar biasa. Yang kedua adalah bisnis. Menurut Franky Raden, INO, yang bisa dibilang sebagai orkestra tradisional pertama di dunia memiliki peluang bisnis yang sangat besar karena keunikannya hanya ada satu di Indonesia saja. Peluang dari segi bisnis ini nantinya dapat menghidupi para pelaku musik di dalam INO ini. Selain itu, ada peluang untuk menambah devisa juga bukan?

“Saya berharap INO menjadi wadah bagi para pemusik Indonesia yang kreatif dan jenius untuk tampil berlaga dalam gedung-gedung konser yang bertebaran di benua Eropa, Amerika, dan Asia-Pasifik,” katanya.

Dan yang ketiga adalah politik. INO dapat menjadi ujung tombak Indonesia untuk mengimbangi pengaruh negara-negara Barat yang melebarkan posisi powernya dengan budaya. Tidak bisa dipungkiri lagi, bahwa Indonesia dan seluruh dunia pada umumnya sudah ter-Amerika-isasi sekali bukan? Dari film, musik, bahkan gaya hidup pun sudah sangat Amerika. Nah, INO diharapkan bisa menjadi ujung tombak Indonesia untuk mengimbangi hal tersebut. Seperti apa yang dikatakan oleh Immanuel Wallerstein jauh-jauh hari, kegiatan budaya dewasa ini sudah menjadi arena dari pertarungan ideologi di panggung internasional.

“Keberadaan INO ingin memposisikan diri sebagai bentuk pertahanan dan perlawanan terhadap kekuatan dominasi dari luar yang setiap saat siap membuat kita menjadi tergantung kepada mereka khususnya ketergantungan dari musikal dan budaya,” kata Franky Raden.

Tidak bisa dipungkiri bahwa performance INO yang pertama kalinya pada 12 Mei yang lalu merupakan sebuah embrio karena masih banyak kekurangan di sana-sini. Saya kutipkan dari Bataviase:

Persoalan mengadopsi lagu Barat dalam permainan alat musik etnik sungguh rumit. Pemain yang terlibat sebagian besar adalah maestro-maestro musik di bidangnya. Mereda tentu tak bersahabat dengan konsep musik tonal pada alat yang dikuasainya. Mereka harus memainkan lagu klasik dengan tangga nada diatonis tanpa mengubah sis-tem nada pada alat pentatonis. Secara teknik memang sangat mungkin dilakukan, lapi pemain akan sangat kesusahan untuk mem-praktekkannya karena mereka harus mencari sendiri padanan nada itu, yang membuat letak penjarian menjadi tak beraturan. Hasilnya? Tak bisa dimungkiri, repertoar gubahan ini terdengar sangat terbata-bata. Teknik permainan yang sangat sulit menjadikan setiap kalimat melodi tak bersih dimainkan.

Namun menurut saya pribadi, masalah utama hanyalah waktu. Perlu diketahui bahwa INO secara keseluruhan hanya berlatih kurang lebih selama 3 bulan. Itupun dengan kondisi terpisah-pisah. INO baru berlatih menggabungkan instrumen hanya dalam waktu 12 hari. Dengan kondisi banyaknya instrumen yang berbeda jenis dan berbeda budaya, tentu sangat sulit bukan untuk menyatukannya hanya dalam waktu yang sangat singkat?

Namun tentu INO menjadi salah satu tumpuan besar kita ke depannya, agar musik tradisional Indonesia dapat lebih dikenal di Internasional. Dunia juga harus mengetahui bahwa yang tradisional dan menjadi ciri khas dari Nusantara kita tercinta tidak hanya batik atau musik gamelan yang memang sudah mendunia. INO dapat menjadi tumpuan bagi Indonesia untuk memperkenalkan kepada Dunia, bahwa masih sangat banyak alat musik tradisional khas Indonesia.

sumber: Bataviase, Indonesia Proud, Warta Jazz, Kompas Cetak, Kaskus.
Foto-foto: IndieNesia

Advertisements

3 thoughts on “Indonesian National Orchestra

  1. sama mas, saya juga kepengen. mudah2an gak terlalu lama lagi lah. tapi sekarang biarkan pada latihan dulu. biar tambah ciamik!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s