Menghargai Orang Lain

Alkisah pada suatu hari, saya mempunyai sedikit uang berlebih. Hal ini cukup jarang terjadi dalam hidup saya, mengingat keadaan keuangan saya memang cukup memperhatinkan. Hari itu saya yang biasanya stuck dengan masakan warteg, ingin memberikan sedikit “kemewahan” bagi hidup saya: makan-makan di tempat enak bersama teman-teman.

Saya adalah orang yang jarang makan di restoran mahal dengan harga makanan yang tidak sebanding dengan volume dan rasa makanan yang disajikan. Tetapi hari itu saya menyerah dengan nafsu dan bujuk rayu ‘setan-setan’ yang mengajak saya makan-makan, sedikit senang-senang diakhir pekan. Walaupun saya jarang makan dan dilayani oleh pelayan di restoran ternama, saya senang memperhatikan bagaimana orang-orang yang juga makan di restoran tersebut berperilaku. Mulai dari hal yang remeh temeh seperti bagaimana mereka meletakkan dompet atau handphone di atas meja, dan bahkan memperhatikan bagaimana raut muka mereka saat berinteraksi dengan pelayan. Nah, hal yang terakhir ini yang kadang-kadang bikin saya berpikir sendiri, dan mungkin jarang diperhatikan orang padahal sebenarnya cukup penting.

“Kalau ingin dihargai orang lain, maka hargailah orang lain,”

Itu kalimat yang sering kali diucapkan dan menjadi nasihat dari puluhan juta masyarakat Indonesia. Saya sendiri sudah hapal dengan kalimat itu, atau “modifikasinya” seperti “Kalau ingin disayang orang lain, maka sayangilah orang lain.. bla bla bla” dan lainnya. Intinya sama, ketika kita melakukan hal positif bagi orang lain, maka percayalah kita akan diperlakukan positif juga oleh orang lain. Dan sebaliknya. Ini adalah hal yang sangat simpel. Tapi apakah kita telah melakukannya? Mungkin belum. Mungkin hal yang terlihat simpel belum tentu mudah dilakukan, karena manusia memang pada dasarnya kompleks.

Oke, kembali ke masalah makan-makan di restoran. Hari itu jadilah saya dan beberapa teman baik makan-makan di sebuah restoran yang ternama dan bisa Anda temukan di mall-mall besar di Jakarta. Nah, seperti biasa, saya memperhatikan para pengunjung yang makan-makan di sana, baik yang bersama keluarga, teman-teman, dan kolega kerja. Eh, entah itu rekan kerja atau selingkuhan. Apa ada rapat kerja berdua sambil suap-suapan? *nyengir*

Beberapa saat setelah saya memesan, seorang bapak-bapak dengan gaya perlente masuk restoran lalu duduk di sebuah meja, tak jauh dari meja saya dan teman-teman. Baru duduk saja gayanya sudah bikin gak enak hati.

“Mbak, saya mau mesen! Aduh, lelet banget sih..” dengan gaya sombong dan suara yang dikeras-keraskan (Ingin membuat pelayan restoran malu, Pak?)

“Minta nasi goreng, Mbak. Yang paling spesial ya. Pokoknya saya mau yang paling enak. Minumnya saya mau kahlua” Lagi-lagi sombong.

“Baik pak, satu nasi goreng spesial dan kahlua ya, Pak.” si pelayan wanita (saya berani sumpah pelayan yang ini cantik sekali) mencatat pesanan si Bapak-perlente-dan-menyebalkan.

“Yang cepet! Jangan lelet-lelet kayak jalan kamu tadi!” Oke, sampai disini, apakah Anda menyadari betapa menyebalkannya orang ini? Satu hal yang harus dicatat disini: Orang ini memesan dengan nada memerintah! Persis seperti nada menyuruh budak. Bisa dibayangkan? Orang ini datang, berkata dengan kasar, dengan nada memerintah pula. Ini mungkin tidak diperhatikan dengan jeli oleh orang lain di ruangan itu, namun saya memperhatikan betul detail-detail seperti ini. Dan hal-hal yang dianggap remeh temeh seperti ini yang justru sering membuat saya berpikir. Dan saat itupun saya kemudian berpikir, bagaimana ya perasaan si pelayan diperlakukan seperti itu oleh si Bapak menyebalkan ini?

Bagaimana jika KITA yang terbiasa menjadi konsumen yang berada di posisi si pelayan?
Saya yakin, tentu sakit hati bukan? Hal yang terjadi dalam cerita saya ini tidak hanya terjadi pada saat itu saja. Saya yakin banyak hal seperti ini terjadi. Bagaimana kita sebagai konsumen seringkali kurang menghargai pelayan-pelayan seperti si mbak pelayan yang cantik dalam cerita saya di atas.

Lebih umum lagi, kita (harus diakui) seringkali kurang menghargai orang lain.
Padahal menghargai orang lain tidak perlu dengan melakukan hal yang ribet dan sulit kok. Pembeli memberi senyum dan mengucapkan terima kasih kepada pelayan, berucap dengan kata-kata yang baik kepada orang lain, bahkan dengan orang yang tidak seberuntung kita, dan tidak memposisikan diri kita lebih tinggi daripada orang lain. Hal yang simpel bukan?

Sebenarnya sama saja seperti bagaimana kita lebih merasa nyaman dan senang jika membeli sesuatu di tempat yang penjualnya ramah dan gemar tersenyum, atau paling tidak mengucapkan terima kasih kepada pembeli dan memperlakukan pembeli dengan baik. Anda pasti merasa nyaman jika membeli barang di tempat seperti itu bukan?

Nah, karena kita senang dengan perlakuan yang baik, mengapa kita tidak memperlakukan orang lain dengan baik juga? Mengapa kita tidak belajar memposisikan diri kita dalam diri orang lain, agar kita bisa memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan?

“Kalau ingin dihargai orang lain, maka hargailah orang lain….”

 

Advertisements

One thought on “Menghargai Orang Lain

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s