Obama Dan Pembiusan Massal

“Pulang kampung, nih!” ucapnya.

Ucapan itu keluar bukan dari mulut mahasiswa perantau yang sudah lama tak pulang kampung seperti saya, ucapan itu keluar secara fasih dari mulut seorang Presiden sebuah negara adidaya bernama Amerika Serikat, Barack Obama, di panggung Balairung Universitas Indonesia. Tak pelak ucapan itu langsung disambut oleh tepuk tangan dan gelak tawa dari ribuan orang yang hadir di Balairung pagi ini, dan juga puluhan ribu lainnya yang menyaksikan secara langsung via televisi. Ya, Barack Obama dengan fasihnya mengucapkan beberapa kata dalam bahasa Indonesia, bercerita tentang detail kondisi Jakarta dari sudut pandangnya saat ia tinggal selama empat tahun disini, dan bahkan menarik hati kita semua dengan mengatakan, “Indonesia bagian dari saya.” dalam bahasa Indonesia.

Barack Obama memang telah Indonesia (terutama fans-fansnya tentu :D) tunggu kehadirannya sejak lama. Statusnya sebagai presiden sebuah negara adidaya ditambah faktor sejarah ia pernah tinggal di Indonesia dan pernah memiliki seorang ayah warga negara Indonesia membuat masyarakat kita memiliki simpati kepada dia, sesuatu yang tentu tidak kita miliki kepada George W. Bush.

Faktanya, ditengah isu media yang masih berputar di sekitar bencana Mentawai dan Merapi, kedatangan dia tiba-tiba menenggelamkan isu bencana tersebut. Isu masyarakat pun berpindah dari isu mengenai Merapi kemudian malah membicarakan Obama. Sekali lagi, rasa simpati ditambah faktor “keterikatan sejarah” plus statusnya sebagai presiden Amerika Serikat membuat orang berlomba-lomba membicakannya, sehingga membuat orang banyak sedikit terlupa akan nasib korban Merapi.

Indonesia heboh. Beberapa media seperti Tempo Interaktif bahkan menyebutkan “Obama Pulang”. UI sebagai salah satu tempat yang dikunjungi juga ikutan heboh. Saya misalnya, diliburkan pada hari Selasa-Rabu untuk proses sterilisasi kampus. Bahkan sejak hari senin, kampus sudah dipenuhi polisi dan tentara bersenjata serta panser-panser mulai datang dan parkir di sekitar Balairung. Sejak senin juga pintu-pintu samping seperti Pocin, Kutek, Kukel, ditutup dan semua kendaraan harus masuk lewat Gerbatama. Intinya, UI heboh.

Di pidatonya tadi pagi, saya melihat Obama lebih banyak berusaha menarik hati audience dengan cara bercerita masa kecilnya di Indonesia, mengucapkan kata-kata dalam bahasa Indonesia secara fasih, dan memuji-muji bagaimana Indonesia mempersatukan perbedaan-perbedaan. Ia tercatat dua kali mengucapkan “Bhinneka Tunggal Ika, Unity in Diversity.” Ia juga mencontohkan bagaimana Masjid Istiqlal dibangun oleh seorang Kristen dan berdampingan dengan gereja katedral. Ia terlihat sekali berusaha menarik hati bangsa kita, dan saya kira ia berhasil.

Jujur saja, saya mengagumi bagaimana ia berbicara lugas, jelas, dan dengan bahasa tubuh yang menarik. Ia tak kaku seperti SBY, dan kharismanya sebagai presiden terlihat jelas pagi ini. Kharisma yang luar biasa.


Padahal secara isi pidato, tak ada hal baru yang ia bawa. Namun, sekali lagi, ternyata dongeng lebih menarik daripada realita. Secara tidak langsung, saya melihat bagaimana masyarakat kita menganggap dia lebih seperti selebriti dan idola daripada seorang pemimpin negara. Hal ini terlihat ketika dia secara spontan menyalami audience di barisan terdepan setelah turun dari panggung. Lima menit ia bersalaman, memberikan tanda tangan, tersenyum dan menyapa banyak orang disana. Padahal, menurut Putra Nababan, reporter RCTI, sebelumnya Secret Service (SS), paspampres-nya AS, telah mewanti-wanti Obama untuk tidak bersalaman dengan orang banyak. Saya anehnya bahkan sampai merinding melihatnya. Sekali lagi, ia menarik hati banyak orang dengan aksinya tersebut.

Garis waktu (timeline) di twitter saya dipenuhi pujian kepada Obama, bagaimana public speaking dia yang luar biasa, bagaimana kharismanya yang menarik hati, dan bagaimana aksinya yang benar-benar menarik simpati. Raditya Dika bahkan men-tweet seperti ini: “Most presidents win votes. This one, he wins hearts.”

Terlepas dari maksud kedatangannya dan isi pidatonya yang standar tersebut, jujur saya menjadi salah satu yang “tiba-tiba” mengagumi Obama. Kharismanya benar-benar menarik hati. Tiba-tiba saya berpikir, ah, semoga tindakannya untuk menyelamatkan dunia juga seindah retorikanya pagi ini.


Selamat Obama, Anda berhasil membius kami semua. Semoga Anda benar-benar bisa memberikan perubaha di dunia ini. *nyengir*

p.s. Foto-foto dimuat ulang dari Kompas.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s