PSSI Yang Terbelakang

Sebenarnya, saya kasihan dengan PSSI. Bukan hanya karena memiliki pemimpin yang dikenal sebagai koruptor. Juga bukan hanya karena mereka terus menjadi sasaran hujatan masyarakat pecinta sepakbola Indonesia. Satu alasan yang membuat saya semakin merasa kasihan dengan PSSI adalah: kenyataan bahwa asosiasi sepakbola yang diakui oleh FIFA ini ternyata terbelakang.

Keterbelakangan PSSI ini sangat terlihat ketika panitia lokal yang mereka bentuk ternyata tidak mampu mengurusi penjualan tiket Piala AFF nan tersohor itu. Satu hal yang selalu saya pertanyakan, mengapa sistem penjualan tiket secara online tidak pernah dicoba dimaksimalkan? Seperti yang kita ketahui, dunia online dewasa ini sudah akrab dengan kehidupan sehari-hari sebagian masyarakat Indonesia. September 2010 lalu bahkan diketahui bahwa pengguna Facebook di Indonesia menembus peringkat tiga besar dunia, di bawah Amerika Serikat dan Inggris. Tidak ada alasan untuk tidak memaksimalkan penjualan tiket secara online dalam gelaran Piala AFF yang menyedot perhatian seluruh negeri. Tetapi, ketua panitia lokal Piala AFF 2010 yang juga merupakan CEO Badan Liga Indonesia, Joko Driyono berpendapat lain. “Sistem pembelian tiket melalui online memang belum populer di masyarakat. Penjualan terbesar kemungkinan masih didapat dari penjualan langsung lewat loket-loket yang sudah disediakan,”(Vivanews.com, 1 Desember 2010). Kasihan. Mungkin orang yang lama menjadi antek Nurdin Halid ini tidak mengetahui realitas di masyarakat saat ini.

Sistem ticketing online belum terlalu populer? Mari kita berkaca pada event jenis lain yang juga menyedot banyak orang. Musik. Event musik di Indonesia, Jakarta utamanya, semakin banyak. Seiring dengan hal itu, sistem ticketing online makin tumbuh dan berkembang. Sebut saja gelaran akbar Java Jazz Festival. Event jazz kelas dunia ini selalu menyediakan penjualan online, bahkan sejak sekitar enam bulan sebelum acara atau yang dikenal dengan early bird. Lalu mari berkaca pada apa yang dilakukan oleh JavaMusikindo. Salah satu promotor musik besar di tanah air ini juga selalu menyediakan sistem online, bahkan memaksimalkannya. Selain itu, mereka juga bekerja sama dengan “ticketbox online” seperti Raja Karcis (www.rajakarcis.com) atau situs lain yang juga menyediakan layanan online ticketing seperti Jakarta Concerts (www.jakartaconcerts.com).

Satu hal yang perlu dicatat, event musik yang dibuat oleh JavaMusikindo biasanya hanya menampung penonton sekitar 5000 hingga 7000 orang. Nah, jika sebuah event musik yang hanya menampung sekitar 7000 orang saja membutuhkan sistem online yang jelas-jelas lebih ringkas, hemat, dan teratur, kenapa PSSI dan LOC yang menggelar event yang melibatkan sekitar 76.871 penonton (mengacu pada jumlah tiket yang dijual untuk babak final) tidak mau memaksimalkan sistem penjualan tiket secara online?

Ya, mereka memang bekerja sama dengan ticketsas.com yang berasal dari MALAYSIA untuk melakukan penjualan tiket online, tetapi dua hal yang harus dicatat mengapa sistem ini tak terlalu ramai digunakan. Pertama, ketidakjelasan informasi dan juga kurangnya sosialisasi. Jujur saja, saya tak banyak membaca penjelasan mengenai bagaimana caranya untuk membeli tiket online di ticketsas.com. Bahkan banyak orang yang saya tanya tidak mengetahui jika tiket bisa dibeli secara online. Kedua, kenyataan bahwa pembelian di ticketsas.com itu menggunakan kartu kredit. Tidak semua orang memiliki kartu kredit, entah karena enggan atau karena memang tidak mampu untuk mengajukan syarat pembuatannya. Mereka tidak menyediakan sistem pembayaran melalui ATM, yang lebih friendly dengan masyarakat Indonesia pada umumnya. Jadi, bagaimana mau memaksimalkannya jika terhalang seperti itu?

LOC juga memang bekerja sama dengan Raja Karcis, tetapi instruksi yang diberikan sejak pertandingan pertama melawan Malaysia 1 Desember yang lalu, Raja Karcis juga harus menjual secara offline, manual langsung di kantornya. Ketika ditanyakan lewat twitter @rajakarcis, kabarnya panitia lokal tidak terlalu percaya dengan sistem online yang diterapkan oleh Raja Karcis. Panitia lokal bahkan menghentikan kerja sama dengan Raja Karcis mulai gelaran Final. Hal tersebut diketahui dan diumumkan secara resmi oleh twitter @rajakarcis. Dengan pengalaman ricuh ketika menjual semifinal leg kedua kemarin, panitia lokal malah menghentikan kerja sama dengan rekanan yang sebenarnya membantu mengurangi kemungkinan kericuhan di loket Gelora Bung Karno. Mereka memilih menjual sendiri secara manual di loket-loket di Senayan dan hanya menjual secara online tiket-tiket VVIP dan VIP. Mungkinkah mereka berpikir yang bisa melakukan pembelian secara online hanya golongan atas, yang relatif mampu membeli tiket dengan harga VIP? Betapa pintarnya panitia lokal bentukan PSSI ini!

Tambahan lagi, yang mungkin membuat Anda akan semakin yakin betapa terbelakangnya PSSI dan panitia lokal: mereka menghitung semua hasil penjualan tiket tersebut secara manual, yang ternyata menyebabkan mengapa loket di GBK tutup saat Sabtu lalu, yaitu saat menjelang laga Indonesia vs Filipina leg kedua. Joko Driyono bahkan mengatakan, “Jika kami mendapatkan jaringan LAN (Local Area Network) tentunya proses itu tidak akan memakan waktu lebih lama,”

Kasihan sekali PSSI yang memang terbelakang ini.

Advertisements

2 thoughts on “PSSI Yang Terbelakang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s