Untuk Apa Kita Berkonflik Agama? (Mengingat Kembali Surat Al Kafirun)

Tiba-tiba pagi ini saya kembali melihat tulisan/berita yang membahas masalah konflik agama. Dan (lagi-lagi) saya heran dengan orang-orang yang berkonflik ini. Karena saya tiba-tiba juga teringat sebuah surat di Al Qur’an, tepatnya di juz ke 30 yang bernama surat Al Kafirun.

Surat Al Kafirun menurut saya benar-benar memberikan gambaran yang jernih bagaimana seharusnya kita menyikapi konflik agama. Maksud saya, bukan hanya satu potong ayat, tetapi satu surat! Berbeda dengan orang-orang yang melakukan pembenaran atas aksi kekerasannya dengan hanya sepotong-sepotong ayat (seperti yang dilakukan oleh Geert Wilders dengan film pendek FITNA nya), saya melakukan “pembenaran” atas “aksi” saya dengan satu surat. Hehehehe…

Saya mendapatkan potongan-potongan surat ini dari http://al-shia.org/html/id/quran/tafsir/juz30/109.htm. Silakan berkunjung langsung ke sana 😀

Ayat:
1. “Qul yaa ayyuhaa lkaafiruun”
Katakanlah: Wahai orang-orang yang menyangkal kebenaran (kafir)!

2. “Laa a’budu maa ta’buduun”
Aku tidak menyembah apa yang kamu sembah,

3. “Walaa antum ‘aabiduuna maa a’bud”
Dan kamu tidak menyembah apa yang aku sembah

4. “Walaa anaa ‘aabidun maa ‘abadtum”
Dan aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah,

5. “Walaa antum ‘aabiduuna maa a’bud”
Dan kamu pun tidak akan menyembah apa yang akn sembah

6. “Lakum diinukum waliya diin”
Untukmu agamamu dan untukku agamaku!

Catatan: Saya masih belum menemukan caranya mempaste tulisan arab ke sini, jadi di postingan ini saya menggunakan tulisan latin.

Surat tentang apakah ini? Sedikit dari situs yang saya sebut di atas:

Surah ini mengenai sebuah peristiwa ketika beberapa orang kafir berusaha mengadakan dialog dengan Nabi dalam rangka menjatuhkan beliau agar kaum muslim kembali ke kebiasaan lamanya menyembah berhala. Mereka mengusulkan untuk menyembah Allah selama satu tahun, mengikuti ajaran Nabi, dan tahun berikutnya mereka semua, termasuk Nabi dan kaum muslim, menyembah berhala-berhala tradisional mereka. Dengan demikian mereka akan berganti-ganti praktik ibadat sampai salah satu cara terbukti benar pada salah satu pihak. Maka, menurut jalan pikiran kaum kafir, jika ajaran Nabi benar, mereka akan memperoleh keuntungan dari mengikuti ajaran Nabi; tapi, jika praktik kaum kafir benar, maka mereka dan kaum muslim akan mendapat keuntungan dari menyembah berhala-berhala. Surah ini mempakan jawaban dari mereka yang percaya dan beriman kepada mereka yang tidak beriman.

See? Begitu simpelnya jawaban dari Al Qur’an atas peristiwa di atas. Setelah saya membaca ini, saya langsung berpikir; lalu untuk apa mereka saling berkonflik, membuktikan diri mereka yang paling benar dengan cara kekerasan?

Inilah kenapa saya paling malas membaca berita konflik agama atau kekerasan beragama. Kenapa kita tak saling beribadah dengan tenang dan baik tanpa perlu mengganggu satu sama lain? Biarkan saya menjalankan apa yang saya yakini dan silakan Anda menjalankan apa yang Anda yakini. Sumpah, ini simpel! Kenapa kita begitu senang membuat repot diri kita sendiri?

Sekadar renungan, dan sebuah opini biasa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s