Iri

Suatu hari di surga, ketika Adam sedang berjalan-jalan di sana, ia melihat sebuah ukiran yang berbunyi Muhammad. Penasaran dengan itu, ia lalu bertanya kepada Allah tentang siapa Muhammad itu. Ketika dijelaskan bahwa Muhammad merupakan kekasih Allah, yang bisa dibilang sebagai makhluk paling mulia di antara lainnya, dan diciptakan lebih dahulu dibanding iblis, malaikat, dan bahkan alam semesta, ternyata timbul rasa iri dalam diri Adam. Ia iri dengan Muhammad, padahal dulu Allah berkata bahwa ia merupakan makhluk yang paling mulia dibanding makhluk lainnya. Allah mengetahui rasa iri dalam diri Adam, lalu menenangkannya dengan mengatakan bahwa Muhammad akan hadir menjadi manusia nantinya, menjadi salah satu keturunan dari Adam. Dan Muhammad akan menjadi manusia paling “sempurna” di antara manusia lainnya nanti. Mendengar hal itu, Adam pun berbalik merasa bersyukur dan terhormat. Ia bersyukur karena salah satu keturunannya merupakan salah satu makhluk paling mulia di jagat raya. Rasa iri itu hilang perlahan.

Iri ternyata tidak hanya menjadi masalah manusia saat ini. Iri telah hadir bahkan ketika Adam masih belum diturunkan ke bumi. Iri hadir sejak dahulu kala, dan terus menerus ada dalam diri keturunan Adam sampai sekarang. Singkatnya, rasa iri itu terasa begitu manusiawi jika kita melihat cerita Adam di atas.

Lalu apakah kita harus menyerah pada hal yang sangat manusiawi itu?

Iri merupakan bagian dari sisi gelap manusia. Ia bisa hadir dan semakin membesar ketika setan memanas-manasi suasana hati. Mengeluarkan rasa iri dari dalam diri manusia agar keluar dan dirasakan langsung oleh manusia adalah pekerjaan setan, yang dulu telah bersumpah untuk terus menggoda Adam dan seluruh keturunannya sampai kiamat tiba. Pertanyaan di atas nantinya akan berubah menjadi pertanyaan ini: apakah kita akan menyerah begitu saja dalam pertarungan melawan setan?

Iri merupakan hal yang tak bisa dihindari. Tapi ia dapat dikontrol apabila kita sanggup melakukan satu hal yang sangat manjur untuk meredam rasa iri: bersyukur. Lalu, apakah kita sudah cukup bersyukur kepada Allah atas semua yang kita miliki saat ini? Ataukah kita terlalu sibuk untuk terus menerus berdoa dan memohon akan banyak hal sehingga kita lupa untuk bersyukur?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s