[Review Film] ?

Ekspektasi saya begitu tinggi ketika melihat sebuah talkshow yang pada edisi itu membahas sebuah film baru karya Hanung Bramantyo yang berjudul “?” (tandatanya). Ceritanya mengenai kehidupan sebuah masyarakat di Pasar Baru, Semarang, yang mempunyai latar belakang agama yang berbeda-beda. Permasalahan dengan latar agama (dan juga etnis) inilah yang nantinya akan menjadi konflik utama dalam film ini.

Saya langsung excited dengan adanya film ini. Dari trailernya saja saya melihat masalah pengerusakan sebuah restoran cina oleh orang-orang yang berpakaian muslim, jadi saya kemudian berpekspektasi tinggi pada film ini. “Siapa tahu mau nyinggung soal FPI juga,” pikir saya iseng. Sambil nyengir juga tentu. 😀

Saya makin excited setelah mengetahui bahwa salah satu ketua MUI mengecam film ini yang menurutnya mengajarkan paham yang menyimpang yaitu pluralisme. Hanung dituduhnya menganut paham netral agama, artinya mempercayai bahwa semua agama sebenarnya menuju satu tujuan yang sama yaitu Tuhan. Ia juga menghimbau film ini ditarik dari peredaran. Inilah yang membuat saya semangat, dan ingin menonton film ini sesegera mungkin. Dalam pikiran saya, telah tergambar ekspektasi yang jelas: konflik! Saya ingin melihat bagaimana Hanung menggambarkan konflik yang terjadi akhir-akhir ini di Indonesia dalam film “?”.

Tapi ternyata ekspektasi saya terlalu tinggi.

Konfliknya memang cukup bermacam-macam, ada konflik tentang bagaimana kehidupan seorang janda beranak satu yang telah keluar dari agama Islam. Ada juga konflik cinta segitiga antara Soleh, Menuk (istri Soleh), dan mantan kekasih Menuk yang seorang China, Hendra. Konflik juga menyangkut bagaimana Surya, seorang aktor yang selama 10 tahun terjun di dunia akting terus-terusan hanya menjadi figuran saja, hingga akhirnya untuk terus mendapatkan uang ia harus berperan sebagai Yesus di acara Jumat Agung sebuah gereja.

Entah mengapa menurut saya konflik dalam film ini masih kurang cukup kaya. Hal inilah yang membuat saya menilai ekspektasi saya terlalu tinggi. Konflik yang disajikan sederhana, dan melalui penyelesaian yang sederhana juga. Saya, dan mungkin orang lain yang berekspektasi seperti saya, justru menginginkan konflik yang lebih kompleks dengan penyelesaian yang tidak sederhana pula. Mau tau contoh yang ada dalam ekspektasi saya? Mari kita sedikit berandai-andai.

Dalam satu adegan di film “?”, Surya mendapatkan tawaran dari Rika, teman dekat Surya yang juga seorang janda yang baru saja berpindah agama, untuk ikut casting sebuah sandiwara di gereja untuk acara Jumat Agung yang digelar menjelang paskah (CMIIW, sedikit lupa saya). Ia sejenak ragu untuk melakukannya, bagaimanapun ia seorang muslim. Dan jika ia melakukan casting tersebut, berarti ia harus masuk ke gereja. Ia lalu berkonsultasi dengan ustadz masjid, yang mendukungnya dan mengungkapkan bahwa selama hati teguh pada iman, tak masalah jika harus masuk ke gereja sekalipun. Lalu ia justru mendapatkan tentangan dari beberapa pengikut gereja seperti Doni (Glenn Fredly), yang menyebut bahwa agamanya akan terhina jika Yesus diperankan oleh seorang muslim. Tapi protes itu tak berlangsung lama karena Romo gereja segera keluar dan mendinginkan suasana. Romo sendiri mendukung dan tak mempermasalahkan jika Yesus diperankan oleh seorang beragama islam. Dan konflik pun usai. Ya, konflik itu hanya singkat dan diselesaikan dengan sangat mudah. Itulah yang sedikit membuat saya kecewa. Padahal jika diperdalam lagi, bisa saja konflik berkembang, misalnya dengan melibatkan pemuda-pemuda masjid yang mengetahui Surya akan berakting dalam gereja, dan sebagai Yesus pula, lalu mereka marah dan menganggap Surya murtad. Bisa saja kan? Atau jika saja Doni sukses mempengaruhi pengikut gereja lainnya untuk menentang kehadiran Surya yang beragama Islam dan berperan sebagai Yesus, maka konflik ini bisa semakin ramai, dan mungkin lebih kompleks.

Mungkin Hanung dan Titien Wattimena (penulis naskah) mempunyai alasan tersendiri mengapa tidak membuat konflik-konflik dalam film ini menjadi lebih kompleks. Karena di satu sisi, saya merasa kesederhanaan permasalahan dalam film “?” membuat cerita film tersebut menjadi lebih dekat dengan masyarakat. Ceritanya menjadi lebih “membumi”, dan sangat mungkin terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Terlepas dari penilaian bahwa film ini di bawah ekspektasi saya yang mengawang-awang, film “?” setidaknya memberikan udara segar bagi pecinta film nasional yang sudah benar-benar muak dengan film horor-seks yang seakan tiada habisnya. Dan keberanian Hanung untuk mengangkat tema keberagaman beragama juga patut diacungi jempol. Paling tidak, ia berhasil menggambarkan realita di Indonesia dalam layar lebar. Realita yang seringkali diacuhkan, padahal sangat penting untuk diperhatikan dalam kehidupan masyarakat kita yang sangat heterogen.

Nilai Film: 3,5 / 5

Advertisements

2 thoughts on “[Review Film] ?

  1. menurutku bisa saja dibikin lebih kompleks, atau mungkin lebih njlimet.akan tetapi karena kasus2 yang akan disampaikan melalui filem ini terlalu banyak dan durasi film hanya +/- 100 menit alias kurang puanjang…harusnya durasinya 3 jam untuk konflik2 yang semakin njlimet…..jut my 2 cents

    • setuju. kalau konfliknya di sini beragam tapi kurang mendalam. jadinya kayak nonton setengah-setengah gitu. kalaupun ada yang mendalam mungkin hanya kasus Restoran China dan Hendra aja, yang lain jadi cerita sampingan. Tapi jadinya malah nanggung. Makanya terkesan aneh jadinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s