Iri

Apakah Anda mengenal diri Anda? Maksud  saya, BENAR-BENAR mengenal diri Anda sendiri? Well, entah mengapa saya yakin jawabannya adalah ‘tidak’. Bahkan ketika Anda keras kepala dengan menjawab ‘ya’ sekalipun.

Adalah hal yang lucu melihat bagaimana kita ternyata tidak terlalu mengenal diri kita sendiri.

Saya menyadarinya sore ini. Saya baru saja sampai ke gedung Komunikasi setelah mengisi perut sejenak di Takor (kantin di Fisip UI), ketika teman-teman tiba-tiba heboh karena suatu hal. Semuanya mengerubungi seorang teman saya yang memang memiliki otak brilian, Uli, yang belakangan saya ketahui bahwa dia mendapat kesempatan untuk pergi ke Jerman untuk mengikuti sebuah international student festival. Ini untuk kali kedua dalam dua tahun terakhir ia mengikuti acara semacam itu, setelah sebelumnya ia juga pernah pergi ke Norwegia untuk mengikuti acara bernama ISFIT.

Saat itu juga, rasa iri saya memuncak. Dan entah kenapa, saya langsung menyalahkan diri saya sendiri.

Jelas, Uli berhasil mendapatkan kesempatan untuk pergi ke luar negeri secara gratis karena ia telah berusaha keras untuk mendapatkan kesempatan tersebut (disertai sedikit keberuntungan, tentu). Jadi, saya hanya bisa menyalahkan diri saya sendiri: apa sih yang saya lakukan sehingga gagal mendapatkan kesempatan yang sama? Kenapa sih saya kok tidak bisa mendapatkan kesempatan tersebut? Setelah berpikir beberapa saat, saya menyadarinya: saya memang kurang berusaha. Hidup saya memang begitu santai, menikmati apa yang ada, menjalani apa yang harus saya hadapi, tanpa pernah berani mencoba untuk menengok sejenak untuk melihat kesempatan lain yang lebih besar.

Inilah mengapa saya kemudian menyalahkan diri saya sendiri, karena lagi-lagi hanya mampu melihat teman saya kembali meraih kesuksesan, sementara saya hanya bisa iri. Untungnya, saya rupanya cukup berhasil menekan rasa iri saya dengan tidak membawanya ke sisi negatif, tetapi ke sisi yang cukup positif.  Saya berhasil memanfaatkan energi dari iri tersebut dengan kemudian menggebu-gebu mencari informasi mengenai student exchange atau festival internasional bagi pelajar yang bisa diakses secara gratis. Saya iri. Dan rasa iri itu berhasil memacu saya untuk mencoba membuat diri saya bisa bersaing dengan teman saya yang memang brilian itu.

Saya tak mau kalah dengan Uli. Saya sadari rupanya saya tiba-tiba menjadi sosok yang begitu ambisius. Dan inilah yang membuat saya bingung dan mengatakan ‘saya rupanya tidak mengenal diri saya sendiri’.

Selama ini, saya selalu melihat diri saya sebagai sosok yang begitu santai, hidup apa adanya, atau seperti istilah wong Jowo, saya ini orangnya ‘nrimo’. Hal ini begitu tertanam dalam diri saya, sehingga saya meyakini bahwa diri saya memang seperti ini. Akhirnya ketika saya melihat diri saya bisa begitu ambisius (kata-kata yang selalu menjadi ejekan saya untuk teman-teman saya yang lain), saya kebingungan. Saya tak pernah tahu bahwa diri saya bisa seperti ini.

Jadi, apakah Anda benar-benar tahu soal diri Anda sendiri?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s