Bulan Film Nasional

Banyak orang, termasuk saya sendiri, kerap memandang rendah film dalam negeri. Kurang berkualitas lah, terlalu banyak fim bergenre horor atau seks lah, dan kritik-kritik semacam ini (yang saya yakin, sering Anda dengar sendiri dari bibir orang-orang di sekitar Anda…… atau malah Anda sendiri) sering saya dengar dan saya pikirkan sendiri. Hal inilah yang menyebabkan hebohnya penggemar film ketika keran film Hollywood ditutup pada tahun lalu menyusul terjadinya konflik-yang-saya-nggak-ngerti-inti-kejadiannya-apaan itu.

Padahal, banyak film-film Indonesia dalam negeri yang bagus lho. Beneran.

Setelah The Raid yang udah bikin gue excited dari tahun lalu itu, hari Minggu kemarin akhirnya gue memutuskan untuk menikmati dua film dalam negeri di TIM, tepatnya dalam acara Bulan Film Nasional yang memang jadi program spesial Kineforum bulan Maret ini. Dan dua film yang beruntung gue tonton itu adalah Pintu Terlarang karya Joko Anwar dan Jakarta Maghrib karya Salman Aristo.

Dua film bagus yang membuat saya kayak jungkir balik.

Saya adalah orang yang paling jarang menonton film horor atau thriller. Alasannya simpel: takut. Dan di Pintu Terlarang, saya terjebak untuk menonton film genre ini. Maklum, saya memang cukup bodoh untuk tidak membaca sinopsis atau mengetahui genre Pintu Terlarang. Saya menonton film tersebut murni karena saya penasaran. Sebenarnya sulit menceritakan isi cerita dari Pintu Terlarang, karena film ini seperti terdiri dari banyak cerita yang disambungkan secara rumit namun apik oleh Joko Anwar. Yang pasti, bagian epik dalam film ini adalah ketika Gambir, sang pemeran utama, membantai sahabat-sahabatnya, ibu, dan istrinya, setelah mengetahui bahwa pada dasarnya ia seperti “ditipu” oleh orang-orang terdekatnya tersebut.

Dan saya pun keluar dari bioskop dengan badan merinding dan tertekan secara mental. Filmnya keren? Iyah. Tegang? Banget. Sadis? Iyes. Bikin mental tertekan? Iya banget.

Nah, saya ngerasa kayak jungkir balik karena hanya setengah jam setelah menonton Pintu Terlarang yang penuh darah itu, saya menonton Jakarta Maghrib, sebuah film yang merupakan rangkaian dari cerita-cerita pendek masyarakat biasa Jakarta menjelang maghrib. Simpel, sangat simpel malah. Berbeda dengan cerita Pintu Terlarang yang menurut saya layaknya fantasi, cerita-cerita di Jakarta Maghrib sepertinya merupakan cerita biasa yang bisa kita temui sehari-hari di sekitar kita.

Namun di situlah sisi menarik dari film ini. Jakarta Maghrib yang begitu simpel itu justru begitu efektif untuk menyentil fenomena-fenomena kecil yang terjadi di masyarakat Jakarta sehari-hari. Seperti di cerita “Menunggu Aki”, Salman Aristo dengan cerdas menyentil warga Jakarta yang jarang berinteraksi dengan tetangga sekitar sehingga mengenal nama pun tidak! Namun hal-hal sederhana seperti ini mampu dikemas dengan menarik sehingga Jakarta Maghrib membuat satu studio mini Kineforum tempat saya menonton kemarin bertepuk tangan setelah film selesai.

Yang pasti saya kapok menonton dua film yang sangat berbeda dalam hal jenis dan genre ini dalam satu waktu. Tapi saya tak akan pernah kapok menonton film Indonesia yang berkualitas seperti dua film ini.

Advertisements

2 thoughts on “Bulan Film Nasional

    • hahaha, aku juga begitu. makanya paling males nonton film horror. terakhir nonton film yang bener-bener horor itu insidious. entah berapa minggu keinget terus. cupu yah? hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s