Rumah, Keluarga, Dan Jarak

10 tahun merupakan rentetan waktu yang cukup panjang dalam hidup kita di dunia. Ada begitu banyak hal yang bisa terjadi dalam waktu 10 tahun, ada begitu bayak pengalaman yang hadir dan dialami oleh seorang manusia dalam waktu 10 tahun. Ada banyak kenangan, ada banyak perasaan, begitu pula pelajaran. 10 tahun bukanlah waktu yang pendek.

Tetapi 10 tahun bisa berlalu tanpa kita sadari karena kita menjalaninya tanpa menghitung hari demi hari yang berganti begitu saja, layaknya sebuah kegiatan yang menjadi kebiasaan yang bisa kita lakukan tanpa kesengajaan sekalipun. Layaknya menaiki MRT apalagi Shinkansen, tanpa kita sadari, kilometer demi kilometer kita lalui dengan cepat, dan tahu-tahu kita sudah sampai di stasiun yang kita tuju.

Tak terasa, kurang dari enam bulan lagi, genap sudah 10 tahun saya hidup jauh dari orang tua.

Rasanya semuanya berlalu begitu cepat. Rasanya masih terngiang suara tangisan Mamam (sebutan untuk almarhumah nenek saya dari ibu) yang tak rela melihat cucu yang ia rawat sejak kecil pergi meninggalkannya untuk memulai kehidupan baru di sebuah kota yang berjarak ratusan kilometer dari rumah. Tangisan yang merupakan gabungan dari rasa sayang plus (saya duga) rasa kasihan karena saya harus tinggal jauh dari orang tua di usia yang teramat muda, demi menggapai cita-cita yang saat itu saya tidak tahu persis, apa.

Selama 10 tahun, saya hidup tanpa didampingi orang tua, kecuali di saat liburan sekolah atau kuliah. 10 tahun yang mungkin benar-benar mengubah hidup saya.

Saya tumbuh menjadi seorang yang (saya rasa) cukup mandiri. Selain saat mendaftar kepindahan saya di kelas 6 ke sebuah SD yang berjarak sekitar 1,5 km dari rumah mbah saya di Sleman, saya selalu melakukan semuanya sendiri. Saya ingat sekali, saat saya harus mendaftar di SMP 1 Sleman, saya melakukannya seorang diri, sementara anak-anak lainnya selalu diiringi oleh orang tuanya. Hanya sesekali mbah saya ikut karena ada beberapa dokumen yang memang harus ia urus di sana.

Saya juga masih begitu ingat, ketika saya, yang tidak tahu di mana itu letak SMA N 1 Yogyakarta dan buta wilayah Jogja karena selama 4 tahun hanya tinggal di daerah Sleman, naik bis Jogja-Tempel sendirian untuk mendaftar sekolah di jenjang SMA. Tak ada yang pernah mengiringi saya, apalagi orang tua saya yang bekerja keras demi menghidupi anak-anaknya ratusan kilometer dari tempat saya berada.

Menyesalkah saya menjalani masa remaja yang mungkin agak berbeda dengan anak-anak lain sebaya saya?

Tidak, saya malah merasa beruntung. Saya merasa beruntung karena tumbuh dengan cara demikian membuat pemikiran saya menjadi lebih dewasa daripada beberapa anak lain. Saya merasa beruntung karena saya bisa mandiri dalam usia yang begitu muda. Saya merasa beruntung karena saya merasa orang tua saya ternyata begitu mempercayai saya sampai-sampai berani melepas sejak saya masih berusia sekitar 10 atau 11 tahun. Tidak banyak orang tua yang bisa mempercayai anaknya sebegitu rupa. Saya yakin itu.

Tetapi pilihan hidup seperti ini memang bukannya tanpa konsekuensi, bukannya tanpa resiko. Salah satu konsekuensinya adalah menyoal hubungan saya dengan orang tua.

Bukan, bukannya hubungan saya dan orang tua menjadi renggang. Tidak, saya masih cukup dekat dengan kedua orang tua saya, walau harus diakui memang mungkin tidak sama dengan jika saya tidak pernah memilih untuk pergi ke Jogja hampir 10 tahun yang lalu. Yang menjadi masalah terbesar yang saya anggap konsekuensi karena begitu lama jauh dari orang tua adalah minimnya rasa rindu dan keinginan saya untuk pulang ke rumah, pulang ke orang tua saya. Homesick, bagi beberapa orang yang merantau mungkin hal yang wajar dan selalu dirasakan, tetapi tidak bagi saya. Terkadang saya memang rindu dengan kedua orang tua saya, dengan tawa adik-adik saya, tetapi tak ada rindu yang begitu menggebu yang bisa memaksa saya untuk pulang dengan semangat di kala libur atau mengambil jatah bolos demi bisa pulang di tengah-tengah semester untuk mengobati rasa rindu pulang ke rumah.

Saya tidak pernah merasakannya. Dan saya rasa, inilah konsekuensinya.

10 tahun jauh dari orang tua membuat saya menjadi begitu terbiasa, dan pada akhirnya malah membuat diri saya lebih nyaman untuk hidup sendiri. Begitu lamanya saya tidak tinggal bersama orang tua membuat saya malah merasa aneh ketika saya harus pulang, ketika saya harus tinggal bersama keluarga saya. Ya, rasa aneh itu terkadang muncul, yang merupakan akibat dari merasakan pengalaman yang berbeda dari kebiasaan yang saya alami di kota tempat saya merantau (baca: sendirian di kamar kos-kosan). Anda juga pasti akan merasa aneh, bukan, apabila misalnya Anda yang biasa tinggal di sebuah rumah yang begitu sunyi harus menginap di rumah yang begitu ramai? Itulah yang saya rasakan ketika saya harus pulang ke rumah.

Harus saya akui, itu adalah hal yang tidak sehat. Tetapi harus saya akui juga, itu adalah hal yang alamiah sifatnya dan tidak bisa saya utak atik karena bukan saya pengendalinya. Inilah konsekuensi yang harus saya hadapi karena pilihan hidup 10 tahun yang lalu itu.

Tak heran jika malam tadi, ketika saya bersama Tama, Uli, Eva, dan Dini makan bersama dan membicarakan soal keluarga, saya kembali dihinggapi rasa iri. Rasa iri yang aneh. Iri karena teman-teman saya masih memiliki rindu dengan orang tuanya, iri karena masih memiliki rasa rindu pulang yang selalu hadir di sela-sela rutinitas kuliah di UI.

Tak adanya rasa rindu itu membuat saya menjadi semakin sedih mengingat tanggal 22 April kemarin merupakan tanggal ulang tahun ibu saya. Di hari yang spesial dalam sebuah siklus tahunan di hidupnya, saya tak bisa datang, memberikan selamat secara langsung, mencium pipinya, dan merayakan langsung bersamanya. Saya tidak bisa, karena saya begitu jauh dengannya.

Di saat seperti ini, saya hanya bisa berandai-andai, seandainya pintu kemana saja itu benar-benar ada…

Advertisements

One thought on “Rumah, Keluarga, Dan Jarak

  1. gw punya rencana yang sangat lama gw pingin yaitu pingin pindah kesurabaya yang dimana sangat jauh dengan orang tua saya dikalimantan , ketika SMP dulu lulus saya ingin masuk disekolah Sby tapi saya berubah pikiran ketika teman” saya tidak ingin ditinggal , yaudah saya hargain mereka sampe semester 2 SMA berakhir dan sekarang tinggal hitungan hari lagi saya akan berangkat pindah kesby , apakah yang terjadi kepada anda bisa terjadi kepada saya hemm .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s