Ketika Cita Tak Lagi Sesuai Realita

Orang muda, biasanya diisi oleh jiwa-jiwa yang ‘lebih liar’ daripada mereka yang lebih dewasa. Orang muda biasanya juga diisi oleh pemikiran-pemikiran berwujud impian yang berkedok dalam istilah idealisme. Saya, dan juga Anda mungkin, juga seperti itu.

Saya tidak punya cita-cita yang bersifat tetap. Sama seperti anak normal lainnya, cita-cita saya sering berubah-ubah sejalan dengan waktu. Dulu, saya pernah mengatakan bahwa cita-cita saya adalah menulis soal sepakbola. Sekarang, setelah cita-cita itu terwujud jadi nyata, saya sadar bahwa pekerjaan ini sebenarnya bukan yang saya inginkan. Cita-cita saya pun berubah lagi.

Saya memiliki seorang teman yang berjiwa petualang. Ia pun pernah bercerita kepada saya bahwa cita-citanya adalah berkeliling dunia, ia menyebutnya dengan istilah nomaden alias tidak menetap, tanpa harus menetap dalam waktu yang lama di suatu tempat. Cita-cita ini pun tertular pada saya. Saya, yang begitu bangganya pernah pergi sendirian ke luar negeri menggunakan backpack (sehingga mengklaim diri saya sebagai backpacker) dengan uang sendiri padahal hanya satu kali, pun tertular dengan cita-citanya. Betapa menyenangkannya melihat hal yang baru, melihat dunia, tanpa harus terkekang dengan ikatan tempat atau waktu.

Namun, seiring berjalannya waktu, saya kemudian melihat realita yang ada. Apakah hal itu mungkin untuk dilakukan?

Jawabannya: tidak. Realitanya, saya adalah anak tertua dari empat bersaudara, laki-laki, sehingga secara otomatis, saya memiliki tanggung jawab yang besar. Hidup dengan seenak udel seperti itu jelas tidak mencerminkan bahwa saya seorang yang bertanggung jawab pada keluarga. Pada waktunya nanti, saya pasti akan menerima tanggung jawab besar untuk mengurus adik-adik saya.

Melihat fakta tersebut, sudah terbayang jelas bahwa jalan yang harus saya tempuh bukanlah jalan hidup bebas seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Jalan hidup yang harus saya ambil adalah jalan untuk meraih kesuksesan seperti yang diidealkan oleh paham kapitalisme, yaitu meraih jabatan tinggi dan uang yang banyak. Singkatnya, saya harus kaya raya. Tidak perlu munafiklah. Memang itu yang kita butuhkan untuk bertahan hidup dengan layak di dunia yang makin mengerikan ini, bukan?

Pada akhirnya, saya pun harus mengalah pada keadaan. Menyesuaikan kembali cita-cita saya yang terkesan utopis itu dengan cita-cita yang lebih realistis dengan keadaan hidup saya.

Gaya pandang yang lebih realistis ini pula yang membuat saya sadar, tidak semua pekerjaan yang kita cintai bisa menghidupi kita. Apalagi kaya raya. Apakah Anda yang mencintai basket akan terjamin menjadi kaya raya lewat olahraga yang Anda cintai tersebut? Belum tentu. Begitu pula dengan menulis. Apakah menulis bisa membuat Anda kaya? Kemungkinannya ada, tetapi jelas tidak besar. Melakukan pekerjaan yang Anda cintai sambil berharap Anda kaya raya, bagi saya, sama saja Anda seperti berjudi tanpa modal. Anda bisa saja beruntung dan mendapatkan apa yang Anda inginkan, tetapi besar juga kemungkinan Anda akan gagal total dan tidak mendapatkan apa-apa selain hidup dalam stagnansi.

Berbahagialah bagi Anda yang mencintai pekerjaan Anda dan Anda bisa kaya raya dengannya.

Salam,

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s