Saatnya Mengubah Paradigma Kita Atas G30S

30 September kemarin berlalu seperti 30 September dalam tiga tahun terakhir: dihiasi oleh banyaknya pembicaraan mengenai peristiwa G30S di dunia maya, terutama Twitter. Bukan hanya mengenai beragam teori soal gerakan yang selama ini dituduh dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) saja, melainkan juga pembicaraan soal dugaan maraknya pelanggaran HAM saat pasukan bersenjata negeri ini melakukan usaha pemberangusan salah satu partai terbesar di tahun 60an itu.

Sebagian dari kita menanggapinya dengan antusias, sebagian lagi tidak memedulikannya, dan sebagian lainnya ada pula yang menentang pembicaraan soal ini. “Membuka luka lama,” kata sebagian yang terakhir.

Jujur saja, saya sebenarnya tidak setuju jika pembahasan soal G30S ini dikatakan sebagai salah satu usaha untuk membuka lama. Harus diakui, permasalahan ini memang sangat sensitif, tetapi ada hal yang lebih penting dibandingkan menjaga agar luka itu tertutup rapi. Masalahnya adalah ada begitu banyak misteri dan teka-teki yang belum terjawab pasti hingga kini: soal siapa sebenarnya dalang di balik Gestapu dan soal pengganyangan PKI pasca 65 yang dinilai amat berlebihan.

Sebagian besar dari kita, terutama yang besar di masa Orde Baru dan terlalu malas untuk membaca buku-buku sejarah alternatif, hanya mengetahui salah satu bagian sejarah yang kelam dari negara ini dari buku-buku teks yang kita dapatkan dari sekolah. Kita hanya menerima pengetahuan soal G30S dari guru-guru kita, yang tentunya dididik juga oleh rezim Orba. Pertanyaannya kemudian adalah apakah semua pelajaran sejarah yang kita terima di masa Orba itu memang benar adanya? Ataukah ada hal yang ditutup-tutupi atau malah dilencengkan?

Saya ingin mengutip apa yang dikatakan oleh Michel Foucault, seorang filsuf asal Perancis, dalam kuliahnya di College de France pada tahun 1975-1976 yang kemudian dibukukan dengan judul “Society Must Be Defended”. Menurut Foucault, para pemenang dari pergolakan sosial akan menggunakan kekuatan dominasi politik mereka untuk menekan sejarah musuh untuk mendukung propaganda mereka, yang bahkan bisa berujung pada revisionisme sejarah. Ini artinya, demi melegitimasi kemenangan mereka, pihak pemenang bisa mengubah sejarah dari pergulatan sosial yang sebelumnya berlangsung untuk menyudutkan lawan mereka.

Ada begitu banyak dugaan dan ada begitu banyak teori soal G30S yang muncul sejak reformasi terjadi dan demokrasi kita dapatkan. Tak semuanya mendukung penjelasan sejarah yang diungkapkan oleh Orba, sebagian justru menyerangnya. Orba, sebagai pihak pemenang dari pergulatan sosial dan politik di tahun 1965 dan menjadi penguasa untuk sekitar 32 tahun sesudahnya, bukan tidak mungkin merevisi sejarah kelam itu untuk propaganda mereka, bukan? Indikasi ke arah sana malah begitu kuat (saya tidak bisa menghakimi bahwa itu memang terjadi) dan sudah dibahas oleh banyak sejarawan.

Di sinilah peran pembahasan G30S di dunia maya, terutama di Twitter, menjadi penting. Kita, generasi dunia maya yang kini semakin malas membaca buku, bisa mengetahui banyak hal mengenai Gestapu dan hal-hal kelam di baliknya dari apa yang diungkapkan dan diceritakan lewat media sosial. Lewat akun-akun para “penggemar sejarah” seperti @hanityo atau @imanbr misalnya, kita bisa mengetahui bahwa ada begitu banyak sejarah yang berbeda versi dari apa yang diceritakan oleh rezim Orba. Misalnya saja, pernahkah buku sejarah kita di masa Orba dulu (keluaran Balai Pustaka) menceritakan bahwa banyak orang-orang yang tidak bersalah dan hanya diduga terkait dengan PKI dieksekusi secara kejam oleh angkatan bersenjata? Saya pribadi tidak pernah. Yang mungkin diceritakan di buku itu hanyalah terjadinya pembubaran PKI dan sayap-sayapnya di berbagai daerah dan penangkapan orang-orang partai.

Sejarah versi lain menceritakan hal yang berbeda. @hanityo, misalnya, menceritakan soal bagaimana angkatan bersenjata mengeksekusi para terduga PKI (yang konon sebagian besar sebenarmya tidak bersalah apa-apa) secara kejam.

Orang-orang ini tentu tak asal bicara. Mereka pastilah sudah membaca beragam literatur atau mendengar dari banyak pihak. Tapi tentu saja, merupakan hak Anda untuk mempercayainya atau tidak. Yang terpenting adalah kita seharusnya menyadari bahwa kita tidak bisa lagi menerima pengetahuan sejarah yang kita dapatkan di masa Orba secara mentah-mentah. Saatnya membuka pikiran dan menerima beragam kemungkinan yang ditawarkan oleh sejarah. Sesuatu yang sulit kita dapatkan di masa lalu.

Ngomong-ngomong, apakah Anda masih percaya jika semua orang komunis pasti tidak beragama? Sekadar informasi: DN Aidit, petinggi PKI yang tersohor itu, ternyata seorang muslim yang sholat (bukan islam KTP) dan pintar mengaji. Nah lho.

Advertisements

3 thoughts on “Saatnya Mengubah Paradigma Kita Atas G30S

  1. G30S adalah Rekayasa Orba. Logikanya Jika G30S Tak pernah ada, dan bung Karno meninggal, mungkin akan ada perebutan kekuasaan antara PKI dan Militer. Jika di Lihat dari kekuatanya Pihak militer masih tetap unggul, Tapi siapakah kah Calon Tersebut, Mungkin saja AH. Nasution. karena sesuai kepangkatan dia yg paling tinggi di militer Pada saat Itu. Bahkan pangkat soeharto pun masih kalah, Yg menjadi pertanyaan Kenapa soeharto yg menjadi presiden…..??????

  2. kalau para jendral gk dibunuh, suharto gk akan naik pangkat. kalau pki gk ditumpas, suharto gk akan bsa jadi presiden. krn para jendral dan pki adalah penghalang soeharto. berarti yg membunuh para jendral adalah..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s