Harapan Itu Masih Ada

Saya sudah kehilangan harapan akan negeri ini sejak beberapa waktu yang lalu. Alasannya sederhana saja: menurut logika saya, membersihkan negeri ini dari beragam masalah, terutama korupsi, hampir sama mustahilnya seperti membersihkan kamar mandi hingga mengkilap dengan tangan kosong.

Padahal, saya adalah orang yang enggan memperjuangkan sesuatu yang mustahil menghasilkan sesuatu yang saya harapkan. Saya paling enggan melakukan sesuatu yang saya nilai akan sia-sia saja.

Mungkin banyak orang yang sama seperti saya, sudah kehilangan harapannya terhadap masa depan Indonesia dan berubah menjadi sosok-sosok yang apatis. Saya rasa, mayoritas dari kita bahkan mungkin seperti itu. Tetapi peristiwa di kantor KPK malam tadi (yang membuat keinginan saya untuk tidur sedikit terganggu karena penasaran untuk melihat kelanjutannya di linimasa) sedikit menyadarkan saya, bahwa di luar sana, masih banyak orang yang mempertahankan idealisme mereka dan keyakinan mereka bahwa negeri ini bisa berubah menjadi lebih baik lagi. Bahwa usaha yang selama ini dilakukan untuk membersihkan Indonesia bukanlah hal yang sia-sia.

Bayangkan, malam-malam (bahkan saya dengar hingga menjelang subuh), ratusan orang dari berbagai elemen masyarakat, termasuk mahasiswa, memenuhi depan gedung KPK demi mendukung komisi anti rasuah tersebut dari “serangan” yang dilakukan oleh kepolisian. Kabarnya, puluhan polisi memang mendatangi gedung KPK dengan alasan ingin membawa salah satu penyidik mereka, Novel Baswedan, dengan alasan ia melakukan tindakan kriminal saat masih bertugas di Bengkulu. Sebelumnya, isu yang muncul adalah polisi-polisi tersebut ingin menjemput paksa lima penyidik KPK yang memilih bertahan di sana dan tidak mau kembali ke kepolisian.

Jujur saja, saya tidak terlalu memperhatikan masalah Novel dan tuduhan bahwa ia melakukan tindakan kriminal (kita mungkin sudah menebak bahwa ada alasan busuk dibalik tindakan yang aneh dari kepolisian itu), saya lebih ingin menyoroti bagaimana sebagian dari masyarakat Indonesia ternyata masih memiliki keyakinan bahwa negeri ini bisa lebih baik. Bahwa saya yang apatis ini terkadang patut merasa malu dengan pilihan saya untuk tidak peduli.

Bagi orang-orang ini, KPK mungkin satu-satunya simbol harapan mereka yang tersisa untuk Indonesia yang lebih baik. Tak heran jika kemudian mereka mati-matian untuk memperjuangkan simbol terakhir itu, satu-satunya harapan perlawanan mereka. Idealisme dan keyakinan mereka, bagaimanapun, harus dipuji.

Harapan itu, meski kecil, ternyata masih ada. Tinggal kembali kepada diri kita untuk mempercayainya atau tetap memilih untuk apatis dan menikmati hidup kita tanpa perlu dipusingkan dengan masalah itu.

Advertisements

One thought on “Harapan Itu Masih Ada

  1. “Harapan itu, meski kecil, ternyata masih ada. Tinggal kembali kepada diri kita untuk mempercayainya atau tetap memilih untuk apatis dan menikmati hidup kita tanpa perlu dipusingkan dengan masalah itu.” setuju banyak atas pernyataan anda, saudara Ekky.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s