Saya Jatuh Cinta Pada Mumford & Sons

https://i2.wp.com/24.media.tumblr.com/tumblr_m7dihugY1X1qi6py6o1_1280.jpgSaya jatuh cinta. Namun kali ini bukan karena wanita. Atau pada klub sepakbola. Saya sedang jatuh cinta pada Mumford & Sons.

Mumford & Sons adalah sebuah band asal London, Inggris, yang beraliran folk-alternative rock (saya tidak tahu tepatnya, jadi anggap saja seperti itu). Beranggotakan Marcus Mumford, Ben Lovett, Winston Marshall, dan Ted Dwane, Mumford & Sons memainkan musik dengan alat-alat tradisional seperti Banjo, Dobro, dan Mandolin. Mereka memadukannya dengan alat-alat musik mainstream seperti bass, gitar, piano, dan drum, dan hasilnya adalah sebuah aliran musik yang unik yang menarik dan membuat Mumford & Sons memiliki ciri khas yang membuatnya berbeda dengan band-band lainnya. Inilah yang awalnya membuat saya jatuh cinta pada musik mereka.

Bisa dibilang, saya seperti jatuh cinta pada pandangan pertama. Atau tepatnya, pendengaran pertama. Cinta itu mulai muncul ketika suara banjo tiba-tiba ambil bagian di menit pertama lagu berjudul “The Cave”, lagu mereka yang pertama kali saya dengan via YouTube. Saat itu juga, saya jatuh cinta pada The Cave: pada suara banjo, pada chorus lagu, dan pada video musik mereka yang saya anggap amat menarik. Hasil dari penelusuran di YouTube itu tidak hanya membuat saya jatuh cinta pada The Cave. Saya juga dengan segera langsung jatuh cinta pada Little Lion Man dan White Blank Page, terutama ketika mendengarkan potongan lirik ini: “You desired my attention, but denied my affections…”. Lirik yang fantastis.

Tiga lagu itu saja sudah cukup untuk membuat saya langsung mencari album pertama mereka yang berjudul Sigh No More dan mendengarkannya secara utuh. Status jatuh cinta saya semakin resmi ketika saya mendengarkan album kedua mereka yang baru keluar beberapa bulan yang lalu, berjudul Babel. Dan setelah mendengarkan Babel, I Will Wait, Lover of the Light, dan Below My Feet, saya segera menyatakan dengan tegas: saya jatuh cinta pada Mumford & Sons!

Bukan hanya karena suara banjo, dobro, ataupun mandolin saya bisa begitu jatuh cintanya pada mereka. Bukan pula karena para personelnya yang multi talenta dan memiliki kemampuan memainkan alat musik yang luar biasa. Saya jatuh cinta pada musik mereka secara keseluruhan: perpaduan alat-alat musik di dalamnya, lirik yang terkadang bisa menohok begitu dalam, hingga aransemen lagu-lagunya yang benar-benar indah. Mumford & Sons bukan hanya bisa membuat Anda ingin menari lewat lagu-lagu seperti I Will Wait, tetapi juga bisa membuat Anda ingin menyendiri dan merenung lewat lagu-lagu seperti Below My Feet atau Where Are You Now.

Apakah Anda menganggap yang saya katakan di atas adalah sesuatu yang berlebihan? Harap maklum. Cinta itu buta, kawan. Dan saya percaya kalau hal itu memang benar adanya.

Begitu juga dengan cinta saya pada Mumford & Sons. Setidaknya untuk saat ini. Saya memiliki kebiasaan: ketika menyukai musik (atau band, atau lagu) tertentu, saya akan mendengarkannya berulang-ulang sampai bosan. Jadi, mohon biarkan saya menikmati dulu proses jatuh cinta saya pada Mumford & Sons. Sebelum saya bosan nantinya.

Penasaran dengan Mumford & Sons? Setidaknya cobalah dua lagu berikut: The Cave dan I Will Wait.

Advertisements

One thought on “Saya Jatuh Cinta Pada Mumford & Sons

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s