Pejalan Kaki Adalah Kaum Tertindas

Trotoar

Saya baru satu kali ke Singapura. Itu pun sudah hampir lima tahun yang lalu, dalam trip singkat bersama kakek dan adik, kali pertama saya keluar negeri. Saat itu, saya langsung menyukai pada tertibnya kota itu: transportasinya, tata kotanya, taman kotanya. Saya menyukai pada segala ketertibannya.

Meskipun kini saya akhirnya sadar bahwa hidup di Singapura bukanlah hal yang cukup menyenangkan (saya memang belum pernah hidup di sana….. tetapi setidaknya begitulah kesan beberapa orang yang tulisannya sempat saya baca), tetapi saya tetap merindukan tertibnya negara itu. Ketertiban yang tentunya tidak akan kita temukan di Indonesia.

Salah satu hal yang paling saya rindukan adalah trotoarnya yang resik dan hampir selalu ada di pinggir jalan raya. Lagi-lagi, ini adalah hal yang sulit kita temukan di Indonesia, apalagi Jakarta. Di kota ini, trotoar adalah hal yang langka. Ketika ada pun, kondisinya mengenaskan, atau tidak bisa dilalui dengan bebas karena ada “rintangan” yang membentang di sana-sini: sepeda motor yang parkir seenaknya sampai warung-warung makan kecil yang mengambil alih seluruh badan trotoar dan memaksa pejalan kaki turun ke jalan.

Ketika ada trotoar di pinggir jalan raya yang amat macet, keamanan pejalan kaki pun terancam karena tidak jarang para pengendara motor – yang memiliki sumbu kesabaran yang teramat pendek dan kreatifitas yang kelebihan batas – bisa-bisanya menggunakan trotoar sebagai jalan mereka untuk menembus macet. Kaum ini tidak peduli pada keselamatan dan hak-hak pejalan kaki, yang terpenting adalah mereka keluar dari macet atau setidaknya bisa segera menyalip beberapa kendaraan sekaligus.

Lucunya, ada juga trotoar yang tidak bisa dilalui karena ada pihak-pihak tertentu (sepertinya suatu dinas pemerintahan kota) yang memasang pot-pot tanaman besar di sana, sehingga juga tidak mungkin dilalui oleh pejalan kaki. Oke, penghijauan dengan memasang pot tanaman besar di pinggir jalan memang hal yang sangat baik, tetapi tidakkah mereka berpikir bahwa memasang tanaman di atas trotoar akan membuat pejalan kaki tidak bisa menggunakan trotoar yang seharusnya ditujukan kepada mereka?

Padahal, sudah jelas bahwa guna trotoar adalah bagi pejalan kaki. Bukan yang lain. Para pejalan kaki (saya menyebut mereka sebagai makhluk-makhluk yang mensyukuri dua kaki yang diberikan Tuhan), memiliki hak yang jelas di seluruh dunia: agar mendapatkan akses yang nyaman dan aman di trotoar. Tetapi sayangnya, di kota ini hal itu tidak berlaku. Memang, ada trotoar-trotoar yang apik di Jakarta ini, tetapi trotoar seperti ini biasanya hanya bisa kita temukan di sekitar mall-mall besar dan mewah. Seperti trotoar di gambar di atas, yang bisa kita lihat di bagian luar mall Grand Indonesia.

Di sini, pejalan kaki adalah kaum yang tertindas. Tak hanya tidak memiliki akses terhadap trotoar yang aman dan nyaman, pejalan kaki pun tidak bisa mendapatkan rasa aman dan nyaman itu ketika menyeberang jalan. Di Indonesia, zebra cross hanya menjadi hiasan di jalan-jalan raya saja. Tak banyak dari kita yang memahami dan mau mempraktekkan bahwa pejalan kaki seharusnya selalu diutamakan di jalan raya, terutama di area zebra cross. Mungkin ada lebih banyak lagi yang tidak tahu. Mengenaskan.

Pemerintah pun tidak berbuat banyak untuk melindungi pejalan kaki. Mereka seringkali menomorduakan kebutuhan kaum mayoritas yang tertindas ini, misalnya seperti yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Depok. Alih-alih menyediakan jembatan penyeberangan yang selama ini memang diminta oleh warga Depok yang kini semakin sulit menyeberang di Jalan Margonda, Pemkot Depok malah gencar-gencarnya memberikan “servis” kepada para pengendara kendaraan bermotor. Misalnya dengan pelebaran jalan, seperti yang bisa kita lihat saat ini di beberapa titik di Jalan Margonda, dengan harapan bisa mengurai kemacetan. Jembatan penyeberangan? Dilupakan.. Hasilnya, beberapa waktu yang lalu seorang pejalan kaki yang sedang menyeberang jalan di Jalan Margonda harus meninggal dunia karena tertabrak sebuah mobil yang melaju kencang di jalan itu.

Ironis, tetapi itulah kenyataannya.

Advertisements

One thought on “Pejalan Kaki Adalah Kaum Tertindas

  1. Pingback: iRHoTeP Site B » Blog Archive » Grand Indonesia Jakarta Tidak Ramah Pejalan Kaki

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s