Kesendirian Dalam Karya Murakami

Norwegian Wood - Kafka on the Shore - 1Q84

Saya menyukai karya-karya Haruki Murakami.

Errr… Sebenarnya saya baru membaca dua bukunya, yaitu Norwegian Wood dan Kafka on the Shore, sementara satu buku lagi, 1Q84, baru saya selesaikan setengahnya. Tetapi lewat dua buku (plus setengah) tadi, saya sudah merasa menyukai gaya penulisan Murakami.

Tentu bukan hanya saya yang menyukai Murakami. Fakta bahwa buku-bukunya selalu masuk dalam daftar best seller adalah salah satu buktinya. Ada banyak alasan mengapa orang-orang bisa menyukai buku-buku Murakami. Salah satunya adalah kegemaran Murakami menceritakan segalanya dengan begitu mendetail. Perhatian Murakami yang begitu besar pada detail membuat pembaca bisa berimajinasi secara maksimal mengenai apa yang sedang terjadi di dalam cerita.

Apalagi, gaya cerita Murakami adalah surealisme. Detail menjadi begitu penting untuk membawa pembaca berimajinasi dan penulis Jepang ini telah berulang kali sukses mempraktikkannya. Inilah yang barangkali membuat banyak orang menyukai buku-bukunya.

Sayangnya, saya menyukai karya-karya Murakami dengan alasan berbeda: saya menyukai buku-buku Murakami karena (sepertinya) hampir semua karakter-karakter utama dalam cerita gubahan Murakami memiliki karakteristik yang sama: menyukai kesendirian atau teralienasi dari masyarakat pada umumnya. Contohnya saja Aomame dan Tengo di buku 1Q84. Dua karakter utama di buku tersebut sama-sama hidup sendiri, tidak banyak berinteraksi dengan manusia lainnya, dan tentunya, hanya memiliki sedikit teman.

Tetapi harap dicatat: kesendirian tidak selalu harus dikaitkan dengan kesepian. Lebih dari itu, kesendirian bisa berarti kebebasan. Sosok-sosok seperti Tengo atau Toru Watanabe memang memilih kesendirian sebagai pilihan hidup mereka, bukan karena keadaan yang memaksa mereka bersikap seperti itu. Hal inilah yang membuat kesendirian yang digambarkan oleh Murakami menjadi begitu menarik.

Entah mengapa saya menyukai hal tersebut. Mungkin karena hal itu sedikit menjadi cerminan dari kehidupan saya. Atau mungkin karena saya membutuhkan pembenaran terhadap sikap saya yang tidak pernah benar-benar memiliki teman dekat. Hmmm…. Mungkin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s