5 cm.: Menikmati Mahameru Lewat Layar Lebar

Foto: 21Cineplex.com

Saya membaca novel 5 cm bertahun-tahun yang lalu, dan seperti banyak orang lainnya,tetap menganggap novel tersebut adalah novel yang cukup bagus, meski di satu sisi saya juga menganggap buku itu teramat lebay dengan romantisisme berlebihan terhadap nasionalisme dan persahabatan. Karena itu, ketika mendengar buku 5 cm akan difilmkan saya cukup menantikannya.

Salah satu alasannya jelas karena Mahameru-nya. Saya sempat membaca bahwa film 5 cm melakukan syuting langsung di Mahameru, alih-alih diganti dengan tempat lain dan membuatnya seakan-akan tempat itu adalah Mahameru. Hal itu adalah karena karena penulis sang novel, Donny Dhirgantoro, memang hanya mau bukunya difilmkan jika pengambilan gambar benar-benar dilakukan di Mahameru. Syuting di tanah tertinggi di Pulau Jawa jelas sebuah keputusan yang nekat karena beratnya medan, karena itulah saya menantikan film ini.

Dan harus diakui bahwa keputusan untuk syuting langsung di Mahameru adalah hal yang tepat. Pemandangan alam yang luar biasa indah yang disajikan oleh film ini jelas menjadi poin plus terbesar dari 5 cm. Saya bahkan sempat merinding hebat ketika keenam sahabat yang menjadi karakter utama di 5 cm baru tiba di kaki gunung (kalau tidak salah daerah Tumpang) dan kamera memperlihatkan gambar yang menawan di sana, disertai oleh kata-kata “Yang kita perlukan adalah kaki-kaki yang melangkah lebih banyak dari biasanya, dst..” yang diucapkan bergantian oleh keenam karakter utama (walau tentu saja saya anggap kalimat-kalimat tersebut puitisisasi yang berlebihan).

Apalagi, sutradara film ini, Rizal Mantovani, adalah sutradara yang lebih dikenal karena sering menyutradarai video-video musik dari musisi-musisi tanah air dan juga iklan televisi. Tak mengherankan jika sinematografi film ini terasa “video klip banget” atau “iklan banget” (saya bahkan sempat berpikir ada beberapa scene yang seperti meniru iklan Djarum Super!). Di satu sisi, pengambilan gambar yang “video klip banget” itu menambah unsur keindahan dari film 5 cm.

Tetapi dari segi cerita, tak ada yang baru. Tak ada kejutan atau perubahan besar dari segi cerita atau bahkan dialognya sekalipun. Segalanya persis benar seperti isi cerita novel, seakan film ini memang hanya “sekedar” visualisasi dari novel karena tidak menawarkan sesuatu yang baru. Walau begitu, tetap ada beberapa jokes yang keluar dan bisa membuat saya, yang bahkan entah kenapa masih hafal isi cerita novelnya, tetap harus tertawa atau sekadar tersenyum geli.

Hal lain yang membuat saya agak terganggu adalah timing gambar dan suara yang tak pas sepersekian detik. Meski tak terlalu terlihat, tetapi tetap saja mengganggu. Saya jadi teringat film (kalau tidak salah) Perahu Kertas yang juga memiliki masalah yang sama. Masalah lainnya adalah kurangnya perhatian terhadap detail-detaiil kecil yang cukup mengganggu, terutama hubungannya dengan pendakian gunung. Seorang teman yang juga pernah (atau sering?) naik gunung mengungkapkan bahwa para pendaki gunung sebenarnya tidak diperkenankan untuk berenang di Ranu Kumbolo, tetapi pada kenyataannya di film ini, para karakter utamanya menyempatkan diri berenang di perjalanan turun dari Mahameru. Selain itu, apa benar pukul 5.25 pagi di Mahameru matahari sudah naik dan bumi sudah terang benderang?

Terlepas dari tidak adanya kejutan atau hal menarik dari sisi cerita film ini, 5 cm tetap patut dipuji karena kenekatannya untuk melakukan pengambilan gambar di Mahameru, dengan segala resikonya. Saya ingin memuji keberanian produser film ini yang mau mengeluarkan biaya yang besar untuk membuat film yang saya nilai pasti amat mahal (hei, bahkan kabarnya asuransi untuk Pevita Pearce saja sampai milyaran rupiah!).

Berbicara soal para pemeran, beberapa bintang utama seperti Raline Shah, Igor Saykoji, dan Denny Sumargo baru melakukan debut akting di film untuk pertama kalinya. Tetapi ternyata akting mereka cukup bagus dan memuaskan, beberapa kali saya bahkan berpikir kenapa akting Raline Shah terlihat lebih natural daripada Pevita.

5 cm adalah film yang patut ditonton di bioskop di minggu-minggu ini. Setidaknya mata Anda akan sangat dimanjakan.

PS. Selamat terkagum-kagum pada Herjunot Ali bagi kaum hawa, dan selamat menikmati kecantikan Raline Shah dan seksinya Pevita Pearce bagi kaum adam. Khusus kaum adam: fokuslah pada layar ketika Pevita muncul pertama kalinya di film ini (clue: tanktop putih dan hotpants).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s