Satu Tahun Terjebak Di Dunia Per-Korea-an

Berita mengenai akan diluncurkannya album keempat Girls’ Generation (kita mengenalnya sebagai SNSD), seakan menjadi pengingat bagi saya bahwa telah satu tahun saya “kecemplung” ke dunia ‘Korea-Koreaan’. Betul, memang sejak girlband Korea Selatan yang terdiri dari 9 wanita cantik itu meluncurkan single The Boys pada akhir tahun 2011 lalu lah saya mulai mendalami K-Pop dan sekitarnya (Variety show, film Korea, drama tv). Dan selama satu tahun ini pula, saya mulai identik dengan ‘Korea-Koreaan’ di kalangan teman-teman saya.

Jika saya ingin menyalahkan orang lain karena membuat saya bisa menggemari ‘Korea-Koreaan’, maka itu adalah anak-anak Komunikasi yang sering memutar video klip The Boys di acara “nyampah sore” alias nongkrong-tak-jelas-sambil-internetan-dan-bergosip-sampai-sore di gedung Komunikasi. Saking seringnya mendengar lagu itu d gedung kom, saya mulai penasaran dan akhirnya mulai melihat video-video klip SNSD di YouTube.

SNSD pun menjadi semacam jalan pembuka ke dunia per-Korea-an. Sakit Korea ini semakin parah ketika saya mengenal sebuah variety show bernama Running Man. Awalnya hanya menonton episode ketika SNSD menjadi guest saja, tetapi rasa ketagihan pun muncul dan akhirnya saya malah mendownload semua episode karena kelucuan yang tak tertahankan di tiap episodenya. Saya bahkan pernah menonton hingga lebih dari tiga episode Running Man dalam satu hari saking ketagihannya!

Running Man kemudian menjadi gerbang yang lebih besar ke dunia per-Korea-an. Hal ini dikarenakan di hampir setiap episodenya, Running Man selalu menghadirkan bintang tamu-bintang tamu yang berbeda sehingga seringkali membuat saya penasaran untuk mencari tahu soal mereka. Tak jarang guest yang hadir adalah anggota girlband/boyband, dan hal itu membuat saya mendapat pengetahuan yang besar soal K-Pop.

Running Man pula yang membuat saya mengenal Leessang, grup musisi Korea yang paling saya favoritkan hingga saat ini. Salah satu member Leessang adalah Gary, personel tetap Running Man. Saya langsung menyukai Leessang setelah mendengar salah satu single mereka dari album Asura Balbalta, Turned off the TV. Lagi-lagi, saya mendengar lagu itu karena penasaran dengan latar belakang para personel Running Man.

Setelah itu, “ekspansi” pengetahuan saya soal dunia Korea-Koreaan terus berlangsung, walau saya tidak pernah merasa diri saya menjadi penggemar kelas berat Korean Wave. Saya bisa menilai diri saya sendiri seperti itu karena melihat fakta bahwa ada banyak teman-teman saya yang lain yang lebih “sakit” daripada saya. Setidaknya saya bisa tegaskan bahwa hingga saat ini, hanya ada tiga hal yang amat saya gemari: 1. Running Man, 2. Leessang, 3. Girls’ Generation.

Grup idol K-Pop lainnya? Saya hanya sempat amat menyukai T-Ara karena konsep jadul mereka yang berbeda dibanding grup-grup lainnya. Saya juga menyukai Big Bang karena memang banyak lagu mereka yang enak (album Tonight dan Alive mereka luar biasa) dan karena keberanian mereka tampil dengan live band di konser-konsernya. Selain itu? Saya paling-paling hanya menyukai satu-dua lagu.

Drama? Saya hanya pernah menonton Love Rain (karena YoonA bermain di sana) dan BIG (karena diracuni adik saya sendiri). Film? Sejauh ini hanya film-film Cha Tae Hyun yang menarik minat saya.

Mengapa saya menyukai Korea-Koreaan?

Pertanyaan di atas beberapa kali ditanyakan teman-teman saya yang heran karena selera saya bisa berubah cukup drastis jika dibandingkan tahun lalu. Pertanyaan ini cukup sulit dijawab karena saya tidak memiliki jawaban yang pasti.

Mengapa saya menyukai K-Pop? Saya tak mau munafik, saya pertama-tama menyukai Girls’ Generation jelas karena wajah-wajah cantik para personelnya. Kecantikan YoonA adalah salah satu magnet utama yang tidak bisa ditolak, walau kemudian saya sadari akan sulit memilih siapa yang paling cantik diantara sembilan personel SNSD. Tetapi apakah hanya karena wajah saja saya kemudian menjadi fans mereka? Tidak. Anda mungkin melihat hal ini cukup aneh (terutama bagi mereka yang tahu saya menyukai Coldplay, Muse, Arctic Monkeys, dll.), tetapi jujur saja, saya menyukai lagu-lagu mereka.

Sampai saat ini saya masih sering mendengarkan lagu Gee. Saya juga masih mendengarkan lagu Into New World atau Girls’ Generation, lagu-lagu dari album pertama mereka. Saya pun menyukai lagu-lagu mereka lainnya, bahkan yang berbahasa Jepang sekalipun seperti Paparazzi, All My Love Is For You, dan Flower Power. Saya masih sering mendengarkan lagu-lagu itu, dan memutar videonya karena saya juga menyukai gerakan dancenya.

Tak jarang ada yang menuduh jika laki-laki menyukai girlband Korea, hal itu pasti murni karena para personelnya yang cantik dan seksi dan menjadi seksual semata. Bahkan ada yang bilang video-video klip girlband Korea sebagai softporn. Harus diakui jika sebagian video klip memang teramat seksi – lihat saja So Cool milik Sistar sebagai salah satu contohnya.

Tetapi menurut saya hal itu adalah pendapat yang dangkal. Kalau saya hanya menyukai girlband Korea karena tampang dan keseksiannya saja, buat apa saya mendengarkan MP3 lagu-lagu mereka, yang berarti saya tidak bisa melihat kecantikan dan keseksian dance mereka? Jika saya hanya menyukai personel-personelnya saja yang bisa dijadikan fantasi seksual, saya tidak akan mendengarkan Mp3 lagu-lagu mereka; saya pasti hanya akan memutar video-videonya saja.

Bukti lain yang memperkuat klaim saya bahwa saya menyukai K-Pop karena musiknya adalah fakta bahwa saya juga menyukai Big Bang. Big Bang adalah satu-satunya boyband yang paling saya suka karena lagu-lagu mereka amat enak didengar. Saya juga menyukai konsep live band mereka ketika konser – sesuatu yang membuat saya menyesal tidak bisa menonton mereka ketika Big Bang tampil di Jakarta selama dua hari.

Untuk acara TV, saya menyukai variety show Korea Selatan karena cara pengemasan dan ide acara yang selalu membuat saya berdecak kagum. Running Man adalah contohnya. Pengemasan yang kreatif, editing yang hebat, dan cast-castnya yang kocak merupakan hal yang membuat saya terus bertahan menantikan variety show ini di setiap minggunya. Variety show Korea lainnya pun tak kalah menariknya: saya juga pernah menyukai Family Outing, yang notabene adalah pendahulu Running Man.

Selain faktor-faktor di atas, tentu ada faktor lain yang juga membuat saya menyukai Korea-Koreaan, misalnya bahasa Korea yang entah mengapa membuat saya tertarik. Atau faktor selera pribadi. Atau mungkin faktor lain yang tak terpikirkan saat saya menulis postingan ini.

Yang pasti, sampai hari ini, virus bernama Korean Wave itu masih terus menjangkiti saya. Beberapa orang mungkin masih akan terus mencibir, tetapi saya tak mau ambil pusing (lagi). Bagimu seleramu, bagiku seleraku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s