Banana Pancake Trail: Tersesat di Kajang

Postingan sebelumnya:
Banana Pancake Trail: Perjalanan Pun Dimulai
Banana Pancake Trail: Kuala Lumpur

Kajang sebenarnya tidak ada di dalam rencana perjalanan kami – kami bahkan tak tahu bahwa ada kota bernama Kajang di Malaysia. Tetapi akibat salah naik kereta, kami akhirnya malah tiba di kota antah berantah itu alih-alih Penang.

Kami sampai di Kajang sekitar pukul 11.30 malam waktu setempat, tanpa peta, tanpa tahu arah, tanpa tahu bagaimana untuk bisa melanjutkan perjalanan yang masih tersisa 14 hari itu. Yang makin membuat semangat saya ciut, adalah kondisi di sekitar stasiun Kajang: gelap, hanya ada beberapa rumah dan sebuah cafe yang menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Belakangan kami ketahui bahwa stasiun tersebut memang tidak di dalam kota. Untuk mencapai kota, kami harus menggunakan taksi 5-10 menit perjalanan.

Pertanyaan pertama yang muncul di kepala setibanya di tempat itu adalah di mana kami bisa menghabiskan sisa malam yang masih cukup panjang itu. Petugas kereta sempat memberi tahu bahwa kereta pertama untuk kembali ke Kuala Lumpur baru ada pukul 6 pagi keesokan harinya, jadi kami harus mencari cara untuk membunuh waktu selama setidaknya 5 jam ke depan. Menginap di stasiun adalah hal yang pertama yang muncul di kepala, namun keinginan itu pupus ketika mendengar bahwa stasiun akan ditutup pukul 12 tepat dan kami tidak bisa bermalam di sana.

Pilihan kedua adalah semacam cafe di dekat stasiun, yang masih menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Saya segera menghampiri tempat itu, dan menanyakan sampai jam berapa cafe itu akan buka. Ternyata hanya sampai jam 2 saja.

Tak ada pilihan selain menuju kota, setidaknya ada McDonalds atau KFC di sana, dan juga beberapa 7-11. Dengan bujet yang terbatas, kami langsung menghapus pilihan untuk menggunakan taksi, meski saya sempat menawarkan karena ada dua orang gadis dalam perjalanan ini. Membiarkan keduanya berjalan berkilo-kilo meter sambil membawa ransel di punggung bukanlah hal yang bijak, namun keduanya bersikeras untuk berjalan.

Beruntung, hanya sekitar 1km dari stasiun, ada sebuah McDonalds yang buka 24 jam. Kami gembira luar biasa, dan langsung memutuskan untuk ‘menginap’ di sana, setidaknya hingga pukul 5 pagi. Banyak orang heran melihat tiga orang Indonesia membawa carrier besar tengah malam di kota itu, termasuk orang-orang di McD sendiri. Sebuah bukti bahwa biasanya memang jarang turis datang ke kota itu.

523211_10200442041357312_2121859309_nDan hal itu membuat saya pribadi agak bangga. Setidaknya ada sesuatu yang bisa dibanggakan ketika berbicara dengan orang lain yang pernah ke Malaysia. “Pernah ke Kajang nggak?”

Setelah masalah tempat beres, masalah lainnya yang perlu diselesaikan adalah masalah jadwal dan bujeting. Bagaimana nasib perjalanan ini dengan hilangnya 7-8 jam akibat tersasar di Kajang? Pilihannya ada dua: tetap ke Penang atau mencoret Penang dan langsung menuju Phuket via Hatyai.

Jika pilihan pertama yang diambil, kami hanya bisa menghabiskan waktu di Penang sekitar 5 jam saja. Dengan asumsi kami tiba di KL pukul 7 pagi, dan kereta menuju Penang akan berangkat pukul 8 pagi, kami akan tiba di Penang sekitar pukul 4 atau 5 sore. Sejak awal, kami memang berencana hanya menghabiskan satu hari dan satu malam di Penang, dan keesokan paginya kami akan langsung ke Phuket. Jadi memang hanya malam itu saja kami bisa menikmati Penang. Waktu yang amat sedikit bahkan jika hanya ingin mengunjungi Georgetown saja.

Selain waktunya amat terbatas, keuangan juga menjadi masalah karena menurut hitung-hitungan, kami akan menghabiskan begitu banyak uang hanya untuk menikmati beberapa jam di Penang. Setelah mempertimbangkan waktu yang dihabiskan jika langsung menuju Phuket keesokan paginya (dan mencoret Penang), maka kami memilih pilihan tersebut karena dinilai lebih bijak. Pertama, kami bisa menghemat ringgit yang kami miliki, dan kedua, kami bisa memiliki lebih banyak waktu untuk dihabiskan di Phuket. (Di rencana awal kami, kami akan tiba di Phuket pukul 9 malam dan baru keesokan harinya menikmati pantai di Phuket, namun di rencana tiba-tiba ini, kami akan tiba di Phuket pukul 5 pagi sehingga ada satu hari tambahan di sana)

Barangkali inilah salah satu ‘berkah’ tersasar yang membuat jadwal yang sudah disusun rapi berantakan: kami bisa merasakan bagaimana bertukar pikiran membuat rencana B akibat munculnya kejadian yang tidak diperhitungkan sebelumnya. Hal ini yang kemudian membuat saya sempat membuat tweet bahwa kejadian ini seperti mentasbihkan kami sebagai backpacker sesungguhnya. 😀

Akhirnya kami pun benar-benar menghabiskan malam di sana. Untungnya, karyawan-karyawan McD setempat baik-baik, bahkan salah satu ibu yang biasa membersihkan ruangan menyarankan kami untuk tidur di sofa alih-alih tidur merunduk di meja yang keras.

McD Kajang sendiri tampaknya merupakan tempat yang biasa digunakan anak-anak muda setempat untuk begadang, entah itu mengerjakan tugas atau sekedar bermain game. Malam itu selalu ada anak muda yang datang ramai-ramai, bahkan pukul 4 pagi sekalipun.

Setelah tidur hingga sekitar pukul 4 pagi (saya sendiri tidak tidur malam itu karena menjaga barang-barang dan harus rela dilihat layaknya orang aneh oleh pengunjung lain :p), kami lantas bersiap-siap kembali ke stasiun. Pukul 5, kami membawa carrier kami kembali ke stasiun yang sepi dan gelap. Kereta akhirnya tiba pukul 6 pagi, dan kami pun naik kereta bersama orang-orang lokal lainnya yang sepertinya bekerja atau sekolah di KL.

Walaupun tidak diduga dan direncanakan, pengalaman di Kajang menjadi salah satu pengalaman menarik yang tak terlupakan dari perjalanan banana pancake trail kemarin.

Pesan moral: kalau ingin naik kereta ke Penang, jangan lupa tanyakan platform kereta ke petugas di loket pembelian tiket!

(Bersambung ke postingan berikutnya……. kalau masih mood untuk menuliskannya. :P)

Credit: Foto-foto di atas adalah karya Aulia Dwi Nastiti. You can visit her blog here.

Advertisements

10 thoughts on “Banana Pancake Trail: Tersesat di Kajang

  1. Pingback: Banana Pancake Trail: Menuju Phuket « @ekkyrezky

  2. Pingback: Banana Pancake Trail: Phuket | @ekkyrezky

  3. Pingback: Banana Pancake Trail: Bangkok, Titik Tengah Perjalanan Kami | @ekkyrezky

  4. Pingback: Banana Pancake Trail: Buruknya Kesan Pertama Kamboja | @ekkyrezky

  5. Pingback: Banana Pancake Trail: Terpukau Oleh Magisnya Temples of Angkor | @ekkyrezky

  6. Pingback: Banana Pancake Trail: Menikmati Pizza Ganja Di Phnom Penh | @ekkyrezky

  7. Pingback: Banana Pancake Trail: Betapa Menyenangkannya Ho Chi Minh City | @ekkyrezky

  8. Pingback: Banana Pancake Trail: Menikmati Pho Terenak Di Dunia Di Dalat | @ekkyrezky

  9. Pingback: Banana Pancake Trail: Soal Bujet, Perencanaan, Dan Hostel | @ekkyrezky

  10. Pingback: Banana Pancake Trail: Epilog | @ekkyrezky

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s