1Q84 – Haruki Murakami: Menghargai Keindahan Dalam Detail

Haruki Murakami - 1Q84Menamatkan 1Q84 bukanlah yang mudah. Membaca 1.157 halaman berisi rangkaian kata yang digubah oleh Haruki Murakami selama (kalau tidak salah) sekitar tiga tahun tidaklah bisa dilakukan dalam waktu singkat. Setidaknya itulah yang terjadi pada saya. Setelah mulai membacanya pada Oktober silam, saya akhirnya baru berhasil menamatkannya beberapa hari yang lalu. Sekitar tiga bulan.

1Q84 pada dasarnya menceritakan mengenai petualangan Tengo Kawana dan Aomame dalam dunia yang disebut oleh Aomame sebagai 1Q84: dunia di mana terdapat dua bulan, dunia di mana terdapat dohta dan maza, dan dunia di mana para Little People menghantui. Bumbu utama novel ini adalah kisah cinta antara Tengo dan Aomame: dua orang yang saling mencintai meski tak pernah berbicara satu sama lain, dan tak pernah bertemu selama 20 tahun. Cinta yang absurd, namun indah. Cinta yang tak bisa dicerna oleh akal sehat, namun mampu menghipnotis penikmatnya.

Ketika saya memberikan rating penilaian saya terhadap buku ini di situs Goodreads, saya iseng membaca beberapa review pembaca lainnya. Ternyata banyak yang memberikan penilaian kurang positif terhadap buku ini sehingga “hanya” mendapatkan rating 3.7, di bawah Norwegian Wood dan The Wind-Up Bird Chronicles – dua karya terpopuler Murakami. Banyak yang mengeluhkan masalah begitu panjangnya cerita dan tebalnya buku padahal jika dilihat, ending cerita “cuman gitu doang” dan mungkin tidak sesuai harapan. Banyak yang menilai Murakami terlalu banyak menghabiskan waktu dan kata untuk menggambarkan detail-detail yang tak penting: semisal bagaimana Tengo memasak untuk dirinya sendiri, atau bagaimana Aomame menghabiskan waktunya di dalam persembunyiannya. Hal-hal yang, menurut sebagian orang, tak ada kepentingannya dengan jalan utama cerita.

Harus diakui bahwa ending 1Q84 memang tidak terduga: bukan karena twist yang amat menarik di akhir novel layaknya novel misteri, tetapi justru karena begitu sederhananya konklusi dari isi cerita tersebut. Dan memang Murakami menghabiskan banyak halaman hanya untuk hal-hal yang mungkin sebenarnya tidak perlu diceritakan pun tidak ada pengaruh berarti bagi isi cerita. Tetapi saya menilai di situlah yang membuat 1Q84, dan juga buku Murakami lainnya, menarik: ada detail yang membuat kita berfantasi membayangkan seandainya Tengo dan Aomame benar-benar nyata dan melakukan segalanya seperti yang diceritakan di dalam novel. Saya entah mengapa justru menyukai gaya penceritaan Murakami yang, bagi sebagian orang, terlihat bertele-tele dan banyak memasukkan unsur yang tidak terlalu penting bagi cerita. Detail-detail yang digambarkan oleh Murakami malah membuat saya sebagai pembaca jadi bisa membayangkan sisi psikologis dari karakter-karakter yang ada di dalam buku. Detail-detail itu juga membuat karakter-karakter tersebut menjadi begitu hidup. Karenanya, jangan heran jika sampai sekarang saya masih sering teringat soal Tengo dan Aomame dan bagaimana dahsyat dan absurdnya cerita cinta keduanya.

Saya bahkan menilai, terlepas dari begitu tebalnya buku ini, 1Q84 lebih baik daripada Norwegian Wood dan Kafka on the Shore, dua buku Murakami yang sudah saya baca sebelumnya. Begitu detail, membuat saya bisa menyelami dunia 1Q84 dan membayangkannya layaknya nyata, dan begitu hidup. Juga begitu indah.

Saya memang teramat emosional ketika memberi rating 5 bagi buku ini di Goodreads (harap maklum, saya langsung memberi rating hanya beberapa menit setelah menutup halaman terakhir buku – sesuatu yang sebenarnya haram dilakukan karena kita akan terperangkap dalam emosi kita sebagai pembaca dan tidak bisa objektif dalam memberikan penilaian), tetapi harus diakui bahwa saya tetap meyakini buku ini adalah buku yang sangat bagus. Menurut saya pribadi, tentunya.

Advertisements

3 thoughts on “1Q84 – Haruki Murakami: Menghargai Keindahan Dalam Detail

  1. aku lagi baca sputnik sweetheart & after the quake (baru 2 cerpen), lumayan sih.. aku udah pernah nemu si 1Q84, dan mabok aja liat tebelnya, ntaran aja deh bacanya, tp jg penasaran krn bc di sini..

  2. @JNYnita
    Hahaha, untuk bacanya memang perlu perjuangan sih. Wah, dua itu malah belum pernah. Coba Norwegian Wood dulu deh, nggak terlalu tebel kok. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s