Banana Pancake Trail: Phuket

Postingan sebelumnya:
Banana Pancake Trail: Perjalanan Pun Dimulai
Banana Pancake Trail: Kuala Lumpur
Banana Pancake Trail: Tersesat Di Kajang
Banana Pancake Trail: Menuju Phuket

Jika Anda menggunakan bus antar kota (misalnya dari Bangkok atau Hat Yai) untuk mencapai Phuket, Anda pasti akan diturunkan di terminal bus dua Phuket, yaitu terminal bus baru yang letaknya agak jauh dari pusat kota Phuket. Sepertinya hampir semua bus antar kota dari atau ke Phuket, pasti akan menurunkan penumpangnya di sini. Nyaris tidak mungkin berjalan kaki ke pusat kota Phuket dari terminal bus ini, kecuali jika Anda memang seorang maniak jalan kaki. Ada beberapa cara untuk keluar dari terminal yang berbau tubuh anjing karena banyak anjing berkeliaran di sana itu untuk menuju pusat kota Phuket. Pertama, menggunakan taksi, kedua, menggunakan motortaxi alias ojek, dan yang ketiga adalah menggunakan songtaew.

Taksi jelas pilihan yang mahal, ojek pun demikian. Tetapi jika Anda tiba di terminal ini dini hari dan tak ingin menunggu pagi, kedua jenis kendaraan tersebut adalah pilihannya. Tetapi jika Anda pejalan kere seperti saya dan mau menunggu berjam-jam di terminal demi menghemat uang, songtaew adalah satu-satunya pilihan.

Songtaew adalah sebuah kendaraan seperti truk yang bagian belakangnya memiliki atap dan berisi tiga kursi memanjang. Cat kendaraan ini berwarna pink, dan mulai beroperasi sekitar pukul 6 pagi hingga pukul 7 malam (kalau saya tidak salah ingat). Bagi pejalan kere, songtaew laksana kendaraan dari surga karena biayanya murah sekali: hanya 10 baht.

Bus yang saya tumpangi tiba di terminal sekitar pukul setengah 4 pagi. Menunggu di terminal yang bau tubuh anjing bukanlah pilihan yang menyenangkan, tetapi apa boleh buat.. Kami pun menunggu pagi dengan tidur-tidur ayam di bangku terminal sambil menunggu pagi.

Beruntung, sekitar setengah 5 pagi, pintu masuk ke gedung utama terminal – di mana terdapat loket-loket penjualan karcis bus dan loket informasi – dibuka. Dan tambah beruntung ketika ternyata di lantai atas gedung tersebut, terdapat dua ruangan mushola alias surau, satu untuk pria, satu untuk wanita. Lebih berbahagia lagi ketika kami menemukan banyak colokan di sana. Benar-benar tempat yang sempurna untuk menunggu pagi!

Songtaew yang kami nanti benar-benar muncul jam 6 pagi, dan dengan kecepatan tinggi, berputar-putar di sekitar phuket town sebelum akhirnya berhenti di terminal 1, terminal kecil yang berada di pusat kota Phuket. Setelah sempat menanyakan lokasi kami dan lokasi hostel ke seorang karyawan 7-11 dan seorang pelanggan 7-11 yang kebetulan bisa sedikit bahasa Melayu, kami mengetahui bahwa hostel kami -Phuket Ghetto Child Hostel – ternyata cukup dekat dengan terminal dan bisa dicapai dengan berjalan kaki.

Well, bisa dibilang kota Phuket pada dasarnya memang tidak terlalu besar, dan Anda mungkin bisa mengelilinginya hanya dengan berjalan kaki, walaupun persentase kemungkinan Anda akan tersesat cukup besar. Lokasi hostel dan guest house di pusat kota Phuket pun biasanya terpusat di daerah dekat terminal atau di sekitar Old Town. Jadi, cukup mudah untuk mencapai hostel Anda (jika Anda menginap di hostel di pusat kota Phuket) setelah Anda tiba di terminal 1.

Apa saja yang bisa dikunjungi di pusat kota Phuket? Pertama, jelas Old Town Phuket, yaitu barisan bangunan-bangunan tua yang terdapat di jalan Thalang Road dan sekitarnya. Sementara objek lain yang bisa dikunjungi adalah beberapa objek wisata agama yang sayangnya tidak saya kunjungi (karena memang tidak tertarik).

Hal utama untuk dikunjungi oleh para wisatawan yang datang ke Phuket memang pantai-pantainya, yang terkenal indah. Ada banyak pantai di Phuket, mulai dari Patong yang sangat terkenal dan sangat crowded, Kamala, hingga Kata. Karena jaraknya yang jauh dari kota dan sedikitnya waktu saya di Phuket, saya akhirnya hanya mengunjungi dua pantai saja, yaitu Patong dan Kamala.

Untuk mencapai pantai-pantai di Phuket, Anda bisa menyewa motor atau menggunakan songtaew yang biasanya berhenti di sekitar pasar di Ranong Road. Jangan khawatir, ada banyak songtaew dengan berbagai tujuan yang bisa Anda pilih biasanya pemberhentian terakhir adalah pantai. Biaya untuk menggunakan songtaew berbeda-beda tergantung jarak. Misalnya, untuk mencapai Patong, kami harus membayar sekitar 35 Bath, sedangkan untuk mencapai Kamala kami menghabiskan 50 Baht. Hal ini karena memang jarak ke Kamala lebih jauh daripada ke Patong.

Patong adalah pantai yang tepat bagi Anda pecinta tempat yang crowded, sedangkan Kamala lebih sepi. Wilayah Patong benar-benar mengingatkan saya pada Legian dan Kuta: hedonnya, crowdednya, dan panasnya. Sedangkan saya pribadi lebih menyukai Kamala karena lebih tenang walau tetap banyak saja dipenuhi oleh turis-turis barat. Pantainya sendiri sebenarnya tidak seindah yang dilukiskan di foto-foto yang beredar di internet, percayalah, Indonesia memang memiliki pantai yang lebih indah.

Oh iya,songtaew yang bisa membawa kita dari pusat kota Phuket ke pantai biasanya mulai muncul jam setengah 7 pagi, dan songtaew terakhir dari pantai ke pusat kota Phuket berangkat sekitar pukul 4 atau 5 sore. Lebih sore dari itu, dan Anda tidak bisa pulang ke hostel, kecuali menggunakan tuk-tuk yang jelas lebih mahal.. Jadi, jika terobsesi untuk melihat sunrise atau sunset di Phuket, ada baiknya Anda mencari penginapan di sekitar pantai.

Jujur saja, Phuket sebenarnya tidak terlalu istimewa. Tak seperti ekspektasi saya yang memang amat tinggi. Tetapi Phuket membangkitkan satu kesadaran dalam diri saya bahwa saya memang benar-benar menyukai taman. Hal ini baru saya sadari ketika iseng duduk-duduk di taman kota Phuket. Kesadaran yang nantinya akan semakin besar ketika saya mengunjungi Bangkok.

Setelah Phuket, tujuan kami selanjutnya adalah Bangkok. Kami menjadwalkan untuk mengambil bus malam sehingga menghemat biaya penginapan. Biaya bus bervariasi, berkisar antara 600 Baht hingga 900 Baht, tergantung jenis bus yang Anda gunakan. Lama perjalanan sekitar 10 jam, dan kami memutuskan untuk mengambil bus pukul 8 malam, dan dijadwalkan akan tiba di terminal Bangkok sekitar pukul 6 pagi.

Lagi-lagi, kami harus ke terminal 2 dengan menggunakan songtaew dari terminal 1. Dan lagi-lagi, kami menunggu keberangkatan bus sambil mengisi baterai smartphone kami penuh-penuh di dalam surau…

(Bersambung ke postingan berikutnya……. kalau masih mood untuk menuliskannya. :P )

Credit: Foto-foto di atas adalah karya Aulia Dwi Nastiti. You can visit her blog here.

Advertisements

8 thoughts on “Banana Pancake Trail: Phuket

  1. Pingback: Banana Pancake Trail: Bangkok, Titik Tengah Perjalanan Kami | @ekkyrezky

  2. Pingback: Banana Pancake Trail: Buruknya Kesan Pertama Kamboja | @ekkyrezky

  3. Pingback: Banana Pancake Trail: Terpukau Oleh Magisnya Temples of Angkor | @ekkyrezky

  4. Pingback: Banana Pancake Trail: Menikmati Pizza Ganja Di Phnom Penh | @ekkyrezky

  5. Pingback: Banana Pancake Trail: Betapa Menyenangkannya Ho Chi Minh City | @ekkyrezky

  6. Pingback: Banana Pancake Trail: Menikmati Pho Terenak Di Dunia Di Dalat | @ekkyrezky

  7. Pingback: Banana Pancake Trail: Soal Bujet, Perencanaan, Dan Hostel | @ekkyrezky

  8. Pingback: Banana Pancake Trail: Epilog | @ekkyrezky

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s