Banana Pancake Trail: Bangkok, Titik Tengah Perjalanan Kami

Postingan sebelumnya:
Banana Pancake Trail: Perjalanan Pun Dimulai
Banana Pancake Trail: Kuala Lumpur
Banana Pancake Trail: Tersesat Di Kajang
Banana Pancake Trail: Menuju Phuket
Banana Pancake Trail: Phuket

Kami tiba sekitar pukul 6 pagi di Sai Tai Mai alias Southern Bus Terminal. Semua bus dari dan menuju daerah Thailand selatan (Phuket, Krabi, Hat Yai) memang berangkat dan tiba di terminal selatan ini. Menurut Lonely Planet yang dibawa oleh Uli, cara paling murah dari Sai Tai Mai ke daerah Khao San Road, tempat hostel yang sudah kami booking berada, adalah menggunakan bus kota bernomor 511. Bus ini berangkat sekitar setiap 10 menit sekali, dan untuk keberadaannya bisa ditanyakan ke petugas-petugas di terminal. Sekitar 15-20 menit berkendara menggunakan bus, kita akan sampai di Ratchadamnoen Road, dan di sanalah kita turun. Khao San Road ada di belakang Ratchadamnoen Road tersebut, tinggal berjalan sedikit untuk mencapainya.

Jika Anda kurang menyukai kehidupan malam yang ramai dan berisik, Khao San Road sebenarnya bukan tempat yang tepat untuk menginap. Kehidupan sebenarnya daerah tersebut memang baru dimulai setelah matahari tenggelam, dan berakhir sekitar pukul 3 atau 4 pagi. Tetapi jika tetap ingin merasakan jantung daerah turis di Bangkok dan bisa mentolerir keramaian di malam hari hostel-hostel di Chakrapong Road atau Tanao Road mungkin bisa jadi pilihan karena letaknya yang tak jauh dari Khao San tetapi tidak benar-benar di pusat keberisikan.

Tujuan wisata kami hari pertama adalah Chatuchak Weekend Market. Kebetulan, ketika kami memang tiba di Bangkok hari Minggu, jadi siang itu juga setelah check in di penginapan dan membersihkan diri, kami langsung menuju Chatuchak untuk melihat pasar terkenal yang hanya ada di hari Sabtu dan Minggu saja itu. Dari hasil tanya sana-sini yang kami lakukan, ternyata kami bisa naik bus 511 lagi dari Ratchadamnoen. Bilang saja dengan kondektur busnya bahwa ingin naik Skytrain dari stasiun Ratchadewi. Si kondektur pasti paham dan akan memberi tahu Anda di mana Anda akan turun.

Perlu berjalan beberapa ratus meter dulu untuk mencapai stasiun Skytrain Ratchadewi. Setelah itu, kita bisa membeli tiket langsung di mesin tiket. Sayangnya, mesin tiket tersebut hanya menerima uang kon sehingga jika hanya memiliki uang kertas, kita harus menukarkannya dahulu ke counter penukaran uang koin.

Percayalah, jika Anda pernah mencoba naik MRT di Singapura, Monorail atau kereta-kereta dalam kota di Kuala Lumpur, dan mencoba Skytrain di Bangkok, Anda pasti akan berpikir, “Kapan Indonesia, setidaknya Jakarta, punya sistem kereta dalam kota yang baik seperti ini, ya?”

Kami lalu turun di stasun Mo Chit, pemberhentian terakhir Skytrain jalur Sukhumvit, lalu turun. Kami langsung menemukan Chatuchak Park, dan di dalam taman tersebut, akan ada tanda-tanda yang menunjukkan ke mana arah pasar Chatuchak. Lagipula, hampir semua orang yang turun di stasiun Mo Chit hari Sabtu dan Minggu pasti akan ke Chatuchak Weekend Market, jadi jangan khawatir tak tahu arah.

Chatuchak adalah tempat yang tepat untuk membeli oleh-oleh, karena rata-rata harganya lebih murah daripada jika Anda misalnya membelinya di kawasan Khao San. Dan semua barang bisa ditawar, jadi jangan takut atau malu untuk menawar. Memiliki teman travelling cewek adalah satu nilai plus (meskipun ada nilai minusnya juga: seperti tak akan pernah berhenti belanja!).

Bagi pecinta kuliner, Chatuchak juga tempat yang tepat untuk menghabiskan bujet travelling Anda. Bagi yang muslim, harus berhati-hati makan sate-sate yang banyak dijual di sini, karena banyak yang merupakan daging babi. Sayangnya saya sendiri sempat “tertipu” dan dua kali makan sate babi di Bangkok…. (tapi girang karena akhirnya nyobain).

Ngomong-ngomong soal kuliner, satu makanan favorit saya di Bangkok adalah Mango Sticky Rice (thanks to Indy yang sudah kasih rekomendasi). Sumpah, makanan ini enak sekali. Harganya biasanya 30-35 Baht, dan bisa dibeli di Khao San di malam hari. Sebenarnya isinya sederhana: potongan-potongan besar mangga manis, dihidangkan bersama nasi ketan dan biasanya diberi tambahan susu. Wajib coba.

Sayangnya, untuk ukuran backpacker kere ala kami, makan-makanan di Thailand terhitung cukup mahal di kantong: untuk makan enak pakai nasi, perlu setidaknya mengeluarkan 50-100 Baht sekali makan. Itu untuk makanan-makanan yang murah, yang mahal? Tentu lebih tinggi lagi. Inilah sebabnya tak banyak makanan yang kami coba, termasuk Tom Yam yang tersohor itu. Makanan paling murah tapi mengenyangkan di sana? Jelas Pad Tai! Hanya sekitar 35 – 50 Baht, dan gampang ditemui: di sepanjang Khao San, ada sekitar 10 penjual Pad Tai yang berbeda. Pad Tai juga bisa ditemukan di pagi hari.

Untuk menyiasati harga makanan yang mahal ini, kami, terutama dua cewek yang jadi teman seperjalanan saya, mengandalkan makanan beku di 7-11. Selain rata-rata murah, hanya sekitar 30an Baht, makanan ini juga bisa diketahu apakah mengandung babi atau tidak. Kalau saya memang dasarnya suka jajan, jadi saya sering tak mengikuti jejak kedua teman saya tersebut dan memilih mencoba makanan yang ada di pinggir jalan – walaupun akhirnya saya memang jadi yang paling boros diantara kami bertiga.

Selain Chatuchak, tempat lain yang kami kunjungi jelas: Grand Palace. Ini adalah objek yang wajib dikunjungi, meskipun harga tiket masuknya benar-benar mencekik: 500 Baht. Untuk menuju ke sana dari Khao San benar-benar mudah: tinggal berjalan kaki saja. Anda akan melewati Sanam Luang, sebuah lapangan besar yang berfungsi layaknya alun-alun di Yogyakarta. Jika berjalan ke arah Grand Palace melalui Sanam Luang, harap berhati-hati dengan orang-orang tak dikenal, karena ada orang-orang lokal yang memiliki sebuah modus “penipuan”: mengatakan bahwa Grand Palace sedang ada acara peribadahan dan baru akan dibuka jam 2 siang, lalu mengajak turis mengunjungi Chao Praya, alias sungai besar yang memang tak jauh dari situ. Menurut situs-situs yang belakangan saya kunjungi, ternyata orang-orang ini biasanya akan mengajak turis menggunakan tuktuk mereka, mengajak ke Chao Praya, lalu mengantar turis ke toko perhiasan atau cenderamata. Kami sempat mendapatkan tawaran tersebut, dan sempat nyaris percaya karena bapak-bapak yang menemui kami memperkenalkan dirinya sebagai dosen dari sebuah universitas yang letaknya tak jauh dari sana. Ada juga penipuan lainnya, yakni dalam bentuk mengajak turis masuk ke Grand Palace lewat pintu yang tak resmi. Saran saya, lewat jalur resmi saja, yang letaknya tak jauh dari Sanam Luang.

Walau harga tiketnya teramat mahal, tetapi dengan banyaknya hal yang bisa kita lihat di dalam Grand Palace, rasanya tak terlalu rugi lah. Walaupun tetap saja, 500 baht…..

Tempat lain yang juga bisa dikunjungi adalah Wat Pho, kuil di mana patung Buddha tidur berada. Harga tiket masuknya adalah 100 baht, tak terlalu mahal walaupun isinya menurut saya tidak terlalu menarik. Hanya patung Buddha yang ukurannya gigantis sedang tidur saja yang membuat kami mengunjungi tempat ini, selain itu isinya tak berbeda jauh dengan kuil yang kami lihat di Grand Palace.

Tempat lain yang sempat kami kunjungi atau lihat adalah Democracy Monument. Letaknya berada di tengah-tengah persimpangan di ujung Ratchadamnoen, jadi tak mungkin menginjakkan kaki di sana – kecuali jika Anda cukup nekat untuk melakukannya. Berjalan lagi ke arah timur, Anda juga bisa menemukan Wat Ratchanaddaram dan Wat Suthat. Sayangnya kami ke sana ketika sudah malam, jadi hanya duduk-duduk saja di taman di depan Wat Ratchanaddaram. Tamannya lumayan enak, dan yang terpenting sepi. Lumayan pas bagi yang ingin berkontemplasi atau menyendiri.

Sebenarnya ada banyak tempat lain yang bisa menjadi tujuan wisata di kota ini: mulai dari Wat-Wat lain yang banyak sekali di daerah Rattanakosin alias kota tua-nya Bangkok yang menjadi pusat peninggalan budaya dan politik Thailand, Chao Praya, atau Float Market. Sayangnya, dengan bujet dan waktu terbatas membuat kami hanya mengunjungi tempat-tempat di atas saja. Well, setidaknya menyisakan tempat yang wajib dikunjungi kalau kami kembali ke kota itu suatu hari nanti.

Semoga.

(Bersambung ke postingan berikutnya……. kalau masih mood untuk menuliskannya. :P )

Credit: Foto-foto di atas adalah karya Aulia Dwi Nastiti. You can visit her blog here.

Advertisements

9 thoughts on “Banana Pancake Trail: Bangkok, Titik Tengah Perjalanan Kami

  1. Pingback: Banana Pancake Trail: Buruknya Kesan Pertama Kamboja | @ekkyrezky

  2. Pingback: Banana Pancake Trail: Terpukau Oleh Magisnya Temples of Angkor | @ekkyrezky

  3. Pingback: Banana Pancake Trail: Menikmati Pizza Ganja Di Phnom Penh | @ekkyrezky

  4. Pingback: Banana Pancake Trail: Betapa Menyenangkannya Ho Chi Minh City | @ekkyrezky

  5. Pingback: Banana Pancake Trail: Menikmati Pho Terenak Di Dunia Di Dalat | @ekkyrezky

  6. Pingback: Banana Pancake Trail: Soal Bujet, Perencanaan, Dan Hostel | @ekkyrezky

  7. Pingback: Banana Pancake Trail: Epilog | @ekkyrezky

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s