Banana Pancake Trail: Buruknya Kesan Pertama Kamboja

Postingan sebelumnya:
Banana Pancake Trail: Perjalanan Pun Dimulai
Banana Pancake Trail: Kuala Lumpur
Banana Pancake Trail: Tersesat Di Kajang
Banana Pancake Trail: Menuju Phuket
Banana Pancake Trail: Phuket
Banana Pancake Trail:Bangkok, Titik Tengah Perjalanan Kami

Bagaimana menuju Kamboja via jalan darat dari Thailand?

Ada beberapa cara untuk menuju Kamboja, khususnya Siem Reap, melalui jalan darat dari Bangkok. Salah satu yang paling direkomendasikan menurut Lonely Planet adalah dengan menggunakan kereta hingga kota perbatasan, Aranyaprathet, lalu menggunakan tuk-tuk hingga perbatasan Thailand-Kamboja, dan kemudian menggunakan bus dari kota perbatasan di Kamboja, Poipet, menuju Siem Reap atau kota-kota besar lain di Kamboja.

Masalahnya, kereta dari Bangkok ke Aranyaprathet hanya ada dua kali dalam sehari yakni pukul 6 pagi dan 1 siang. Karena jika mengambil yang jam satu siang akan membuat kami mencapai Siem Reap tengah malam, tentu kami lebih memilih perjalanan pagi. Dari informasi yang kami dapat, satu-satunya cara menuju stasiun Hua Lampong di subuh-subuh begitu adalah menggunakan taksi atau tuk-tuk. Menurut orang di hostel kami, untuk menghindari harga selangit yang biasa dipasang oleh supir-supir taksi di sekitaran jalan Khaosan, kami disarankan untuk menyetop taksi yang sedang lewat dan meminta supirnya menggunakan argo. Dan memang efektif, karena dari Khaosan ke Hua Lampong kami hanya mengeluarkan uang sekitar 26 Baht saja.

Di Hua Lampong kami langsung membeli tiket ke Aranyaprathet, sekitar 48 Baht per orang, dan demi tidak mengulangi insiden tersasar di Kajang lagi, kali ini kami berulang kali memastikan kereta yang perlu kami naiki. Kereta ke Aranyaprathet bukanlah kereta yang mewah, melainkan tak ubahnya seperti kereta ekonomi di Indonesia. Kereta ini akan berhenti di stasiun-stasiun yang dilewati dan banyak penumpang yang naik-turun dengan bebasnya. Meski sederhana, kereta ini tetap nyaman, apalagi kita juga bisa melihat aktifitas orang Thailand dari dekat.

Perjalanan ke Aranyaprathet menghabiskan waktu hingga tujuh jam, dan kami tiba di kota perbatasan itu ketika matahari sudah berada di puncak tertingginya. Begitu turun, Anda akan melihat banyak tuk-tuk yang bersiap membawa Anda ke perbatasan – jangan lupa melakukan tawar menawar dengan sang supir karena memang tak ada harga pasti yang dipatok oleh mereka. Bertiga, kami berhasil mendapatkan harga 100 Baht. Tak terlalu buruk. Selain tuk-tuk, moda transportasi lain untuk menuju perbatasan adalah ojek motor dan juga songtaew. Sebenarnya menggunakan songtaew akan benar-benar menghemat uang Anda, tetapi jenis kendaraan ini lebih banyak digunakan oleh warga lokal dan biasanya selalu amat penuh, jadi tak direkomendasikan.

Satu hal yang membuat kami benar-benar khawatir di Aranyaprathet adalah ketika tuk-tuk kami tiba-tiba disetop oleh sebuah mobil dengan dua petugas. Mereka lalu memeriksa paspor-paspor kami sebentar, sebelum mempersilakan kami melanjutkan perjalanan. Entah apa maksudnya pemeriksaan paspor itu, yang pasti untungnya hal itu tidak menimbulkan hal negatif dalam perjalanan kami.

Catatan penting: supir tuk-tuk di Aranyaprathet pasti akan selalu mengajak penumpangnya singgah di sebuah gedung di pinggir jalan. Untuk pengurusan visa, katanya. Padahal, ini adalah bentuk penipuan untuk menjebak turis-turis yang belum memiliki visa: Anda akan diminta biaya 20 USD untuk sebuah visa bodong. Untuk menghindarinya, Anda tinggal katakan saja bahwa kami tidak memerlukan visa karena berasal dari Indonesia.

Kami diturunkan tak jauh dari gedung “penipu” itu. Dari sana, kami harus berjalan kaki karena jalanan memang sangat macet dengan banyaknya truk-truk yang melewati perbatasan di Aranyaprathet ini. Akan ada tanda imigrasi Thailand di sebelah kiri jalan, dan di situ kami mengantri di sebuah gedung imigrasi untuk keluar dari wilayah Thailand. Setelah itu, berjalan lagi beberapa ratus meter dan Anda akan temukan kantor imigrasi Kamboja di sebelah kanan jalan. Kantornya amat kecil, sehingga turis-turis harus mengantri panjang hingga keluar gedung. Imigrasi Kamboja ini memang sudah terkenal lambat sehingga kami pun sampai harus mengantri hingga dua jam.

Tetapi yang paling parah dari imigrasi Kamboja adalah: para petugasnya yang benar-benar tidak malu mendapat suap dari mereka yang tidak mau mengantri panjang. Petugas-petugas ini biasanya berjaga di luar gedung, dan turis atau warga lokal yang ingin langsung melewati imigrasi tanpa mengantri bisa langsung menghampiri mereka, menyerahkan paspor dan uang, menunggu cap sebentar, lalu melenggang santai. Dan semuanya dilakukan di depan semua turis yang berjejer tak sabar di sebuah gedung imigrasi yang amat sempit! Lebih parah lagi, uang-uang yang disetorkan oleh para penyuap itu dengan santainya dimasukkan ke dalam laci sebuah meja yang berada di dalam gedung, tepat di samping antrian. Akibatnya, turis yang sedang mengantri akan diminta bergeser sebentar demi petugas itu bisa membuka laci dan memasukkan uang ke dalamnya. Luar biasa!

Saya sering mendengar petugas imigrasi di Indonesia yang katanya sering memeras atau menerima suap dari turis/warga Indonesia yang akan atau baru pulang dari bepergian ke luar negeri, tetapi saya tidak pernah melihat langsung praktek yang benar-benar tak tahu malu seperti yang saya alami di imigrasi Kamboja ini. Setelah mengantri dua jam di udara yang begitu panas dan melihat langsung kotornya praktek imigrasi di Kamboja, satu kesimpulan yang saya dapatkan adalah: imigrasi Kamboja adalah yang terburuk yang pernah saya alami.

Dari kantor imigrasi, ada bus khusus turis yang disediakan gratis oleh pemerintah Kamboja untuk menuju terminal bus di Poipet. Dari sana terminal sepi di Poipet itu, kami lalu memesan tiket untuk menuju SIem Reap: hanya 9 USD per orang. Sebenarnya ada pilihan lain selain bus, yakni taksi. Untuk taksi, harga yang dipatok, kalau saya tidak salah ingat, adalah 40 USD per taksi hingga Siem Reap. Tetapi demi menghemat setiap USD yang kami miliki, kami pun memilih bus.

Di sinilah insiden kedua terjadi. Setelah semua penumpang masuk ke dalam bus, tiba-tiba seorang petugas imigrasi masuk ke dalam bus dan mengumumkan bahwa ada kesalahan cap yang dibuat oleh petugas imigrasi Kamboja siang itu sehingga kami harus menunggu sampai semua paspor dikoreksi. Sebenarnya kesalahannya sederhana: seharusnya cap tanggal yang ada di paspor kami adalah 15 Januari (tanggal kami memasuki wilayah Kamboja), tetapi di beberapa paspor, petugas mengecap tanggal 14 Januari. Kesalahan kecil ini membuat pemberangkatan bus ditunda karena sebagian penumpang memang mengalami kesalahan cap ini. Kami harus menunggu lebih dari setengah jam karena semua paspor yang salah cap itu harus dibawa lagi ke imigrasi di perbatasan untuk kemudian dicap ulang.

Menjelang matahari tenggelam, kami baru bisa keluar dari Poipet.

Butuh waktu sekitar 4 jam untuk mencapai Siem Reap, dan kami tiba di kota itu sekitar pukul setengah 9 malam. Kami diturunkan di terminal di pinggir kota, dan hebatnya terminal ini begitu kecil dan begitu gelap. Karena Siem Reap memang tidak memiliki transportasi massal, satu-satunya transportasi umum yang bisa digunakan oleh turis untuk bepergian di kota ini adalah kendaraan semacam tuk-tuk. Dan lagi-lagi, di sini, kemampuan untuk melakukan tawar menawar benar-benar diperlukan karena para supir tuk-tuk ini cukup tinggi dalam memasang harga.

Siem Reap adalah kota yang, menurut pandangan pertama kami, eksotis. Ada paradoks di jalanan kota ini: hotel-hotel mewah di kanan kiri jalan, tetapi jalanan malam hari amat sepi dan gelap karena minimnya lampu penerangan jalan, apalagi jalanannya pun kering dan berdebu. Tetapi yang paling membuat saya terheran-heran adalah, ada begitu banyak restoran Korea di kota ini, plus banyak sekali bus-bus pariwisata asal Korea seperti Hana. Korean Wave tampaknya juga menyambar kota ini dengan parahnya….

Kami tiba di hostel yang sudah kami pesan sebelumnya pukul 9 malam, dan di sini masalah kembali berlanjut. Entah kenapa, kami tidak mendapatkan kamar yang sudah kami pesan sekitar tiga minggu sebelumnya dan pihak hostel mengatakan bahwa seluruh kamar sudah terisi penuh. Manajemen hostel yang luar biasa.

Kami jelas emosi dengan perlakuan seperti itu. Akibatnya kami, terutama dua cewek yang jadi rekan perjalanan saya, berdebat habis dengan orang yang menjaga hostel itu, dan menuntut agar kami bisa mendapatkan hak kami malam itu. Masalah baru selesai ketika orang yang bertanggung jawab penuh atas hostel itu datang dan setuju mencarikan kamar di hostel lain sesuai yang kami pesan, dengan fasilitas yang sama. Kami pun dibawa ke hostel yang tak jauh dari sana, dan kejutan akhirnya hadir di akhir perjalanan kami hari itu: kami mendapatkan hostel yang benar-benar bagus! Untuk harga yang sama, kami mendapatkan kamar yang lebih baik dari yang dijanjikan – saya pribadi bahkan mendapatkan “upgrade” ke kamar untuk dua orang dengan spring bed king size di dalamnya. Lebar betul senyum saya malam itu.

Malam kami pun diakhiri dengan makan malam di pinggir jalan di dekat hostel. Kami menemukan seorang penjual mie dengan grobak motor, dan karena sulit mencari makanan lain yang lebih baik, kami pun memilih untuk makan di situ. Mienya unik: ketika dikeluarkan dari bungkus layaknya indomie, mienya sudah melar alih-alih keras seperti mie instan yang kita kenal selama ini. Mie tersebut lalu digoreng bersama sayur-sayuran dan juga telur dadar, dan dihidangkan dengan saus khusus yang rasanya agak aneh tapi enak. Harganya hanya 30 Baht.

Oh iya, di Kamboja memang ada 3 jenis mata uang yang bisa turis gunakan: di daerah perbatasan dan di beberapa kota, Baht Thailand masih diterima sebagai alat pembayaran, selain itu US Dollar juga bisa digunakan untuk membayar transportasi antar kota, hostel, kawasan wisata, bahkan untuk membeli makanan dan minuman di minimarket, dan yang terakhir mata uang Kamboja, Riel. Yang unik, jika kita berbelanja di minimarket, terkadang kasir akan memberikan kembalian berupa Riel. 1 US Dollar biasanya dihargai sama dengan 4000 Riel.

Setelah kenyang dan rencana untuk esok hari sudah dimatangkan, Anda tahu apa yang perlu dilakukan? Betul: menikmati spring bed king size yang jadi rezeki tak terduga hari setelah insiden-insiden buruk yang terjadi berturut-turut di hari pertama kami di Kamboja. Sebuah ganjaran yang cukup setimpal. 😀

(Bersambung ke postingan berikutnya……. kalau masih mood untuk menuliskannya. :P )

Credit: Foto-foto di atas adalah karya Aulia Dwi Nastiti. You can visit her blog here.

Advertisements

9 thoughts on “Banana Pancake Trail: Buruknya Kesan Pertama Kamboja

  1. Pingback: Banana Pancake Trail: Terpukau Oleh Magisnya Temples of Angkor | @ekkyrezky

  2. Pingback: Banana Pancake Trail: Menikmati Pizza Ganja Di Phnom Penh | @ekkyrezky

  3. Pingback: Banana Pancake Trail: Betapa Menyenangkannya Ho Chi Minh City | @ekkyrezky

  4. Pingback: Banana Pancake Trail: Menikmati Pho Terenak Di Dunia Di Dalat | @ekkyrezky

  5. Pingback: Banana Pancake Trail: Soal Bujet, Perencanaan, Dan Hostel | @ekkyrezky

  6. Pingback: Banana Pancake Trail: Epilog | @ekkyrezky

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s