Banana Pancake Trail: Terpukau Oleh Magisnya Temples of Angkor

Postingan sebelumnya:
Banana Pancake Trail: Perjalanan Pun Dimulai
Banana Pancake Trail: Kuala Lumpur
Banana Pancake Trail: Tersesat Di Kajang
Banana Pancake Trail: Menuju Phuket
Banana Pancake Trail: Phuket
Banana Pancake Trail:Bangkok, Titik Tengah Perjalanan Kami
Banana Pancake Trail: Buruknya Kesan Pertama Kamboja

Komplek Temples of Angkor terletak di sebelah utara pusat kota Siem Reap. Ada beberapa cara yang bisa digunakan untuk mencapai dan mengelilinginya, yakni menggunakan sepeda jika Anda memiliki stamina yang bagus dan waktu yang berlimpah, menggunakan tur menggunakan bus mini, atau yang paling umum, menggunakan kendaraan semacam tuk-tuk yang bisa disewa seharian. Untuk menyewa sepeda, kalau tidak salah dikenakan biaya USD 2-3 seharian, sementara untuk tuk-tuk biayanya berkisar antara USD 12-15. Saya tidak tahu untuk bus, tetapi yang pasti lebih mahal dari itu. Sekere apapun Anda, tidak disarankan untuk berjalan kaki. Pastikan stamina Anda bagus jika ingin menggunakan sepeda, karena kompleks candi-candi Angkor ini memang sangat luas.

Beruntung hostel yang kami tempati di Siem Reap juga menyediakan tuk-tuk untuk disewa seharian mengelilingi kawasan candi Angkor. Kami mendapatkan harga USD 15 (termasuk biaya traktir makan sang supir sepulangnya dari Angkor), tidak murah, walau tidak terlalu mahal juga. Bagi solo backpacker disarankan untuk mencari joinan karena tuk-tuk ini memang bisa membawa hingga empat atau lima penumpang.

Karena ingin melihat sunrise di Angkor Wat yang tersohor itu, kami pun berangkat pukul lima pagi dari hostel, dan terpaksa merelakan sarapan gratis yang sebenarnya disediakan oleh pihak hostel. Jalanan kota Siem Reap di subuh hari ternyata amat gelap – dan jarak ke kawasan Angkor ternyata sangat jauh, sampai-sampai kami menertawakan ide menggunakan sepeda yang sempat terlintas di hari sebelumnya. Biaya masuk kawasan angkor adalah USD 20, berlaku untuk satu hari penuh. Ada juga paket dua hari dan tujuh hari bagi mereka yang memang merasa tak puas jika mengelilingi Angkor selama satu hari saja. Well, kawasan Angkor memang begitu luas dan begitu banyak candi yang bisa dilihat – buku Lonely Planet pun merekomendasikan trip tiga hari untuk benar-benar mengelilingi kawasan Angkor.

Angkor Ticket

Tiket masuk ke kawasan Angkor ini cukup unik, pengunjung sampai harus difoto terlebih dahulu dan wajib menyerahkan paspor untuk didata selengkap-lengkapnya. Tiket juga berulang kali dicek, terutama ketika memasuki kawasan candi, sehingga tak heran di beberapa rombongan, mereka menggunakan tag khusus yang dikalungkan di leher untuk membawa dan memperlihatkan tiket dengan mudah.

Kawasan Angkor Wat sudah sangat ramai bahkan pukul setengah 6 pagi itu. Turis-turis asing, apalagi mereka yang membaca Lonely Planet dan tidak ikut tur, memang berlomba-lomba untuk datang pagi demi mencari spot yang bagus untuk melihat dan mengabadikan sunrise di Angkor Wat. Sialnya, hari itu langit di atas kawasan Angkor berawan sehingga matahari yang dinantikan tak kunjung terlihat – ketika akhirnya terlihat, ternyata sudah cukup tinggi di angkasa.

Tak salah rasanya jika Angkor Wat menjadi candi yang paling terkenal di dunia dibandingkan candi-candi lain di kawasan Temples of Angkor seperti Bayon atau Ta Prohm. Selain luar biasa megah, candi ini juga tetap menyimpan magi yang bisa membuat terkagum-kagum dan sedikit merinding. Angkor Wat juga merupakan kawasan candi yang terindah dibandingkan candi-candi Angkor lainnya, mungkin juga karena perawatan yang lebih baik. Jika beruntung datang ketika turis tak terlalu ramai, Angkor Wat adalah salah satu tempat yang bagus untuk menikmati “kedamaian”. Mengunjungi candi ini memang disarankan dilakukan pagi-pagi sekali, karena sekitar pukul 7 atau 8, rombongan turis dalam jumlah yang lebih banyak akan datang menyerbu.

Terbatasnya waktu yang ada membuat kami harus mengatur prioritas candi mana saja yang perlu dikunjungi. Selain Angkor Wat, kami memutuskan untuk mengelilingi Angkor Thom, yang menurut sejarah merupakan pusat pemerintahan Kerajaan Angkor di masa lalu dan juga Candi Tomb Raider alias Ta Phrom. Di Angkor Tom, salah satu candi utama yang wajib dikunjungi adalah Bayon, sebuah candi yang dihiasi oleh banyak pahatan wajah-wajah manusia. Sementara Ta Phrom lebih terkenal sebagai tempat syuting Lara Croft Tomb Raider, walaupun sebenarnya tidak banyak yang bisa dilihat di candi yang lebih “berantakan” dibandingkan Angkor Wat atau Bayon tersebut. Satu-satunya keistimewaan Ta Phrom adalah akar-akar raksasa pohon-pohon tua di sana, yang membuatnya menjadi telihat eksotis untuk dijadikan latar belakang foto.

Bayon TempleKami memang tak bisa lama di Siem Reap, pukul 3 sore kami harus siap di agen bus untuk menuju ibukota Kamboja, Phnom Penh. Akibatnya, pukul 12 siang kami sudahi perjalanan kami di Angkor – well, hampir 7 jam berkeliling di sana saja sudah membuat badan lelah karena kami berulang kali naik turun tangga, bahkan beberapa kali benar-benar memanjat candi.

Tujuh jam adalah waktu yang terhitung sedikit untuk mengelilingi kawasan Angkor, tetapi sudah cukup untuk benar-benar terkesan dengannya. Bagi saya pribadi, Angkor adalah tempat yang paling mengesankan bagi saya di perjalanan ini. Dan kembali ke sana suatu hari nanti adalah salah satu harapan terbesar saya.

Saya jadi teringat kata-kata seorang turis veteran asal Amerika yang saya ajak bicara di Poipet, “Bagi saya, Angkor adalah tempat yang paling mengesankan di Asia Tenggara.” Saya akhirnya mengerti mengapa.

(Bersambung ke postingan berikutnya……. kalau masih mood untuk menuliskannya. :P )

Credit: Foto pertama di atas adalah karya Aulia Dwi Nastiti. You can visit her blog here.

Advertisements

5 thoughts on “Banana Pancake Trail: Terpukau Oleh Magisnya Temples of Angkor

  1. Pingback: Banana Pancake Trail: Menikmati Pizza Ganja Di Phnom Penh | @ekkyrezky

  2. Pingback: Banana Pancake Trail: Betapa Menyenangkannya Ho Chi Minh City | @ekkyrezky

  3. Pingback: Banana Pancake Trail: Menikmati Pho Terenak Di Dunia Di Dalat | @ekkyrezky

  4. Pingback: Banana Pancake Trail: Soal Bujet, Perencanaan, Dan Hostel | @ekkyrezky

  5. Pingback: Banana Pancake Trail: Epilog | @ekkyrezky

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s