Banana Pancake Trail: Menikmati Pizza Ganja Di Phnom Penh

Postingan sebelumnya:
Banana Pancake Trail: Perjalanan Pun Dimulai
Banana Pancake Trail: Kuala Lumpur
Banana Pancake Trail: Tersesat Di Kajang
Banana Pancake Trail: Menuju Phuket
Banana Pancake Trail: Phuket
Banana Pancake Trail:Bangkok, Titik Tengah Perjalanan Kami
Banana Pancake Trail: Buruknya Kesan Pertama Kamboja
Banana Pancake Trail: Terpukau Oleh Magisnya Temples of Angkor

Ada banyak pilihan bus dari Siem Reap menuju ibukota Kamboja, Phnom Penh, dengan rentang harga berkisar USD 9 – 12. Kami sendiri menggunakan bus yang direkomendasikan oleh pihak hostel – agak lupa nama busnya, tetapi harga tiketnya adalah USD 10. Waktu tempuh perjalanan sekitar 5-6 jam, dan untungnya busnya cukup nyaman meski terlihat amat biasa. Paling tidak dengkul saya tidak terlalu tertekan dengan kursi di depan lah.

Kami tiba di Phnom Penh (kalau tidak salah di sekitar Orussey Market) sekitar pukul 10 malam dan langsung diserbu dengan supir-supir tuk-tuk yang ingin mengantarkan kami ke hostel. Setelah melakukan tawar menawar, akhirnya disepakati harga USD 3 untuk tiga penumpang. Tetapi ternyata hostel yang kami booking tak jauh dari tempat itu, hanya dua menit perjalanan menggunakan tuk-tuk! Kami pun menangisi USD 3 yang “terbuang” begitu saja…

Phnom Penh adalah kota yang cukup unik karena jalan-jalannya tidak dinamai dengan nama orang, nama daerah, atau semacamnya, tetapi berupa angka. Hostel yang kami tempati, misalnya, berada di Street 111, sementara museum Tuol Sleng ada di Street 113. Jadi jangan heran jika misalnya Anda melihat peta Phnom Penh, isinya dipenuhi dengan angka-angka.

Jalanan kota ini juga hampir sama parahnya dengan Siem Reap, meskipun agak lebih teratur. Dan lagi-lagi, tak ada bus kota di kota ini. Untuk berkeliling kota, pilihannya antarai lain ojek motor, taksi, atau tuk-tuk. Kami sendiri sempat menyewa tuktuk selama kurang lebih setengah hari untuk ke beberapa tempat sekaligus, dan menelan biaya USD 13 bertiga.

Lagi-lagi, karena waktu yang terbatas (kami harus menuju Ho Chi Minh City sore itu juga menggunakan bus), hanya beberapa tempat yang bisa kami kunjungi di Phnom Penh. Tempat pertama yang kami kunjungi karena memang wajib kunjung jika di Phnom Penh adalah Tuol Sleng Genocide Museum. Dulunya, museum ini merupakan bekas sekolah yang dijadikan tempat penyiksaan oleh rezim Khmer Merah di tahun 1970an. Hampir empat dekade sudah berlalu sejak itu, tetapi tempat ini masih menyeramkan hingga saat ini. Di dalamnya kita bisa melihat ruang-ruang kelas yang dijadikan tempat untuk menyiksa tahanan, dan penjelasan bagaimana penyiksaan dilakukan. Ada juga galeri foto-foto korban, dan juga alat-alat penyiksaan. Tak heran jika kemudian sempat muncul perasaan lega ketika akhirnya keluar dari tempat itu.

Setelah dari sana, kami pun menuju daerah Riverside untuk mencoba pizza spesial di “Happy Herb’s Pizza” yang direkomendasikan oleh Lonely Planet. Kedai pizza yang terletak di dekat sungai Tonle Sap (semacam percabangan dari sungai Mekong) ini memang menjadi salah satu tujuan perjalanan yang sudah diincar oleh kami sejak jauh-jauh hari, karena satu alasan sederhana: kedai ini menyediakan pizza dengan topping ganja!

Saya tidak tahu apakah ganja benar-benar legal atau tidak di Kamboja, tetapi Happy Herb’s Pizza memang sudah cukup terkenal di kalangan traveller mancanegara karena rekomendasi Lonely Planet bahwa tempat itu menyediakan pizza dengan topping ganja. Karena ingin mencoba apa rasanya dan bagaimana efeknya (lagipula, kapan lagi bisa mencobanya?), kami pun memutuskan untuk makan siang di sana.

Tempatnya ternyata kecil, tidak mewah, dan terlihat seperti kedai makan biasa saja di pinggir jalan Sisowath. Harga pizza-nya pun cukup murah, dan ada beragam variasi topping. Kita pun bisa memilih apakah mau memesan “happy pizza” atau “non-happy pizza”. Tak ada perbedaan harga diantara kedua jenis pizza tersebut. Tentu saja kami memesan “happy pizza”. Ukuran pizza pun cukup besar, kami memilih dua pizza small yang bisa dibagi enam slices per pizza (kalau tidak salah, USD 9 untuk dua loyang small pizza), dan tetap merasa amat kenyang meski dibagi bertiga. Harga birnya pun standar, saya sempat memesan satu kaleng Chang seharga USD 1 karena saking penasarannya dengan bir itu (korban iklan jerseynya Everton!).

Untuk pizza seharga USD 9 untuk dua small pizza, Happy Herb’s Pizza terhitung enak. Dan tentu saja, besar! Jangan mengharapkan ganja yang menjadi topping pizza tersebut berukuran besar dan menutupi pizza-nya (tentu saja tempat itu akan bangkrut jika mereka mengikuti harapan Anda!), tetapi berupa potongan-potongan kecil yang ditaburkan di atas pizza. Ngomong-ngomong, Chang-nya juga enak.

Awalnya memang tidak ada efek yang terasa. Efek samping taburan ganja itu baru terasa sekitar setengah jam kemudian, tepatnya ketika kami mengunjungi Central Market untuk berbelanja oleh-oleh. Dan semakin parah di perjalanan pulang ke hostel. Uli dan Niken tertawa-tawa tak jelas, saya pusing-pusing dan akhirnya ikut tertawa juga. Efek ini berlangsung terus selama beberapa jam, tepatnya sampai kami tertidur karena kepala berat di dalam bus menuju Saigon. Happy Herb’s Pizza adalah tempat yang saya rekomendasikan untuk dikunjungi jika ke Phnom Penh, tapi sepertinya memang lebih baik didatangi jika Anda sedang bepergian bersama teman-teman dekat dan dikunjungi pada malam hari sebelum tidur…

Setengah hari memang waktu yang terlalu sedikit untuk mengunjungi Phnom Penh. Masih cukup banyak tempat yang tidak kami kunjungi di kota tersebut, mulai dari Killing Field hingga Royal Palace. Kami hanya sempat mengunjungi Central Market, pasar dengan arsitektur yang menarik dan kondisi yang bersih dan cukup nyaman dikunjungi. Selain itu, kami juga sempat melihat Independence Monument, yang seperti Democracy Monument di Bangkok, juga terletak di persimpangan besar di sebuah jalan di Phnom Penh.

Satu lagi yang paling berkesan dari Phnom Penh adalah sejenis makanan yang terbuat dari ketan yang sempat saya beli sebelum masuk bus menuju Saigon. Saya lupa menanyakan apa nama makanan itu, yang pasti terbuat dari ketan, dijual menggunakan sepeda, dan dimakan hangat-hangat. Benar-benar enak! Saya pasti akan mencari makanan itu lagi jika suatu saat mengunjungi Phnom Penh lagi.

Selain mencari pizza ganja lagi tentunya.

(Bersambung ke postingan berikutnya……. kalau masih mood untuk menuliskannya. :P )

Credit: Foto-foto di atas adalah karya Aulia Dwi Nastiti. You can visit her blog here.

Advertisements

4 thoughts on “Banana Pancake Trail: Menikmati Pizza Ganja Di Phnom Penh

  1. Pingback: Banana Pancake Trail: Betapa Menyenangkannya Ho Chi Minh City | @ekkyrezky

  2. Pingback: Banana Pancake Trail: Menikmati Pho Terenak Di Dunia Di Dalat | @ekkyrezky

  3. Pingback: Banana Pancake Trail: Soal Bujet, Perencanaan, Dan Hostel | @ekkyrezky

  4. Pingback: Banana Pancake Trail: Epilog | @ekkyrezky

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s