Java Heat: Ambisius, Namun Minus

“Java Heat”, menurut saya, adalah sebuah film yang amat ambisius.

Film ini bercerita tentang seorang Amerika bernama Jake Travers (Kellan Lutz) yang datang ke Indonesia dengan menyamar sebagai asisten pengajar dari Cornell University. Kedatangannya ke sebuah pesta kerajaan membuatnya harus duduk di dalam ruang interogasi polisi karena pesta tersebut berakhir dengan ledakan bom dan dugaan kematian Sultana, anak Sultan Jawa yang diekspektasikan akan menjadi sultan wanita pertama di kerajaan tersebut. Ia pun diinterogasi oleh Letnan Hashim yang menduga ada yang janggal dari Jake dan pengeboman pesta kerajaan tersebut. Ia pun memata-matai Jake, untuk mengetahui apa hubungan dia dengan pengeboman dan apa tujuan dia di Indonesia.

Cerita bertambah rumit karena pengeboman ternyata bukan dilakukan oleh teroris muslim seperti yang diduga, melainkan didalangi oleh seorang pengusaha barang antik bernama Malik (Mickey Rouke). Banyak elemen yang terlibat dalam cerita ini: mulai dari dendam pribadi Travers, penculikan Sultana, upaya pembunuhan Sultan dan perebutan kekuasaan, hingga penjualan perhiasan antik berusia ratusan tahun yang bernilai jutaan dollar.

Karena cerita yang amat rumit itulah, film ini pun terlihat begitu ambisius: ada keinginan yang kuat untuk membuat film ini bercita rasa Indonesia namun berkualitas ala Hollywood. Adanya Kellan Lutz, yang dikenal karena perannya sebagai Emmet Cullen di film Twilight, dan juga Mickey Rouke, yang pernah tampil sebagai Ivan Vanko di Iron Man 2, memperkuat hal itu. Bagi sutradara Conor Allyn, ini bukan untuk pertama kalinya ia membuat film dengan cita rasa Indonesia namun (berusaha) berkualitas layaknya film Hollywood. Sebelumnya, ia juga mensutradarai salah satu film dari trilogi mahal “Merah Putih”, yaitu “Darah Garuda”.

Tema besar film ini memang amat menarik. Rasanya, belum ada film action Indonesia yang menawarkan cerita dengan tingkat kerumitan seperti ini (Hey, bahkan The Raid yang hebat itu ceritanya hanya mengenai penyerbuan ke markas mafia. Sudah, itu saja.). Tingginya tingkat kerumitan cerita tentu diharapkan akan menawarkan twist-twist yang tidak bisa diduga penonton – dan bagi saya, hal tersebut cukup sukses. Inilah yang menjadi nilai lebih dari “Java Heat”.

Sayangnya, tema cerita yang sedemikian besar dan rumit tidak diimbangi dengan pembuatan cerita yang bagus. Walhasil, ada banyak “bolong” di sana-sini yang membuat cerita film ini kadang terasa janggal atau tidak pas. Selain itu, ada banyak “penyimpangan” dan “kesalahan logika” (saya menyebutnya demikian) yang membuat “Java Heat” menjadi kurang nyaman ditonton.

90% film ini berlatar belakang di Yogyakarta, dan karena saya pernah tinggal kurang lebih selama 7 tahun di sana, saya pun mengenal wilayah dan adat masyarakat setempat. Hal itu membuat saya tahu jika ada hal yang janggal dengan film ini. Salah satu contohnya, dalam film ini, digambarkan bahwa jalanan menuju bandara “Jawa” harus melewati daerah tandus yang sepi. Tanda “airport” pun diperlihatkan seperti hanya dibuat menggunakan kayu dan dicat seadanya. Hal itu membuat saya merasa aneh karena rasa-rasanya tidak ada jalanan ke Bandara Adisucipto yang melewati daerah tandus seperti yang diperlihatkan film. Inilah yang saya sebut sebagai “penyimpangan”.

Selain itu, ada banyak kejanggalan dalam film seperti misalnya: bagaimana seorang letnan detasemen 88 seperti Hashim hanya mengenakan seragam polisi biasa ketika melakukan penyerbuan ke tempat persembunyian teroris. Atau bagaimana tidak ada evakuasi masyarakat biasa terlebih dahulu ketika melakukan penyerbuan tersebut. Atau bagaimana anggota detasemen 88 dengan entengnya melepaskan tembakan ke arah teroris padahal ada sang letenan di depannya, dan membuat sang letnan memiliki resiko terkena tembakan dan mati seketika. Ini hanyalah salah satu contoh – ada banyak lagi yang bisa Anda temukan di dalam film.

Tetapi pertanyaan terbesar adalah: sebenarnya bagaimana sistem politik dan keamanan di Jawa dalam film ini? Apakah Jawa bagian dari Indonesia? Lalu mana polisi yang sebenarnya: mereka yang menggunakan seragam tradisional Jawa (seperti Abdi Dalem) dan menggunakan senjata atau polisi seperti Letnan Hashim? Dan bagaimana posisi kedua angkatan bersenjata tersebut? Inilah yang tidak dijelaskan dan membuat penonton (atau setidaknya saya pribadi) bingung.

Hal-hal itulah yang, jujur saja, membuat saya agak kurang nyaman ketika menonton film ini. Kurangnya perhatian terhadap detail-detail seperti itu membuat Java Heat memiliki nilai negatif yang cukup besar, dan itu patut disayangkan. Sayang karena ambisiusnya ide mengenai film ini tidak diikuti dengan pembuatan yang rapi dan penggarapan cerita yang maksimal.

Tetapi film ini tetap harus dipuji karena keberaniannya untuk mengangkat cerita yang rumit dan berliku. Setidaknya, Java Heat memberikan sebuah warna baru yang mungkin bisa membuat perfilman Indonesia, terutama genre action, menjadi lebih kaya.

Satu lagi yang cukup disayangkan: film ini direncanakan akan tayang serentak di Indonesia pada tanggal 18 April 2013 mendatang. Tetapi ternyata, DVD bajakannya sudah banyak beredar di Indonesia, bahkan kabarnya ada yang dalam kualitas Bluray. Waduh!

PS. Terima kasih banyak dihaturkan kepada Monika Astridlia yang memberikan saya undangan untuk hadir di acara nonton bareng Java Heat di Djakarta Theater XXI hari Minggu (14/4) ini. Alhamdulillah, bisa lihat Atiqah Hasiholan dari dekat pakai hotpants merah! *pentung* :p

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s