Banana Pancake Trail: Betapa Menyenangkannya Ho Chi Minh City

Postingan sebelumnya:
Banana Pancake Trail: Perjalanan Pun Dimulai
Banana Pancake Trail: Kuala Lumpur
Banana Pancake Trail: Tersesat Di Kajang
Banana Pancake Trail: Menuju Phuket
Banana Pancake Trail: Phuket
Banana Pancake Trail:Bangkok, Titik Tengah Perjalanan Kami
Banana Pancake Trail: Buruknya Kesan Pertama Kamboja
Banana Pancake Trail: Terpukau Oleh Magisnya Temples of Angkor
Banana Pancake Trail: Menikmati Pizza Ganja Di Phnom Penh

Ada yang menarik dari perjalanan darat menggunakan bus dari Phnom Penh menuju Ho Chi Minh City. Selain karena bisa bertemu dengan rombongan dosen dari Malaysia yang melakukan travelling Kamboja – Vietnam juga, kami bisa melihat deretan kasino di wilayah perbatasan Kamboja. Unik memang. Saya sendiri tidak menyangka di perbatasan negara seperti Kamboja, kami bisa melihat deretan kasino dengan lampu berwarna-warni terang menghiasi gedung-gedungnya. Padahal, wilayah sekitar kasino-kasino ini berada gelap dan seperti terpencil. Tetapi kabarnya kasino-kasino ini biasanya diramaikan bukan hanya pejudi-pejudi Kamboja saja, tetapi juga dari Vietnam. Menarik sekali.

Perbatasan Kamboja memang agak ketat. Beberapa turis diharuskan membuka ransel-ransel mereka untuk mengecek jika ada barang bawaan berbahaya. Saya pun sempat diminta untuk membuka beberapa kantong ransel, tetapi saya tunjukkan saja gunting kuku yang saya beli di Thailand, semacam berkata, “Ini lho, barang berbahaya yang saya bawa cuma gunting kuku ini.” Walhasil hanya bagian terluar ransel saja yang mereka periksa, tak sampai harus membongkar seluruh isi ransel.

Kami tiba di Ho Chi Minh City sekitar pukul 10 malam. Saya agak lupa kami diturunkan di mana, yang pasti cukup jauh juga dari Pham Ngu Lao. Walhasil, kami pun memutuskan untuk menggunakan taksi minivan untuk tiba di daerah turis di HCMC itu. Penginapan kami memang di daerah itu. Pengalaman unik kembali terjadi di sana: ternyata resepsionis hostel tempat kami menginap tak terlalu paham bahasa Inggris, tetapi ia tak kurang akal: ia mengajak kami ke depan komputer lalu mengyuruh kami menggunakan Google Translate! Kreatif, kreatif. Barangkali bisa juga dicoba oleh pengurus hostel lain yang juga kurang cakap bahasa Inggrisnya.

Ho Chi Minh City adalah kota dengan lalu lintas yang lebih parah daripada Jakarta. Jalanannya selalu ramai, terutama oleh sepeda motor. Persis seperti Jakarta. Bedanya, meski ramai, saya tidak pernah melihat jalanan kota HCMC macet total seperti di Jakarta. Ramainya kendaraan bermotor, terutama roda dua yang suka semena-mena di jalan, membuat kota ini adalah kota yang agak kurang bersahabat bagi penyeberang jalan. Memang cukup mengerikan.

Untungnya, kota ini, terutama di daerah turis, memiliki trotoar yang cukup bisa diandalkan. Meski, lagi-lagi seperti Jakarta, trotoar di kota ini juga sering digunakan oleh motor untuk lewat, parkir, atau berjualan ala kaki lima. Hal lain yang juga menyenangkan dari HCMC: di daerah Pham Ngu Lao terdapat taman kota yang cukup besar dan digunakan oleh warga lokal maupun turis bersenang-senang. Ada yang berlatih menari, bermain permainan semacam badminton tetapi menggunakan kaki (belakangan saya baru tahu istilahnya adalah jianzi dalam bahasa Mandarin, dan da cau dalam istilah Vietnam. Saya juga sering melihat anak muda di Kamboja memainkan olahraga ini di taman-taman mereka), maupun hanya duduk-duduk santai bersama teman-teman. Menyenangkan sekali. Tamannya pun asri, terawat. Yang unik, ada juga semacam alat-alat kebugaran di sana! Tak hanya di Pham Ngu Lao. Taman yang serupa juga bisa ditemukan di depan Reunification Palace. Menyenangkan sekali.

Hal lain yang menyenangkan dari Saigon adalah objek-objek wisata utama kota itu yang bisa dikunjungi hanya dengan berjalan kaki. Di Saigon, kami hanya beberapa kali menggunakan kendaraan: taksi ketika tiba, bus ke Da Lat, bus dari Da Lat, dan bus umum ke bandara ketika hendak pulang ke Indonesia. Selebihnya berjalan kaki.

Tempat wisata yang kami kunjungi (karena memang wajib untuk dikunjungi) adalah War Remnants Museum, museum yang menyajikan cerita-cerita dari Perang Vietnam. Anda akan diperlihatkan bagaimana kejamnya perang, dan bagi yang cukup peka, pasti akan menyadari bahwa museum ini semacam “propaganda” anti Amerika Serikat. AS betul-betul dipojokkan di sini, saya jadi penasaran bagaimana perasaan warga AS yang juga banyak mengunjungi museum ini.

Selain itu, wajib juga pergi ke Reunification Palace, istana yang menjadi simbol persatuan antara Vietnam Utara dan Vietnam Selatan. Sebetulnya tak ada yang istimewa dari istana ini, tetapi berfoto di halaman depannya adalah hal yang wajib dilakukan. Desainnya cukup khas, dan merupakan ikon kota Saigon dan juga Vietnam bersatu. Saya juga sempat mengunjungi Ho Chi Minh City Museum, meski sebetulnya tak ada yang terlalu istimewa dari museum ini.

People’s Committee Hall alias City Hall juga menarik untuk dikunjungi. Anda tidak bisa masuk, tetapi depannya, terdapat patung Ho Chi Minh, tokoh kemerdekaan Vietnam yang juga presiden pertama negara tersebut.  Sayang foto-foto yang saya ambil di depan patung tersebut malah rusak karena kamera tablet saya entah mengapa mengalami kerusakan di sana. Ben Than Market juga wajib dikunjungi jika ingin membeli oleh-oleh khas Vietnam. Di sana, banyak sekali pedagang yang berasal atau bisa berbahasa Melayu, dan kami berulang kali disangka turis dari Malaysia.

Berkunjung ke Ho Chi Minh City juga wajib hukumnya mencicipi makanan khas setempat. Yang paling wajib dicicipi adalah  Pho alias mie putih khas Vietnam, dan juga Banh Mi, yaitu semacam sandwich besar yang menggunakan roti baguette. Anda bisa menemukannya di pinggir-pinggir jalan Saigon, tetapi hati-hati karena orang Vietnam sering tidak bisa berbicara bahasa Inggris dan umumnya daging yang digunakan untuk Banh Mi atau Pho adalah daging babi. Selalu ucapkan istilah “Ga” yang berarti daging ayam (misalnya ucapkan Pho Ga jika ingin memesan Pho dengan daging ayam di dalamnya), “Bo” yang berarti beef alias daging sapi, atau “Trung” yang artinya telur. Harga Pho biasanya sekitar 30 ribu Dong jika di pinggiran jalan, 60 ribu Dong di restoran terkenal seperti Pho 2000. Sedangkan Banh Mi biasanya hanya 10 ribu-20 ribu Dong.

Uli dan Niken sempat juga mengunjungi Cu Chi Tunnels yang letaknya di luar kota HCMC, yakni semacam terowongan-terowongan bawah tanah yang digunakan oleh tentara Vietnam di kala perang dulu. Menurut keduanya, tempat ini juga wajib dikunjungi jika Anda ke Saigon. Untuk ke sana, bisa menggunakan tur dari agen-agen yang banyak terdapat di sekitaran Pham Ngu Lao, sayang saya tidak bisa ikut ke sana karena kehabisan uang di hari terakhir saya di Vietnam. Untuk ke sana, siapkan biaya sekitar 100 ribu-200 ribu Dong untuk tur setengah hari (berangkat jam 8 pagi dari Saigon, pulang sekitar pukul 3 sore).

Sayang memang kami tidak sempat ke daerah Mekong, dikarenakan waktu dan bujet yang mepet. Satu hal yang pasti: Ho Chi Minh City adalah kota yang sangat menyenangkan, dan merupakan kota yang wajib masuk dalam daftar tujuan travelling Anda suatu hari nanti.

Sumpah, saya sendiri ingin sekali kembali ke kota ini.

(Bersambung ke postingan berikutnya……. kalau masih mood untuk menuliskannya. :P )

Credit: Foto-foto di atas adalah karya Aulia Dwi Nastiti. You can visit her blog here.

Advertisements

3 thoughts on “Banana Pancake Trail: Betapa Menyenangkannya Ho Chi Minh City

  1. Pingback: Banana Pancake Trail: Menikmati Pho Terenak Di Dunia Di Dalat | @ekkyrezky

  2. Pingback: Banana Pancake Trail: Soal Bujet, Perencanaan, Dan Hostel | @ekkyrezky

  3. Pingback: Banana Pancake Trail: Epilog | @ekkyrezky

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s