Banana Pancake Trail: Menikmati Pho Terenak Di Dunia Di Dalat

Postingan sebelumnya:
Banana Pancake Trail: Perjalanan Pun Dimulai
Banana Pancake Trail: Kuala Lumpur
Banana Pancake Trail: Tersesat Di Kajang
Banana Pancake Trail: Menuju Phuket
Banana Pancake Trail: Phuket
Banana Pancake Trail:Bangkok, Titik Tengah Perjalanan Kami
Banana Pancake Trail: Buruknya Kesan Pertama Kamboja
Banana Pancake Trail: Terpukau Oleh Magisnya Temples of Angkor
Banana Pancake Trail: Menikmati Pizza Ganja Di Phnom Penh
Banana Pancake Trail: Betapa Menyenangkannya Ho Chi Minh City

Kami menyempilkan nama Dalat sebagai salah satu kota tujuan kami di Vietnam, dengan harapan bisa merasakan atmosfer ala Perancis yang digembar-gemborkan beberapa situs travelling, yang membuat kota ini mendapatkan julukan “Le Petit Paris” alias “The Little Paris”. Dalat adalah sebuah kota kecil di utara Ho Chi Minh City, sekitar 5-6 jam perjalanan menggunakan bus dari ibukota Vietnam tersebut. Wilayahnya berbukit-bukit, sehingga jangan heran jika suhu udara di kota ini cukup rendah. Saat kami mengunjungi kota tersebut, suhu udaranya berkisar antara 16 hingga 19 derajat celcius, jadi jangan lupa membawa baju hangat atau jaket jika ingin mengunjungi kota ini.

Dalat adalah kota yang cantik. Kotanya kecil, sehingga barangkali bisa Anda kelilingi dalam waktu seharian, tetapi sangat indah. Jalanannya naik turun karena wilayahnya yang berbukit-bukit, sehingga mengelilingi kota menggunakan sepeda sepertinya akan membuat Anda cukup merasa kelelahan. Yang paling menarik dari kota ini tentu danau buatannya yang terletak di pusat kota, yakni Ho Xuan Huong.

Dalat memang layaknya wilayah Puncak di Bogor: kota ini sangat pas dijadikan tempat peristirahatan. Menurut sejarah yang saya baca, ketika Perancis masih menjajah Vietnam, mereka memang menjadikan Dalat sebagai kota peristirahatan mereka, sebagai kota bersantai. Udaranya yang sejuk dan alamnya yang indah benar-benar mendukung status tersebut. Dan memasukkan nama Dalat sebagai kota terakhir yang kami kunjungi di perjalanan Banana Pancake Trail ini adalah sebuah keputusan yang tepat.

Kami berangkat menggunakan bus dari Pham Ngu Lao sekitar pukul 11 malam. Ada banyak bus menuju Dalat dari Ho Chi Minh City, pun ada dua pilihan jenis bus: sleeper bus atau bus biasa. Sleeper bus jelas lebih mahal, tetapi Anda bisa tidur dengan nyaman. Tapi jika ingin berhemat bus regulernya pun sudah cukup nyaman. Harga tiketnya berkisar 175 ribu dong – 200 ribu dong (saya agak lupa tepatnya).

Kami tiba di Dalat pukul enam pagi. Dan betul saja, dinginnya luar biasa. Saya, yang memang tidak tahan dingin meski berdaging (dan berlemak) tebal, menggigil kedinginan saat turun di terminal. Terminal bus di Dalat cukup jauh dari pusat kota, tetapi untungnya, pihak operator bus biasanya menyediakan mini van khusus untuk mengantarkan penumpang ke tujuan masing-masing di Dalat secara cuma-cuma. Selain itu, ada juga taksi, tapi tentu saja saya yang gratis lebih menarik, kan?

Satu hal yang kurang menyenangkan di Dalat adalah: tak ada hostel yang menyediakan kamar jenis dorm. Rata-rata single room, double room, atau malah triple room (untuk bertiga). Demi berhemat dan karena tak ada pilihan lain, kami pun memilih triple room. Hostel yang kami tempati bernama Villa Pink House, dan sudah cukup terkenal di kalangan backpacker. Ketika saya bertemu dengan orang Jogja yang travelling keliling Asia Tenggara selama dua bulan di Ho Chi Minh City, dia juga bercerita menginap di hostel tersebut selama di Dalat. Belakangan, saya baru tahu kalau teman-teman saya dari Ilmu Politik UI juga menginap di sana ketika berkunjung ke Dalat.

Tidak ada angkutan umum massal di Dalat. Untuk berkeliling kota dan mengunjungi tempat-tempat wisata, ada beberapa opsi yang bisa digunakan: menyewa sepeda motor, yang mana amat umum dilakukan oleh turis di sana, ikut tur, atau berjalan kaki. Karena hanya saya yang bisa menggunakan sepeda motor dan tur menyedot uang cukup banyak, jalan kaki adalah opsi yang bisa kami pilih. Opsi ini cukup melelahkan juga, karena jarak antar objek wisata tidak dekat dan jalanannya naik turun.

Suhu udara Dalat yang sejuk dan faktor kelelahan setelah dua minggu beraktivitas tanpa henti membuat kami cukup malas berkeliling Dalat. Walhasil, hari pertama hanya dihabiskan di atas tempat tidur, makan pho terenak di dunia di kedai makan tak jauh dari hostel, dan ke danau. Baru di hari kedua kami berjalan cukup jauh untuk mengunjungi Crazy House, melihat gereja Nha Tho Domaine de Marie, mengitari danau Xuan Huong, dan berkunjung ke kebun bunga terbesar di sana. Sebenarnya ada banyak lagi tempat di Dalat yang bisa dikunjungi, tetapi tidak direkomendasikan dikunjungi dengan berjalan kaki. Menyewa motor sepertinya memang yang paling masuk akal di sana.

Tempat yang paling mengesankan bagi saya jelas danau Xuan Huong. Di pinggir danau tersebut terdapat kursi-kursi taman yang membuat danau ini menyenangkan untuk dikunjungi. Berdiam diri di kursi-kursi tersebut merupakan hal yang menyenangkan, terutama jika Anda memang menyenangi sepi. Selain itu, crazy house juga tempat yang mengasyikkan untuk dikunjungi: memanjat rumah yang bentuknya tak lazim itu adalah sesuatu yang menyenangkan. Apalagi, dari puncaknya, Anda bisa melihat hampir seluruh kota Dalat. Berfoto di Crazy House juga menghasilkan kenang-kenangan yang unik.

Tetapi yang paling saya rindukan dari Dalat adalah pho juara dunia yang ada di sana. Pho yang luar biasa enak ini tersedia di sebuah rumah makan kecil bernama Vinh Loi, yang letaknya di ujung jalan Hai Tuong, tak jauh dari “bunderan” di ujung jalan tersebut. Tempatnya kecil, tak jauh berbeda dengan restoran kecil di sekitar jalan itu, tapi makanannya murah dan sangat enak. Kami mendapatkan rekomendasi dari salah satu penjaga hostel kami, Binh Nguyen, dan akibatnya, dalam dua hari di Dalat, saya sampai empat atau lima kali makan di sana.

Nah, jika hari sudah gelap, di depan Vinh Loi, di tikungan ujung jalan Hai Tuong itu, akan muncul semacam “angkringan” kalau di Jogja. Bedanya, yang disajikan di warung kaki lima ini bukan gorengan, sate usus, atau nasi kucing, melainkan roti-rotian seperti sus dan semacamnya, serta susu kedelai, atau dua jenis minuman hangat lain yang saya lupa. Roti dan susnya lumayan, tetapi susu kedelainya sangat enak diminum hangat-hangat. Yang unik, bangku dan meja pengunjung berbentuk mini dan terbuat dari plastik. Bangkunya seperti bangku yang biasa Anda gunakan untuk mencuci baju menggunakan tangan di kamar mandi (saya kadang masih melakukannya, entah Anda). Agak aneh buat orang yang berbadan besar dan berkaki agak panjang seperti saya, tapi ini memang keunikannya. Bangku dan meja yang sama pun bisa Anda temukan di warung kaki lima serupa di Ho Chi Minh City atau bahkan di Kamboja. Tetapi “angkringan” yang menjual roti, sus, dan susu kedelai ini sepertinya memang hanya bisa ditemukan di Dalat.

Pengalaman kuliner yang menyenangkan dan kesempatan beristirahat di suhu yang sejuk lah yang membuat kunjungan ke Dalat menjadi berkesan. Padahal di kota itu saya juga agak kecewa karena eiffel mini yang jadi salah satu ikon kota tersebut tidak muncul ketika kami di sana. Eiffel mini yang saya maksud sebenarnya hanya menara (semacam BTS) perusahaan telekomunikasi, tetapi biasanya jika malam hari, ada lampu kekuningan yang menyelubungi menara tersebut sehingga terlihat layaknya Eiffel. Sayang dua malam kami di sana, kami tidak melihat yang kami ekspektasikan.

Walau demikian, hal itu tak menyurutkan keinginan saya untuk kembali ke sana. Terutama karena saya ingin merasakan kenikmatan pho ayam di Vinh Loi lagi!

(Bersambung ke postingan berikutnya……. kalau masih mood untuk menuliskannya. :P )

Credit: Foto-foto di atas adalah karya Aulia Dwi Nastiti. You can visit her blog here.

Advertisements

2 thoughts on “Banana Pancake Trail: Menikmati Pho Terenak Di Dunia Di Dalat

  1. Pingback: Banana Pancake Trail: Soal Bujet, Perencanaan, Dan Hostel | @ekkyrezky

  2. Pingback: Banana Pancake Trail: Epilog | @ekkyrezky

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s