Banana Pancake Trail: Soal Bujet, Perencanaan, Dan Hostel

Sedikit cuplikan karya mahaagung dari Aulia Dwi Nastiti.

Sedikit cuplikan mahakarya agung dari Aulia Dwi Nastiti.

Postingan sebelumnya:
Banana Pancake Trail: Perjalanan Pun Dimulai
Banana Pancake Trail: Kuala Lumpur
Banana Pancake Trail: Tersesat Di Kajang
Banana Pancake Trail: Menuju Phuket
Banana Pancake Trail: Phuket
Banana Pancake Trail:Bangkok, Titik Tengah Perjalanan Kami
Banana Pancake Trail: Buruknya Kesan Pertama Kamboja
Banana Pancake Trail: Terpukau Oleh Magisnya Temples of Angkor
Banana Pancake Trail: Menikmati Pizza Ganja Di Phnom Penh
Banana Pancake Trail: Betapa Menyenangkannya Ho Chi Minh City
Banana Pancake Trail: Menikmati Pho Terenak Di Dunia Di Dalat

Pertanyaan umum yang biasa ditanyakan teman-teman saya soal trip dua minggu empat negara pada Januari 2013 lalu ini adalah: berapa biaya yang dihabiskan?

Mari dirinci-rinci. Pertama, kami membeli tiket pesawat sejak jauh-jauh hari, tepatnya sekitaran April 2012. Ketika itu memang sedang ada promosi besar-besaran ala Air Asia, dan kami adalah salah satu korbannya. Kami mendapatkan seat gratis Jakarta – Kuala Lumpur, dan hanya habis Rp 100.000 per orang untuk fuel surcharge dan fee lainnya. Sementara untuk tiket Ho Chi Minh City – Jakarta, kami habis 70 USD, termasuk biaya bagasi 20 kg. Jadi untuk tiket pesawat, kami habis kurang dari Rp 800.000.

Saya beruntung memiliki teman seperti Uli, yang rajin mengatur itinerary dan bujeting. Menurut bujet yang disusun oleh Uli, kami diperkirakan akan menghabiskan sekitar Rp 3.500.000. Jumlah ini sudah termasuk uang masuk tempat wisata, biaya bus antar kota, hostel, dan makan. Tapi biaya sebesar itu pun masih dirasa mepet, sehingga disarankan untuk membuat anggaran biaya tak terduga sebesar Rp 200.000 – Rp 300.000.

Dan memang betul. Saya yang bersikeras hanya membawa 3,5 juta rupiah pada akhirnya harus mengambil sekitar 300 ribu rupiah lagi lewat ATM di Ho Chi Minh City karena kehabisan uang. Apalagi, saya memang suka sekali jajan, sehingga uang seringkali habis tanpa diduga. Ditambah lagi, ada biaya-biaya lain yang tak terduga sebelumnya, misalnya biaya membeli simcard lokal dan pulsa, atau ada ketidaksesuaian antara anggaran dan fakta di lapangan. Belum lagi ada insiden tersasar ke Kajang dan gagal ke Penang. Hal-hal itu bisa sangat mempengaruhi anggaran perjalanan, sehingga dalam membuat anggaran, jangan pernah terlalu mepet. Selalu sisakan tempat untuk anggaran tak terduga.

Penghitungan anggaran yang tepat juga penting untuk menukarkan uang sebelum berangkat. Dari bujet 3,5 juta itu, misalnya, kami menukarkannya menjadi 300 RM, 3300 Baht, dan 150 USD. Kami menukarkannya sehari sebelum berangkat (Januari 2013) di Sentral Utama, sebuah tempat penukaran uang asing di Jalan Margonda. Rinciannya:

Ringgit Malaysia: 300 RM = Rp 969.000 (kurs ketika itu Rp 3230 / RM)
Baht Thailand: 3300 THB = Rp 1.089.000 (kurs saat itu Rp 330 / THB)
Dollar Amerika: 150 USD = Rp 1.473.750 (kurs saat itu Rp 9825 / USD)

Total: Rp 3.531.750

Memang jarang ada yang menyediakan penukaran Dong di Indonesia sehingga bujet untuk di Kamboja dan Vietnam disiapkan dalam dollar Amerika Serikat, agar bisa ditukarkan dengan mudah sesampainya di negara tersebut. Apalagi di dua negara itu, dollar pun terkadang diterima (terutama di Kamboja). Sekadar tips: jangan menukarkan uang terlalu mepet dengan hari keberangkatan, kalau bisa mulai pantau pergerakan kurs sejak (paling tidak) dua atau tiga minggu sebelumnya agar bisa mendapatkan kurs yang menguntungkan.

Jadi jika ditotal-total, uang yang kami habiskan (termasuk untuk tiket pesawat) sekitar Rp 4.500.000 – Rp 4.600.000. Uang sebesar ini untuk trip selama dua minggu ke delapan kota di empat negara memang cukup mepet sebenarnya, walau tadinya saya berharap bisa lebih kecil lagi dari itu.

Satu tips yang cukup signifikan untuk menghemat anggaran: siasati jadwal perjalanan. Kalau bisa, perjalanan jarak jauh antar kota/negara ditempuh di malam hari, karena pasti menghemat biaya penginapan. Tetapi pasti ada efek sampingnya: kebanyakan tidur dalam posisi duduk di bus membuat badan Anda cepat lelah, apalagi jika perjalanan dilakukan secara “terburu-buru”. Delapan kota dan empat negara dalam waktu 15 hari memang bisa digolongkan dalam perjalanan yang “terburu-buru”.

Bicara soal penginapan, saya ingin memberikan review penginapan-penginapan yang kami gunakan selama dua minggu tersebut.

1. Kuala Lumpur: Transit Point Bed & Breakfast

Hostel kecil yang letaknya tak jauh dari Petaling Street. Dari luar terlihat macam gedung tua tak terurus, tapi di dalamnya lumayan nyaman. Agak kecil memang, bahkan di kamar tipe dorm sekalipun. Tapi salah satu pengurusnya, Syila, adalah orang yang menyenangkan, walau kalau mengobrol dia susah sekali berhenti. Tidak terlalu murah, tapi cukup bisa direkomendasikan. Untuk kamar tipe dorm, biayanya USD 8.17 per orang.

2. Phuket: Phuket Ghetto Childs Hostel

Adalah hostel sekaligus bar, sehingga bisa Anda bayangkan bagaimana “gaulnya” tempat ini. Kamarnya sebetulnya kurang menyenangkan, ACnya kerap mati, dan agak kurang bersih. Tetapi atmosfer barnya lumayan, pemiliknya pun orang yang asik, dan lokasinya cukup strategis. Lumayan, walau kalau Anda bisa menemukan yang lebih baik, bersyukurlah. Untuk kamar tipe mixed dorm, biayanya USD 7.20 per orang.

Bersama Kai, pemilik Phuket Ghetto Childs Hostel.

3. Bangkok: Khaosan Rainbow Hostel and Guesthouse

Letaknya sebenarnya tidak tepat di Khaosan Road, tetapi di jalan Chakrapong, tak jauh dari Khaosan. Kamarnya ada banyak, tapi tempat tidurnya kurang menyenangkan. Jika agak sial dan mendapatkan kamar di dekat balkon, dipastikan sulit tidur sampai jam 3 pagi karena bunyi suara musik di sekitaran Khaosan terdengar sangat jelas. Saya sarankan cari hostel lain yang lebih baik. walau biayanya di sana sangat murah. Untuk tipe mixed dorm, hanya USD 4.91 per orang, per malam.

4. Siem Reap: Palm Golden Lodge

Tidak direkomendasikan. Saya tidak paham dengan cara pengaturan kamar mereka, tetapi yang pasti kami tidak mendapatkan kamar yang sebenarnya kami pesan. Tapi saya merekomendasikan penginapan bernama Thanak Thun Guest House. Kamarnya enak, penjaganya sangat baik, dan mereka memiliki tuk-tuk sendiri yang bisa disewa (dengan supir tuk-tuk yang juga sangat baik). Karena kami membayar sesuai dengan yang kami bayar untuk Palm Golden Lodge, saya mendapatkan kamar untuk double hanya USD 4.51 per malam. Kalau ini, memang karena saya beruntung sih…

5. Phnom Penh: Spring Guest House

Adalah guest house yang sangat besar dan memiliki banyak kamar. Kamarnya lumayan, tapi tidak direkomendasikan. Alangkah baiknya kalau cari yang lebih bagus dan menyenangkan. Jika memesan kamar single, Anda akan mendapatkan kamar twin alias dua kasur…….. dengan harga untuk dua orang, yakni USD 6 per malam. Sepertinya mereka memang tidak memiliki kamar untuk private walau di situs pencarian hostel seperti Agoda atau Hostel World, mereka menawarkan kamar private.

6. Ho Chi Minh City: Backpacking Club Hostel

Letaknya agak masuk ke dalam gang, tak jauh dari pertigaan De Tham Street dan Pham Ngu Lao. Saya tidak merekomendasikannya, resepsionisnya tidak terlalu bisa bahasa Inggris dan pemiliknya judes luar biasa. Padahal kamarnya sebetulnya lumayan nyaman, dan sarapan gratisnya enak. Biaya untuk mixed dorm adalah USD 6.05 per orang, per malam, dengan catatan memesan lewat online. Jika langsung datang ke hostelnya, harganya akan berbeda (sekitar 1,5 kali lipatnya).

7. Dalat: Villa Pink House

Lokasinya sebenarnya agak jauh dari danau, atau tempat-tempat wisata lainnya di kota Dalat, tetapi kamarnya luas, interiornya bagus, kamar mandinya bagus, pemandangannya (dari lantai 5) sangat indah, dan penjaganya benar-benar menyenangkan. Anda akan merasa dianggap layaknya keluarga di sana. Jadi bagian minus soal lokasi yang agak terpencil itu bisa sedikit dimaafkan. Tapi memang agak mahal sih, USD 9.34 per orang untuk triple room.

Bersama Binh Nguyen di Villa Pink House, sebelum meninggalkan Dalat.

Credit: Foto-foto di atas diambil menggunakan kamera milik Aulia Dwi Nastiti. You can visit her blog here.

Advertisements

3 thoughts on “Banana Pancake Trail: Soal Bujet, Perencanaan, Dan Hostel

  1. Pingback: Banana Pancake Trail: Epilog | @ekkyrezky

  2. Sangat informatif, lumayan buat acuan bikin perencanaan untuk perjalanan sendiri. Lebih bagus lagi klo yg di aplot versi excel, jadi tinggal otak atik deh hehehe *ngelunjak*

    terus, gimana kalau tiap2 penginapan dikasih alamat dan cp nya, ‘kan yg minat jadi lebih dimudahkan, begitu 🙂

    Terima kasih yaaaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s