Banana Pancake Trail: Epilog

Postingan sebelumnya:
Banana Pancake Trail: Perjalanan Pun Dimulai
Banana Pancake Trail: Kuala Lumpur
Banana Pancake Trail: Tersesat Di Kajang
Banana Pancake Trail: Menuju Phuket
Banana Pancake Trail: Phuket
Banana Pancake Trail:Bangkok, Titik Tengah Perjalanan Kami
Banana Pancake Trail: Buruknya Kesan Pertama Kamboja
Banana Pancake Trail: Terpukau Oleh Magisnya Temples of Angkor
Banana Pancake Trail: Menikmati Pizza Ganja Di Phnom Penh
Banana Pancake Trail: Betapa Menyenangkannya Ho Chi Minh City
Banana Pancake Trail: Menikmati Pho Terenak Di Dunia Di Dalat
Banana Pancake Trail: Soal Bujet, Perencanaan, Dan Hostel

Suatu hari, tanpa sengaja saya membaca sebuah tweet yang menyindir orang-orang yang “terjebak” dalam romantisme travelling. Saya agak lupa isinya bagaimana, tetapi kurang lebih isi tweet tersebut menilai sikap orang-orang yang terjebak dalam romantisme dunia travelling itu berlebihan. Hal ini karena mereka biasanya menggembar-gemborkan bagaimana asyik dan bermaknanya menjelajah, dan bagaimana travelling itu mengubah hidup kita.

Adalah sebuah hal yang berlebihan kalau saya menyebut diri saya sebagai traveller, atau avonturir. Karena pada dasarnya saya memang belum berhak menyebut diri saya seperti itu. Toh kenyataannya, saya memang baru beberapa kali melakukan perjalanan ke tempat-tempat asing, termasuk perjalanan dua minggu di bulan Januari 2013 lalu yang saya tulis secara panjang lebar di blog ini.

Meskipun begitu, saya berani mengatakan bahwa travelling memang memiliki makna yang jauh lebih mendalam daripada bersenang-senang melihat objek-objek wisata di tempat-tempat asing saja. Saya setuju jika ada yang mengatakan, “Yang terpenting dari travelling bukan ketika sampai di tempat tujuan, tetapi justru dalam perjalanan itu sendiri”. Karena yang saya rasakan memang demikian.

Perjalanan dua minggu di empat negara tetangga yang kami lakoni pada Januari 2013 lalu bisa dikatakan sebagai salah satu momen paling bermakna dalam hidup saya. Bukan hanya karena saya bisa melihat objek-objek wisata terkenal yang ada di keempat negara tersebut. Tetapi karena dalam perjalanan selama 15 hari itu, saya merasakan pengalaman yang melibatkan mental dan emosional saya, yang pada akhirnya (sepertinya) mengubah hidup, pandangan, dan pemikiran saya.

Dalam perjalanan yang kami sebut Banana Pancake Trail itu, saya bisa lebih mengenal diri saya sendiri dan kedua teman saya, Uli dan Niken. Perjalanan ini jadi terasa lebih berharga dan bermakna karena dilakukan bersama keduanya. Pengalaman yang saya nilai paling luar biasa, dan menurut saya paling bernilai, justru bukan berkaitan dengan tempat-tempat yang kami kunjungi, tetapi justru berkaitan dengan kedua teman saya tersebut.

Terima kasih yang luar biasa saya haturkan bagi keduanya atas perjalanan dan pengalaman luar biasa yang kami dapatkan selama dua minggu pada bulan Januari 2013 lalu. Juga permohonan maaf, karena di sepanjang perjalanan, begitu banyak kesalahan yang telah saya perbuat, yang berkali-kali menimbulkan masalah selama perjalanan tersebut.

Terima kasih terutama dihaturkan bagi Uli, yang mengizinkan saya untuk menggunakan hasil jepretannya untuk dipajang di blog ini, untuk menemani ribuan huruf yang saya rangkai untuk menceritakan pengalaman perjalanan kami dari kacamata saya pribadi.

Saya bersyukur bisa merasakan perjalanan 15 hari yang singkat namun begitu bermakna ini. Terima kasih. 🙂

Credit: Foto-foto di atas diambil menggunakan kamera milik Aulia Dwi Nastiti. You can visit her blog here.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s