Menggumamkan Kebodohan

Saya paling malas berkendara di Jakarta. Pertama, jelas karena macet yang tidak berperikemanusiaan itu. Kedua, karena mayoritas pengendara kendaraan bermotor di Jakarta seperti tidak mengenal bagaimana berkendara yang baik dan benar sesuai aturan. Dan mereka ada di mana-mana.

Akibatnya, ketika saya berkendara di jalanan kota Jakarta (dan juga Depok dan Bekasi), saya hampir pasti bergumam mengata-ngatai orang-orang yang tak tahu aturan ini. Kalimat favorit saya setiap kali melihat orang melanggar aturan di jalanan adalah, “Ada begitu banyak orang bodoh di dunia ini.” Kalimat tersebut setidaknya menghindarkan saya dari mengumpat dengan kata-kata kotor, dan semacam upaya mendamaikan diri agar setidaknya “maklum” dengan kondisi yang saya temui.

Kebodohan, menurut saya pribadi, tidak selalu terkait dengan segala macam pengetahuan yang seseorang miliki. Saya meyakini bahwa kebodohan juga menyangkut beragam macam hal yang menyangkut adab: etika, logika, dan semacamnya. Misalnya saja, saya menyebut orang-orang yang banyak melanggar lampu merah di siang bolong ketika jalanan sedang ramai-ramainya adalah orang bodoh. Saya meyakini bahwa mereka pasti mengetahui jika lampu merah berarti kita wajib berhenti, tetapi mereka tidak melakukannya. Mereka berpengetahuan, tetapi mereka tidak beretika. Dan menurut saya itu juga bisa digolongkan dalam kebodohan.

Melanggar lampu merah di siang bolong ketika jalanan sedang begitu ramai juga menunjukkan bagaimana orang-orang ini tidak mampu menggunakan logika mereka. Jalanan sedang ramai dan Anda mau menerobos lampu merah? Kecuali orang-orang ini memang tertarik untuk bunuh diri, mereka pasti sedemikian bodohnya sampai tak menyadari bahwa tindakan itu bukan hanya akan membahayakan diri mereka, tetapi juga diri orang lain.

Karena itu, ketika saya mendengar kabar bahwa pelaksanaan ibadah umat Buddha di hari raya Waisak tahun ini di Borobudur agak kacau karena pengunjung, saya pun tak bisa mengerem diri saya untuk menggumamkan kalimat sakti tadi lagi. Percayalah, para sebagian turis yang datang ke Borobudur dan membuat ulah di sana kemarin itu pasti cukup berpengetahuan, sayangnya otak mereka terlalu tumpul untuk menjalankan etika yang barangkali mereka ketahui. Dalam salah satu foto yang begitu ramai beredar di social media seharian ini, misalnya, terlihat bagaimana orang-orang memotret dengan seenaknya dari depan seorang biksu yang sedang berdoa. Salah satunya adalah seorang wanita yang datang ke Borobudur dan naik ke candi menggunakan tanktop dan hotpants. Saya yakin orang-orang ini, terutama sang wanita, pasti berpendidikan, tapi mereka tidak, atau gagal dalam, beretika dan gagalĀ  juga dalam menggunakan logikanya. Dan itu, menurut saya, patut disebut sebagai sebuah kebodohan.

Saya meyakini bahwa semua orang kadang bisa berlaku bodoh. Bahkan juga mereka yang berpendidikan tinggi sekalipun. Saya pun demikian. Yang menentukan, pada akhirnya, adalah bagaimana kita mengerem kebodohan itu dan mulai menyadari etika dan juga menggunakan logika.

Advertisements

One thought on “Menggumamkan Kebodohan

  1. “berpendidikan, tapi mereka tidak, atau gagal dalam,beretika dan gagal juga dalam menggunakan logikanya.
    Dan itu, menurut saya, patut disebut sebagai sebuah
    kebodohan.” <– my favourite!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s