One Day Trip: Garut

Saya sebenarnya sudah berniat untuk pergi ke Garut sejak dua bulan lalu, namun akhirnya terpaksa dibatalkan karena beberapa hal. Akhir pekan kemarin, menuruti impuls yang muncul karena melihat tanggal merah dan keinginan untuk menjauh sejenak dari layar laptop, saya memutuskan untuk pergi ke Garut. Sebenarnya awalnya niatan saya adalah melakoni trip ke Krakatau dan beberapa pulau di Selat Sunda, tetapi trip itu dibatalkan karena kabarnya Krakatau terlalu ramai dan akhirnya baru akan dilaksanakan pada akhir bulan Juni ini.

Bujet yang tipis membuat saya berniat untuk melakukan perjalanan ringkas saja ke beberapa tempat menarik di Garut. Hasil dari blogwalking, saya pun memutuskan untuk pergi ke Situ Cangkuang, Situ Bagendit, dan Curug Orok. Awalnya, saya juga berniat ke Papandayan, namun karena ini adalah solotrip dan Garut sedang senang-senangnya hujan dalam beberapa hari terakhir, nyali saya pun ciut (payah!) dan membatalkan niat tersebut.

Saya berangkat pada Jumat sore dari Terminal Kampung Rambutan, dan tiba di Garut pada pukul setengah 9 malam. Saya pun menginap di Wisma LEC yang letaknya tak jauh dari Terminal Guntur, dan baru keesokan harinya pergi ke tempat-tempat yang ingin saya tuju.

Situ Cangkuang adalah sebuah danau kecil di kecamatan Leles dan memiliki semacam “pulau” kecil dan terdapat sebuah candi di atasnya. Sebenarnya tanah tempat candi Cangkuang tersebut berada bukanlah sebuah pulau, hanya saja Situ Cangkuang ini berbentuk seperti bulan sabit sehingga dari jauh daratan tersebut akan terlihat seperti pulau.

Untuk mencapai ke “pulau” tersebut, kita perlu menyeberangi situ menggunakan rakit. Biaya naik rakit ini murah, hanya 4 ribu rupiah, tetapi harus menunggu sampai rakit penuh dengan 20 penumpang. Jika menggunakan motor, bisa juga menggunakan jalan memutar di mana kita tidak perlu menggunakan rakit.

Di “pulau” tersebut, terdapat satu candi, satu museum, dan sebuah perkampungan adat kecil yang bernama Kampung Pulo. Ada yang unik dari perkampungan ini, yaitu jumlah keluarga yang boleh tinggal di sana hanyalah enam kepala keluarga saja. Jika seorang anak menikah dan menjadi kepala keluarga, ia harus segera meninggalkan kampung tersebut. Jadi, jumlah kepala keluarga di sana tidak boleh bertambah, tidak boleh berkurang.

Di depan Candi Cangkuang, juga terdapat sebuah makam yakni makam Embah Dalem Arif Muhammad, seorang pemuka agama Islam yang diyakini sebagai leluhur di sana. Bagi penggemar sejarah Indonesia, Candi Cangkuang barangkali menjadi sebuah objek wisata yang menarik. Saya pribadi lebih menyukai tenangnya Situ Cangkuang. Sialnya, saya datang ke sana pada hari Sabtu dan di hari itu, puluhan murid sekolah dasar juga mengunjungi Candi Cangkuang. πŸ˜€

Dari Situ Cangkuang, saya menuju Situ Bagendit. Awalnya, saya mengira Situ Bagendit juga memiliki ketenangan layaknya Situ Cangkuang. Ternyata saya salah, karena ternyata Situ Bagendit sudah dikembangkan menjadi sebuah taman rekreasi keluarga yang memiliki beragam permainan, entah itu kereta mini atau perahu bebek. Well, Situ Bagendit juga memiliki perahu rakit layaknya di Situ Cangkuang, tetapi sewanya di sini tidak bersahabat bagi pejalan tunggal seperti saya: Rp 35 ribu sekali jalan.

Akhirnya di Situ Bagendit saya hanya sempat mengambil gambar saja, lalu berniat untuk lanjut ke Curug Orok. Sialnya, setelah tanya sana-sini, ternyata jarak dari Terminal Guntur ke Curug Orok sangat jauh, sekitar dua jam perjalanan. Dan karena Garut bukan kota besar, angkutan umum pun tidak beroperasi sampai sore. Ketika saya keluar dari Bagendit, waktu sudah menunjukkan pukul 1 siang sehingga tidak mungkin saya pergi ke Curug Orok hari itu juga.

Pilihan lainnya adalah pergi keesokan harinya. Tetapi mengingat status keuangan saya yang mepet, tidak mungkin bagi saya untuk kembali menginap di penginapan. Saya berusaha menghubungi seorang paman yang tinggal di Garut, sialnya, paman saya ini sedang di Bandung karena ada urusan tertentu.

Walhasil, setelah Papandayan batal, Curug Orok pun batal. Dan saya pun terpaksa harus pulang malam ini juga. Lalu bagaimana saya menghabiskan siang hingga sore? Main ke kota!

Pusat kota Garut adalah alun-alun kota, yang letaknya persis di depan Masjid Agung Garut, dan jalan paling ramai di kota itu adalah Jalan Ahmad Yani, yang letaknya juga tak jauh dari alun-alun. Saya sempat merasakan macet juga di kota Garut, yang belakangan saya ketahui disebabkan adanya perhelatan balapan motor alias road race di sekitar jalan Ahmad Yani. Jalan Ahmad Yani sendiri barangkali bisa diibaratkan seperti Malioboro di Yogyakarta – ada banyak pertokoan. Di sana, saya menikmati kuliner wajib seperti Baso Tahu alias Siomay dan Es Goyobod. Sementara alun-alunnya sendiri terasa seperti Alun-Alun Selatan Jogja, ada banyak permainan untuk anak-anak seperti becak-becakan, delman yang ditarik oleh domba, dan lainnya.

Maghrib, saya kembali ke Terminal Guntur dan mengejar bis Primajasa untuk kembali ke Jakarta. Tentunya sambil menyesali mengapa perencanaan saya kali ini kurang maksimal…

How to get there?

– Garut

Untuk menuju Jakarta, Anda bisa menggunakan bus Karunia Bakti dari Terminal Kampung Rambutan atau bus Primajasa dari Terminal Lebak Bulus. Menunggu di Pasar Rebo juga bisa. Biayanya sama-sama Rp 35.000. Pemberhentian terakhir adalah Terminal Guntur.

– Situ Cangkuang

Dari Terminal Guntur, gunakan angkot ke Leles nomor 10 yang berwarna hijau muda kekuningan. Turun di alun-alun Leles, lalu ada dua pilihan untuk menuju pintu masuk situ, yakni delman atau ojek. Tarifnya biasanya 10 ribu rupiah. Untuk delman, jika berama-ramai tentu bisa ditawar lagi. Jangan coba jalan kaki karena ternyata jauh juga masuknya.

– Situ Bagendit

Dari Situ Cangkuang: Menurut tukang ojek yang saya tumpangi, ternyata dari Situ Cangkuang bisa langsung menuju ke Situ Bagendit. Saat itu, ia menawarkan tarif Rp 15.000 langsung ke Bagendit. Saya memilih untuk menggunakan angkutan umum biasa. Dari alun-alun Leles, bisa menggunakan angkot atau ELF yang menuju Terminal Guntur (tarif ELF biasanya Rp 5.000, sedangkan angkot hanya Rp 4.000). Turun di pertigaan Bagendit, lalu dilanjutkan dengan angkot berwarna oranye. Turun tepat di depan Situ Bagendit.

Dari Terminal Guntur: Langsung menggunakan angkot berwarna oranye.

– Jalan Ahmad Yani/Alun-Alun

Dari terminal Guntur, gunakan angkot 03 (sepertinya nomornya 03 deh, yang pasti, warnanya hijau). Turun di Ahmad Yani langsung. Turunnya ketika angkot mau belok karena ada bagian jalan Ahmad Yani yang searah saja. Setelah itu, jalan kaki menyusuri Jalan Ahmad Yani, dan jajan sana-sini.

Penginapan

Saya menginap di Wisma LEC, tidak jauh dari Terminal Guntur. Hanya berjalan kaki sekitar 50 meter. LEC ternyata kepanjangan dari Local Education Center. Jadi jangan heran kalau di sekitarnya ada sekolah-sekolah. Ada tiga jenis kamar: Regular (kamar mandi luar, Rp 70.000), Family (Rp 85.000), atau VIP (Rp 150.000). Satu kamar terdapat empat tempat tidur. Dan dihitung per kamar, bukan per orang. Tapi jalan masuknya sangat gelap dan bangunannya lumayan tua jadi agak horor. Kurang terawat, tapi memang sangat murah sih.

Pengeluaran

Bus Karunia Bakti (Kp Rambutan – Garut): Rp 35.000
Penginapan Wisma LEC: Rp 70.000
Angkot menuju Leles: Rp 4.000
Delman ke Situ Cangkuang: Rp 10.000
Tiket masuk Situ Cangkuang: Rp 3.000
Rakit ke Candi Cangkuang: Rp 4.000
Ojek kembali ke Leles: Rp 10.000
ELF ke pertigaan Bagendit: Rp 5.000
Angkot ke Situ Bagendit: Rp 4.000
Tiket masuk Situ Bagendit: Rp 3.000
Angkot Bagendit – Terminal Guntur: Rp 4.000
Angkot Terminal Guntur – Jl. Ahmad Yani: Rp 4.000
Angkot Alun-Alun – Terminal Guntur: Rp 2.000 (Saya juga bingung kenapa cuma Rp 2.000…)
Bus Primajasa Garut – Lebak Bulus: Rp 35.000

Total: Rp 193.000

Beberapa foto diatas diedit menggunakan Camera360… karena kamera Tab saya nggak bisa diatur ISO-nya! πŸ˜€

Advertisements

8 thoughts on “One Day Trip: Garut

  1. Bagendit memang tidak sebersih dulu, karena sekarang sudah ada campur tangan disparbud jadi terlalu dipaksakan banyak permainan2, kalau dulu ketika masih dirawat masyarakat sekitar tidak seperti sekarang. Salam kenal dari orang garut ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s