Merayakan #MetallicaJKT

“Ini adalah konser metal paling tertib di Indonesia,” kata seorang lelaki yang saya temui pasca konser Metallica hari Minggu kemarin. Setelah konser, saya memang mampir sejenak ke gultik (gulai tikungan) Blok M, mengisi perut setelah menghabiskan energi di dalam Stadion Utama Gelora Bung Karno. Di sana, sudah banyak orang-orang berkaos hitam-hitam, yang juga baru keluar dari konser Metallica, dan saya sempat mengobrol dengan beberapa diantaranya sambil makan.

Tak salah memang. Tak ada cerita ulangan kerusuhan di konser band yang sama, yang dulu terjadi di konser pertama mereka tepat 20 tahun yang lalu di Stadion Lebak Bulus. Penonton konser Metallica di GBK kemarin amat tertib, sekilas tidak seperti konser band metal.

Sebenarnya hal itu bisa dimaklumi. Sebagian besar penonton memang mereka yang sudah berusia cukup tua: mereka yang tumbuh besar bersama kebesaran Metallica di akhir tahun 1980an dan awal 1990an. Mereka yang kini sudah hidup mapan, tetapi ingin melihat band yang pernah – dan mungkin masih – mereka puja itu secara langsung di Jakarta, 20 tahun setelah kunjungan pertama James Hetfield dkk. ke ibukota Indonesia itu.

Sepanjang pengelihatan saya, tak banyak aksi moshing atau circle pit tetapi itu bisa dimaklumi, mengingat hal di atas. Toh pada dasarnya, konser Metallica kemarin memang bukan konser metal biasa: bagi saya, ini adalah sebuah konser yang merayakan kelegendaan band asal Amerika itu, dan bagi beberapa orang, sebuah perayaan masa muda mereka.

Saya sendiri bukan seorang penggemar berat Metallica. Tapi lagu-lagu mereka yang amat populer seperti Master of Puppets (Favorit saya sepanjang masa!), Enter Sandman, atau Seek and Destroy pernah menemani masa-masa awal saya berkenalan dengan musik di usia SD dan SMP, karena pengaruh seorang saudara. Dan kehadiran saya di konser ini pun, seperti yang saya utarakan di atas, adalah sebuah perayaan untuk mengenang kembali masa ketika saya berheadbanging sendirian di kamar dengan lagu Seek and Destroy, yang saya putar dari kaset pinjaman entah dari siapa. Saya juga ingin merayakan kelegendaan mereka: pengalaman menonton Metallica secara langsung barangkali hanya bisa Anda rasakan sekali seumur hidup. Itulah yang membuat saya kemudian memutuskan untuk menghabiskan tabungan saya yang memang sedikit untuk membeli tiket konser kelas Festival – sebuah tindakan yang tak pernah saya sesali sedikitpun.

Metallica memang luar biasa. Usia mereka memang sudah di atas 50 tahun (kecuali Robert Trujillo, yang kini berusia 48 tahun), tetapi mereka seperti tak pernah kehabisan energi untuk memacu musik keras dengan tempo tinggi dan menghadirkan sebuah performa yang luar biasa.Total 18 lagu mereka bawakan, belum termasuk intro The Ecstasy of Gold di awal konser. Ini saja masih dirasa kurang, karena mereka belum memainkan lagu hits mereka lainnya seperti The Unforgiven atau Battery.

Melihat permainan mereka di Jakarta kemarin rasanya sama seperti melihat video konser mereka dari tahun 2000 awal. Tak ada yang berubah. Nyaris tak ada miss dalam tempo, tak ada suara fals dari Hetfield…. singkatnya, mereka bermain dengan sempurna.

Saya jadi ingat tweet mas @YogaCholandha semalam, pasca konser:

“Jadi, #MetallicaJKT tadi gak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Berasa nonton DVD tapi kita ada di dalem DVD itu”

Berlebihan? Rasanya tidak. Percayalah, penampilan mereka memang se-luar biasa itu. Disempurnakan pula dengan soundnya yang maksimum, layar LED yang keren, dan penonton yang tetap hebat walau tetap tertib. Menonton Metallica memang menghadirkan pengalaman yang luar biasa, yang mungkin tidak bisa diulangi lagi di tahun-tahun berikutnya, kalaupun Hetfield dan Lars Ulrich, yang kini semakin botak saja, menepati ucapan mereka di akhir konser bahwa mereka akan segera kembali ke Indonesia.

Selain performa James Hetfield yang sempurna, Lars Ulrich yang berenergi luar biasa, dan Kirk Hammet yang membuat bengong, saya sangat menyukai Robert Trujillo. Bassis yang baru bergabung sejak album St. Anger tahun 2003 lalu ini memang nyentrik: gayanya nyeleneh dengan kostum khas ala pemain basket dan rambut dikepang, posisi bass diset rendah, dan mulut dimonyong-monyongkan ke kamera. Belum lagi gaya jalan jongkok dan lompat kodoknya, yang disempurnakan dengan tiduran di atas panggung – orang ini memang agak gila. Sebuah hal yang membuat saya suka dengannya di saat yang sama ketika saya menyukai lagu St. Anger.

“Makasih banyak! Huahahahahahahahaha…” kata Trujillo di akhir konser. Memang dasar orang gila!

Konser ini bukannya tanpa cacat. Di saat Seringai tampil sebagai opening act, soundnya tidak sempurna sehingga suara Arian13 yang memang tidak jelas itu semakin tidak jelas lagi. Di saat Seringai tampil juga, saya mendengar celetukan tidak menyenangkan seperti “Turun! Kelamaan!” atau memanggil-manggil Metallica. Saya bukan penggemar Seringai (saya cuma amat senang teriak “Individu merdeka!”), tetapi saya tidak suka celetukan merendahkan seperti itu. Kenapa kita tidak bisa menghargai band negeri sendiri? Saya bisa mengerti tentu, kalau band yang tampil seperti SM*SH atau semacamnya – tetapi ini masalahnya band berkualitas seperti Seringai dan yang menyeletuk seperti itu mengaku sebagai penggemar musik metal. Ajaib.

Kekesalan saya yang lain adalah dengan banyaknya kamera handphone, tablet, dan bahkan laptop, mengganggu pemandangan konser. Iya, tak jauh dari saya berdiri, ada yang membawa LAPTOP! Sinting. Sampai sekarang, saya tidak mengerti: apa asiknya merekam konser sehingga menghasilkan gambar yang tak jelas? Tidak ada asik-asiknya. Saya tidak paham apakah mereka ini bisa benar-benar menikmati konser jika harus disibukkan dengan gadget-gadget mereka ini.

Terlepas dari kekesalan saya yang minor itu, saya puas bisa datang ke konser ini. Saya yakin hampir semua yang hadir di GBK pada Minggu malam kemarin pasti juga merasa demikian. Itu adalah sebuah pengalaman yang luar biasa dan mungkin sulit terulangi lagi.

Foto-foto di atas adalah dokumentasi situs resmi Metallica, yang bisa dilihat selengkapnya di sini.

Advertisements

3 thoughts on “Merayakan #MetallicaJKT

  1. Mantab!

    btw yang suka merekam video memang aneh, melewatkan momen seru saat konser. sinting! padahal jelas-jelas Band yang lagi main didepan matanya itu resolusinya jauh lebih gede dr segala kamera video yg ada saat ini ๐Ÿ™‚

    \m/

  2. Sekedar foto itu boleh banget, kalo direkam? Mungkin fungsi otak untuk merekam momennya uda rusak, seperti rusak karna penuh dengan momen momen mantan ๐Ÿ˜›

  3. Nah, nah. Padahal hasil rekamannya juga busuk, dan gue yakin suatu saat ada rekaman resminya di YouTube. Jadi ngapain direkam kan? Bikin repot sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s