Teman Maya

FireShot Screen Capture #041 - 'SekarAtauNadiva (sseekkaarr_) on Twitter' - twitter_com_sseekkaarrBagi beberapa orang, saya adalah orang yang cukup membingungkan.

Dalam beberapa kesempatan, Anda akan menemukan diri saya sebagai seorang yang cerewet, terutama jika Anda meminta saya menceritakan pengalaman-pengalaman saya, atau bercerita mengenai hal-hal yang membuat saya begitu bangga. Pekerjaan, keberhasilan, dan semacamnya. Jika Anda meminta saya bercerita mengenai perjalanan saya mencari uang sejak kuliah, misalnya, saya pasti akan bercerita panjang lebar dan membuat Anda benar-benar bosan.

Tetapi di sisi lain, saya adalah seorang yang tidak pandai berkomunikasi. Saya mungkin bukan orang yang menyenangkan untuk diajak mengobrol, apalagi jika Anda cukup asing dengan saya. Akan ada banyak momen yang awkward, apalagi jika Anda tidak memiliki ketertarikan yang sama dengan saya, ah, itu pasti akan sangat awkward.

Apakah itu adalah hal yang normal untuk semua orang? Saya tidak tahu. Tapi saya tahu pasti: saya bukan orang yang pandai memancing obrolan dan kurang pandai berkomunikasi dengan baik. Cukup aneh sebetulnya, mengingat saya adalah lulusan jurusan komunikasi.

Seorang teman baik saya, Galih, adalah tipikal orang yang berbeda: ia adalah seorang yang menyenangkan untuk diajak berbicara, dan punya banyak bahan cerita dan candaan yang siap ia lempar untuk mencairkan suasana, bahkan dengan seorang yang baru dikenal sekalipun. Jujur, saya iri. Orang yang seperti Galih adalah orang-orang yang bisa dipastikan memiliki banyak relasi, entah secara profesional ataupun tidak.

Singkat kata, saya iri padanya.

Saya adalah makhluk yang mungkin sebaliknya: tak banyak memiliki teman di dunia nyata, dan pada akhirnya lebih senang menyendiri, berteman dengan buku, earphone, dan pemutar musik, Bukan tipikal orang yang menyenangkan untuk Anda ajak berkenalan.

Kehadiran jejaring sosial rasanya menjadi penolong bagi orang-orang seperti saya. Saya ingat, saya pernah (dan masih) begitu cerewet di media sosial, terutama Twitter. Di awal perkenalan saya dengan Twitter itu, saya pernah begitu cerewet, sampai-sampai pernah di-block seorang teman. (Itu adalah sesuatu yang pada akhirnya saya anggap lucu dan menarik. 🙂 ). Media sosial, bagi orang seperti saya, menjadi sebuah pelarian atas begitu banyaknya hal yang saya pikirkan tetapi tidak bisa disampaikan di dunia nyata karena satu dan lain hal. Dan pada akhirnya, menjadi tempat bersosialisasi yang ideal sehingga kemudian tidak hanya digunakan untuk menjalin hubungan dengan mereka yang sudah kita kenal di dunia nyata, tetapi juga bagi mereka yang belum pernah kita kenal dan temui sebelumnya, tetapi memiliki ketertarikan yang sama.

Media sosial adalah sebuah pelarian bagi saya. Saya tidak mau (dan tidak merasa perlu) memungkiri hal itu. Bagi beberapa orang, mengakui hal itu bukanlah hal yang perlu mereka lakukan untuk menjaga gengsi mereka, tetapi tidak bagi saya. Faktanya memang seperti itu.

Saya pun jadi mengenal banyak orang karena media sosial. Kebanyakan adalah mereka yang sama-sama menyukai sepakbola, terutama Chelsea dan tergabung di Chelsea Indonesia Supporters Club, fans club Chelsea FC di Indonesia, di mana saya pernah menjadi anggotanya (Keanggotaan saya sudah kadaluarsa dan belum diperpanjang, jadi saya menggunakan kata pernah…). Saya mengenal banyak orang yang mungkin belum saya temui sama sekali dan berada di tempat yang begitu jauh: Agung di Kalimantan, Andy di Makassar, Dhiar di Bandung, dsb. Saya belum pernah bertemu mereka sebelumnya (Kecuali Agung, yang baru-baru ini akhirnya saya temui di sebuah sesi nonton bareng di Jakarta ketika Chelsea datang ke Jakarta), tetapi saya bisa banyak mengobrol dan bercanda dengan mereka di Twitter. Sesuatu yang mungkin tidak bisa saya lakukan di dunia nyata.

Salah satu sosok lain yang juga saya kenal di media sosial adalah Sekar. Saya tidak ingat bagaimana bisa mengenal sosok ini, juga tidak ingat pasti siapa yang memfollow terlebih dahulu. Yang pasti, sosok ini kemudian sering muncul di timeline saya, terutama karena dia sering sekali bercanda dengan Agung dan Dhiar, yang kemudian membuat saya tertarik untuk ‘nimbrung’. Sosok yang selalu dipanggil ‘Oma’ karena memang sudah memiliki anak, dan lebih tua daripada kebanyakan dari kami di CISC.

Dia adalah sosok yang terlihat tidak pernah sedih sama sekali. Begitu seringnya ia iseng untuk mengomentari status orang dengan candaan, dengan hal-hal yang terkadang tidak penting. Tidak hanya satu dua kali. Hampir setiap hari dia melakukan hal itu.

Dan hal itu tidak hanya dilakukannya pada saya, Agung, Tony, atau Dhiar. Ia melakukannya ke banyak orang di Twitter, ke orang-orang yang mungkin juga belum pernah ia kenal dan temui sebelumnya. Memang ada satu kesamaan: kami semua tergabung di CISC. Ia adalah sosok yang lucu: ia sosok yang tiba-tiba muncul begitu saja, tetapi bisa mengenal begitu banyak orang di organisasi tersebut, padahal bertemu pun belum pernah. Ia menjadi sosok yang cukup sentral di dunia per-Twitter-an anak-anak CISC.

Ia seakan menjadi teman baik bagi orang-orang ini. Teman yang menyenangkan, yang selalu bisa diajak bercanda, dan mungkin membuat kami sering tersenyum saat membuka Twitter. Aneh rasanya jika mengingat bagaimana kebanyakan dari kami belum pernah bertemu dengannya sebelumnya.

Tak heran jika kemudian kami merasa begitu kaget ketika mendengar Sekar meninggal dunia secara tiba-tiba. Saya begitu kaget ketika membaca ucapan bela sungkawa dari beberapa teman di Twitter ketika membuka Uber Social saya pada Kamis malam (12/09) kemarin. Segalanya benar-benar tiba-tiba, apalagi karena saya tidak tahu jika ia sakit sesuatu.

Belakangan baru saya ketahui jika ia sudah koma selama 24 jam di rumah sakit di Bandung karena pecahnya pembuluh darah di otak. Saya tidak mengetahui hal ini sebelumnya, dan baru membuka Twitter ketika kabar duka itu tersebar.

Sebuah kejutan luar biasa. Sayangnya bukan kejutan yang menyenangkan.

Ucapan bela sungkawa pun bertebaran di timeline saya di sepanjang malam. Banyak yang tidak percaya sosok yang lucu itu pergi secara tiba-tiba, tanpa pertanda, tanpa apapun. Ungkapan kesedihan terus muncul, terutama dari Dhiar dan Agung, dua orang yang begitu dekat dengan Sekar karena seringnya mereka bercanda bersama, atau Mbak Leny, Vida, dan Nanda, orang-orang anggota CISC yang juga cukup dekat dengan almarhumah. Kesedihan yang muncul karena salah satu orang terdekat mereka pergi begitu saja, secara tiba-tiba.

Aneh rasanya mengingat sebagian besar dari kami tidak pernah benar-benar bertemu dengannya, atau baru bertemu beberapa kali saja di dunia nyata.

Bagi saya pribadi, ini adalah hal yang menarik: bagaimana kehadiran seseorang bisa begitu berarti meski hanya kita temui di dunia maya dan tidak pernah benar-benar kita kenal di dunia nyata. Bagaimana dunia maya dan jejaring sosial bisa membuat kita membangun hubungan yang mendalam, meski tidak pernah kita temui secara langsung.

“Rasanya belum pernah sekaget ini denger kepergian seseorang yang bahkan belum pernah tatap muka.” – @ekkyrezky

Tentu, tidak semua orang di dunia maya bisa membangun hubungan yang mendalam seperti ini di dunia maya. Hanya mereka yang memiliki kepribadian yang spesial seperti Sekar yang mungkin melakukannya, yaitu mereka yang tidak segan dan tidak malu untuk ‘asal nimbrung’ dengan orang-orang baru yang memiliki ketertarikan yang sama akan sesuatu. Mereka yang tidak malu untuk mengajak bercanda seseorang yang sebenarnya asing.

Sesuatu yang mungkin tidak akan pernah bisa saya lakukan.

Hal itu justru membuat saya sangat kagum dengan almarhum. Ia adalah sosok yang luar biasa, yang bisa dicintai oleh banyak orang meski sebagian hanya dikenalnya lewat media sosial. Saya yakin, tidak semua orang bisa sepertinya.

Tidak akan ada lagi yang banyak mengeluarkan candaan di linimasa saya dan teman-teman. Ada sesuatu yang hilang, yang mungkin sulit digantikan oleh sosok lain. Ada keunikan yang sulit Anda temukan dari orang lain. Dan bagi saya, itu luar biasa.

Selamat jalan, ‘Oma’ Sekar. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s