Pengulangan Yang Membosankan

behancenetKadang, sesuatu yang teramat populer itu tidak bagus.

Contohnya saja Gangnam Style milik Psy. Popularitasnya di seluruh dunia tidak bisa dibantah lagi, dengan berbagai rekor yang ia ciptakan itu. Hampir semua orang di muka bumi ini (terutama mereka yang tinggal di kota-kota besar tentunya) mengetahui Gangnam Style dan goyangannya. Popularitasnya yang teramat besar membuat lagu ini dan goyangan ini diputar setiap hari di berbagai media, dan dipraktekkan oleh hampir semua orang, bahkan bapak ibu PNS di kota-kota kecil sekalipun.

Tapi ada ekses negatif atas popularitas yang teramat besar itu: karena terlalu sering mendengarkannya, pelan-pelan orang mulai bosan, dan cenderung muak karena pengulangannya sudah berlebihan. Pernah, dalam satu hari, saya mendengar lagu itu sampai 5 kali: di stasiun, di bis, di kapal, di rumah makan padang….. Anda yang pernah merasa muak dengan satu lagu karena diulang-ulang terus pasti paham bagaimana perasaan saya hari itu.

Sekarang, saya merasakannya perasaan muak yang sama lagi ketika melihat goyang caesar. Sesuatu yang sama, diulang-ulang hampir setiap hari di tv, videonya bertebaran di YouTube, dan banyak orang membicarakannya. Bosan, pasti.

Satu kunci yang berandil besar dalam kehadiran perasaan bosan (bahkan cenderung muak) ini adalah pengulangan.

Sesuatu yang populer biasanya memang selalu diulang-ulang, terutama oleh media. Ada upaya untuk mengeksploitasi popularitas suatu musik atau goyangan atau sebagainya itu, dengan alasan ‘masyarakat lagi suka ini’. Tapi pengulangan yang terlalu berlebihan cenderung tidak sehat, dan, seperti yang saya katakan, akan menghasilkan kebosanan. Dan itu tidak sehat.

Pengulangan yang berlebihan juga cenderung menghasilkan ketidakkreatifan. Lihat Psy: setelah Gangnam Style sukses, beberapa bulan kemudian, ia menghasilkan single Gentleman, dengan goyangan yang mirip, dan musik yang tak jauh berbeda. Psy seperti hanya memberikan sedikit modifikasi terhadap single tersukses dalam karirnya itu untuk menghaslkan hal yang baru.

Memang, secara jumlah penonton di YouTube, Psy kembali menuai sukses. Tetapi apakah kesuksesan yang sama bisa ia dapatkan di luar itu? Ternyata tidak. Lagu itu memang banyak dibicarakan, tetapi, untunglah, tidak ada lagi booming yang terlalu besar seperti Gangnam Style.

Formula yang sama, walaupun dibungkus dengan gaya yang sedikit berbeda, ternyata tidak terlalu sukses untuk menghadirkan kehebohan yang serupa.

Kenapa? Banyak orang pasti sudah bosan. Mungkin sebagian besar tidak secara sadar merasakannya, tetapi sebagian lainnya, seperti saya, pasti merasa betul. Bosan. Bahkan ketika saya pertama kali melihat video klipnya di YouTube setelah video itu diluncurkan, saya langsung kurang suka.

Sayang sekali rasanya jika kreatifitas seorang seniman harus terbelenggu oleh ambisi untuk meraih kesuksesan, sehingga pada akhirnya hanya mampu menghasilkan pengulangan.

Akhir-akhir ini, saya juga sudah mulai bosan dengan K-Pop, dengan girlband dan boybandnya. Alasannya sederhana: hampir semua grup selalu menghasilkan lagu dengan formula yang sama, dengan video yang serupa hingga tampak seperti template dan hanya diubah latar serta personelnya. Saya muak, misalnya, dengan video-video yang selalu dilakukan di dalam studio, dengan latar warna-warni dan lampu-lampu gemerlapan, dengan lagu yang berformula sama.

Hanya beberapa pengecualian yang bisa saya berikan, misalnya kepada album baru G-Dragon, atau bagi lagu Growl milik EXO. Atau lagu Give It To Me Sistar dan Gone Not Around Any Longer Sistar 19. Selebihnya, sama saja.

Permasalahan yang sama akhir-akhir ini juga saya rasakan di musik Indonesia. Well, saya memang sudah tidak terlalu memperhatikan musik Indonesia lagi dengan berbagai alasan, tetapi akhir-akhir ini, rasanya banyak sekali penyanyi pop dalam negeri yang ‘mendaur ulang’ lagu-lagu populer lawas, menyanyikannya kembali dengan aransemen yang sedikit berbeda, lalu menjadikannya single yang diputar di radio-radio. Saya menemukannya juga hampir di mana-mana: di radio, di tv, bahkan di kosan, ketika seorang teman kosan tiba-tiba memutar lagu seorang penyanyi pop yang saya tidak tahu siapa, menyanyikan lagu Begitu Indah milik Padi – lagu jaman saya SD!

Jangan salah, lagu-lagu yang didaur ulang ini memang lagu-lagu yang sangat bagus, dan beberapa penyanyi memang pas untuk membawakan ulang lagu-lagu tersebut dengan versi mereka sendiri, meski beberapa penyanyi pop memiliki kebiasaan melakukan vibrato yang berlebihan, yang jelas sekali bertujuan pamer. Tetapi masalahnya, itu adalah lagu lawas yang dibawakan lagi, bukan lagu milik mereka sendiri. Sebagus apapun lagu cover yang dibawakan penyanyi-penyanyi ini, pada akhirnya, ada satu masalah yang terlihat terang benderang: masalah kreatifitas.

Menyanyikan lagu populer lawas, menjadikannya single, lalu populer, bagi saya menunjukkan masalah: entah itu karena si penyanyi dan manajemennya memang tidak kreatif, atau mereka tidak percaya diri dengan lagu ciptaan sendiri. Yang berbahaya, ternyata tidak satu dua penyanyi yang melakukan ini. Bahkan penyanyi seperti Vidi Aldiano saja melakukannya. Sayang sekali rasanya.

Sayang sekali rasanya jika suara-suara bagus itu tidak dilengkapi dengan lagu-lagu baru yang bagus dan menunjukkan kreatifitas musisi Indonesia, bukannya mendaur ulang lagu lawas demi popularitas.

Ngomong-ngomong, saya juga kecewa dengan Sandy Sandoro. Saat dia masih di Eropa dan menjadi buah bibir di sini, rasanya ada sesuatu yang amat menjanjikan. Tapi pada akhirnya….. lagunya aneh.

Sayang sekali.

 

Gambar dari behance.net

Advertisements

2 thoughts on “Pengulangan Yang Membosankan

  1. Dah dari dulu ky, misal jaman Sheila on 7. Dimana dia yg lagi booming di-eksploitasi abis2an. Setaun 1 album. Dan pasti jelas, kualitas nya turun drastis dari album per album.

  2. setuju. Dan yg makin parah adl, skrg2 ini kyknya tiap manajemen bnr2 lg mengeksploitasi tubuh para artisnya dg outfit dan gerakan dance trllu sexy malah cenderung vulgar. Ampun dh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s