[Review] Gravity: Memanjakan Mata, Tapi Mengancam Jantung

Gravity-1

Peringatan: Saya adalah penulis review yang buruk karena tidak bisa menahan diri, jadi harap maklum jika tulisan ini full spoiler. Resiko ditanggung sendiri.

Ada banyak film yang bagus, tapi pasti tidak semuanya bisa membuat Anda merinding di sepanjang film dan membikin Anda selalu berseru dengan penuh semangat ke teman Anda yang belum menontonnya, “Lo harus nonton film ini. Sinting kerennya!”

Gravity sukses membuat saya melakukannya.

Bagi saya, Gravity adalah film Hollywood yang terhitung unik. Pertama, karena jumlah tokoh yang sedikit. Sebetulnya film ini bahkan hanya soal bagaimana Dr. Ryan Stone, yang diperankan oleh Sandra Bullock, menyelamatkan dirinya dari luar angkasa setelah semua rekannya di Explorer mati akibat hujan puing yang berasal dari hancurnya satelit-satelit di sana. Ini meleset dari bayangan saya sebelum menonton film – awalnya saya berpikir Bullock dan George Clooney lah yang akan berupaya untuk hidup hingga akhir cerita. Ternyata lebih parah: di film, kita hanya melihat Ryan Stone seorang.

Kedua, banyaknya pengambilan gambar yang lama tanpa potongan alias long shot juga hal yang menarik. Rasanya jarang melihat film Hollywood yang menggunakan long shot sebanyak itu, karena terkadang imbas buruk long shot adalah membuat penonton agak bosan, sesuatu yang pasti sangat dihindari. Selain itu, hal menarik lainnya adalah pengambilan gambar point of view alias POV, yang mana membuat penonton bisa seperti melihat adegan dari mata si tokoh utama. Singkatnya: sinematografinya sangat bagus dan sedikit berbeda.

gravity-movie-review-space-970x0

Terlepas dari masalah ketidakakuratan detail cerita dari pandangan keilmuan, yang banyak dibahas oleh media-media Amerika (beberapa bahkan sampai mewawancarai secara khusus mantan astronot atau ilmuwan fisika, misalnya seperti yang dilakukan oleh situs Inside Movies di sini), ide cerita Gravity menurut saya sangat menarik. Naskahnya pun bagus dan membuat film ini sejak awal hingga akhir begitu menegangkan. Saya sampai beberapa kali menahan nafas karena adegan-adegan tertentu yang membikin merinding. Agak berlebihan memang, tetapi memang itu yang terjadi pada saya kemarin.

Ketiga, efek visual yang memukau. Penggambaran bumi yang begitu indah, yang menjadi latar belakang utama di sebagian besar film ini sangat bagus dan benar-benar terlihat begitu indah. Bahkan, para mantan astronot yang memberikan kritik soal akurasi dari sisi ilmu pengetahuan pun memuji penggambaran bumi yang begitu riil. Ini adalah bagian yang, menurut mereka, benar-benar terlihat seperti pemandangan bumi sebenarnya dari luar angkasa.  Dan memang betul, penggambarannya betul-betu indah. Bahkan sempat ada pemandangan aurora di salah satu adegan.

Tetapi aspek yang menarik perhatian saya di sepanjang film ini adalah adanya beberapa simbol yang menarik di film. Yang paling menarik tentu yang ada di akhir drama pertama film: ketika Ryan Stone berhasil masuk ke ISS, membuka seluruh baju luar angkasanya, lalu menghirup oksigen sebanyak-banyaknya setelah beberapa waktu menghirup CO2 karena oksigen di dalam tabung bajunya habis. Ia meringkuk dalam posisi melayang tanpa gravitasi, dan sekilas membentuk simbolisasi layaknya seorang bayi di dalam rahim. Sepertinya Alfonso Cuaron sengaja melakukannya, sebagai sebuah penggambaran bagaimana Ryan Stone seperti ‘terlahir kembali’ setelah nyaris mati karena kehabisan oksigen. Ini, menurut saya, sangat menarik.

gravity_bullock_2.jpg.CROP.promovar-mediumlarge

Adegan lain yang juga amat menarik di mata saya dan membuat saya terus teringat karena seperti penggambaran simbol lainnya adalah di akhir film. Saat pesawat Shenzou yang ditumpangi Ryan Stone jatuh ke bumi, pesawat itu jatuh di atas danau. Bukan laut, tetapi danau. Buat saya ini juga seperti penggambaran simbol bahwa “Ryan Stone telah benar-benar pulang ke rumahnya”. Karena kita tahu, ia memang tinggal di pinggir Lake Zurich di Illinois. Lalu juga ketika ia merangkak keluar dari danau. Mengapa saya sempat terpikir kalau itu seperti penggambaran teori evolusi manusia ala Charles Darwin ya? Entahlah.

Aspek psikologi di balik latar belakang tokoh juga jadi satu isu lain yang membuat film ini kian dramatis. Bagaimana seorang Ryan Stone memiliki latar belakang kehidupan yang tidak terlalu bagus dan mencoba lari dari kenyataan menjadi aspek tersendiri yang membuat kisahnya bertahan hidup di luar angkasa menjadi menarik dan memiliki arti khusus. Pada akhirnya, film ini tidak hanya menjadi film yang hanya mengisahkan seorang astronot yang berusaha bertahan hidup, tetapi ada arti lain di balik mengapa ia harus bertahan hidup.

Meski harus diakui juga, aspek konflik batin yang sempat dialami oleh Dr. Stone ini terasa kurang kuat dan mendalam, sehingga terkesan ‘nanggung’. Namun setidaknya, film ini tidak hampa makna.

Pada akhirnya, saya harus menyimpulkan begini: bagi saya, Gravity adalah film drama sci-fi yang komplet: ketegangannya seru, sinematografi yang berbeda, aspek visualnya luar biasa, pengemasan simbol yang menarik, dan memiliki pesan yang lumayan apik meski kurang mendalam. Jika saja aspek terakhir itu dimaksimalkan lagi, saya berani memberikan ponten sempurna.

Oh iya, disarankan untuk menonton film ini dalam versi 3D. Walau cuma 90 menit, tetapi rasanya nggak akan rugi.

Advertisements

3 thoughts on “[Review] Gravity: Memanjakan Mata, Tapi Mengancam Jantung

  1. Pingback: Rekomendasi Akhir Pekan #1 | @ekkyrezky

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s