[Review Buku] The Wind-Up Bird Chronicle – Haruki Murakami

Gambar dari wodumedia.com

The Wind-Up Bird Chronicle adalah salah satu buku yang sangat saya cari selama satu tahun terakhir. Keberadaannya yang langka dan ulah Vintage yang merilis buku-buku Murakami dalam cetakan baru dengan ukuran lebih besar dan kertas yang lebih baik daripada keluaran sebelum tahun 2010 membuat buku ini kini keluar dengan harga yang mahal: sekitar Rp 200.000. Padahal dulunya, harganya sekitar 100.000 (kalau tak salah malah sama seperti Norwegian Wood dan Kafka on the Shore yang lama).

Beruntung Echa sedang cuci gudang koleksi buku-bukunya, salah satunya The Wind-Up Bird Chronicle. Saya pun langsung membelinya dengan harga hanya Rp 100.000 saja. Lumayan, walau kondisi bukunya tidak seperti yang saya harapkan (maklum, saya berharapnya seperti beli buku yang masih baru).

Kenapa saya begitu mencari buku ini? Melihat review dan rating di Goodreads, bisa dikatakan The Wind-Up Bird Chronicle merupakan buku terbaik Haruki Murakami. Ratingnya paling tinggi, dan jika Anda melihat halaman depan buku-buku Murakami cetakan lama, hampir pasti tertulis ‘Author of The Wind-Up Bird Chronicle’. Itu artinya, itulah buku Murakami yang paling menjual dan populer – meskipun sebenarnya saya lebih merasa bahwa Norwegian Wood lah buku Murakami yang paling populer hingga saat ini.

Ekspektasi saya pun meninggi karena melihat predikat tersebut. Dan kita tahu bahwa ekspektasi yang tinggi bukanlah hal yang baik. The Wind-Up Bird bisa dikatakan sama membingungkannya dengan Kafka on the Shore. Ia memiliki alur cerita yang benar-benar sulit ditebak, apalagi begitu banyak cabang yang muncul di sepanjang perjalanan selama lebih dari 600 halaman buku itu. Kita betul-betul dipaksa untuk berpikir soal apa yang mengaitkan kejadian yang satu dengan kejadian yang lainnya, dan yang pasti, harus betul-betul bersabar karena godaan untuk berhenti membacanya begitu besar. Tapi di sisi lain, alur cerita yang misterius seperti itu juga bisa membuat kita ingin membacanya terus-terusan.

Tapi tidak seperti Kafka on the Shore yang akhir kisahnya lebih membingungkan (dan menurut Murakami di salah satu wawancara, ‘Anda perlu membacanya dua kali’), The Wind-Up Bird Chronicle menawarkan penjelasan yang lebih gamblang di akhir cerita, yang membuat kita bisa merasa enggan berhenti membaca mulai halaman 550an hingga akhir. Pada akhirnya, inti kisah itu bisa kita mengerti, dan hal itu, bagi saya, akan menimbulkan kekaguman lagi pada kehebatan Murakami dalam merangkai potongan-potongan cerita yang sebenarnya terlihat begitu berjarak antara satu sama lain.

Kisah The Wind-Up Bird Chronicle tak jauh berbeda dengan buku-buku Murakami yang lainnya: sureal dan kelam. Ia bercerita mengenai dunia yang lain, mengenai kekuatan yang lebih besar dari kuasa manusia, dan mengenai kisah cinta yang aneh. Murakami lagi-lagi mengajak kita berimajinasi mengenai keberadaan dunia yang berbeda, membayangkan kepala yang pecah dan otak dan darah yang berhamburan, seks yang liar, dan mengenai kesendirian tokoh utamanya. Topik-topik yang hampir selalu diangkat oleh Murakami di dalam buku-bukunya (hingga saat ini, saya masih belum menemukan buku Murakami yang tak bercerita secara gamblang mengenai hubungan seks dan kesendirian).

Secara keseluruhan, The Wind-Up Bird Chronicle sangat menarik, apalagi jika mau mendalami kisah didalamnya untuk mengetahui maksud ceritanya secara keseluruhan. Sayangnya buku gagal ini menggeser 1Q84 dan Norwegian Wood sebagai buku Murakami terbaik yang pernah saya baca. 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s