[Review] Rhapsody – Mahir Pradana

18810744

Peringatan: Saya adalah penulis review yang buruk karena tidak bisa menahan diri, jadi harap maklum jika tulisan ini full spoiler. Resiko ditanggung sendiri.

Saya tidak bisa memungkiri bahwa awalnya, saya skeptis terhadap buku ini. Sempat terpikirkan di kepala, bahwa Rhapsody hanya akan menyajikan sebuah kisah cinta yang biasa, dengan drama ala novel-novel pop lainnya yang membanjiri pasaran. Pada akhirnya saya tetap membeli buku ini karena saya penasaran ingin membaca karya Daeng Mahir, sosok yang saya kenal lewat dunia maya karena sama-sama menulis di Bolatotal (dan sempat bertemu dan mengobrol langsung ketika ia berkunjung ke Jakarta beberapa minggu lalu).

Tentu saja, saya salah.

Nyatanya, ‘Rhapsody’ memiliki tema yang memikat yang dibalut dalam kisah yang amat menarik dan dijahit dengan amat baik oleh Mahir. Novel ini tidak sekedar mengisahkan kesombongan ala traveller seperti buku-buku travelling, bukan juga novel cinta biasa yang bisa kita temui dalam drama fantasi anak muda. Lebih dari itu, ‘Rhapsody’ mengisahkan mengenai impian dan kekuatan keyakinan, dan semua itu disajikan dengan baik sehingga pada akhirnya, bagi beberapa orang, kisah di dalamnya bisa memberikan inspirasi yang amat positif.

Bagi saya pribadi, daya tarik utama dari novel ini, yang membuat saya sulit melepaskan pandangan dari deretan teks di dalamnya sehingga saya bisa menyelesaikannya hanya dalam waktu beberapa jam saja, adalah kisah mengenai Abdul Latif yang membuka hostel di pinggir Pantai Losari di Makassar. Bagi traveller kere hore, kata ‘hostel’ memang menyimpan makna yang mendalam karena dalam perjalanan setiap pejalan dengan bujet terbatas, hostel bukan hanya sekedar tempat peristirahatan ketika melakukan perjalanan untuk memenuhi gejolak keinginan melihat dunia luar. Hostel adalah tempat pertemuan dengan mereka yang asing, tempat para pejalan berbagi kisah perjalanan, berbagi pengalaman. Terkadang, hostel justru bisa menghadirkan sebuah kisah yang jauh lebih bernilai dibandingkan pengalaman melihat-lihat tempat-tempat terkenal dan ikonik di suatu tempat dan berfoto didepannya. ‘Rhapsody’ dan kisah lika-liku kehidupan hostel “Makassar Paradise’ mengingatkan saya lagi akan hal tersebut.

Kehidupan hostel yang khas memang jadi inti cerita dalam novel ini. Dengan sangat baik, Mahir menceritakan bagaimana Al mewujudkan impiannya (dan impian ayahnya) dengan membangun hostel dengan kemampuan seadanya, bagaimana hostel Makassar Paradise mengalami momen-momen indah setelah kedatangan Miguel, bagaimana hostel ini mempertemukan banyak orang dari berbagai latar belakang negara dan budaya, bagaimana drama mulai terjadi dan cobaan datang silih berganti, dan bagaimana tokoh-tokoh di dalam kisah ini bangkit untuk mempertahankan impiannya masing-masing.

Ketika membaca novel ini, saya teringat dengan hostel-hostel di beberapa negara ASEAN yang pernah saya singgahi, sebagian besar bersama kedua teman saya, Niken dan Uli, dalam perjalanan empat negara pada Januari 2013 yang amat berkesan itu. Novel ini juga membuat saya teringat pada cita-cita Uli, yang memang sudah lama memimpikan untuk mendirikan dan mengelola sebuah hostel di Indonesia, sama seperti Al di dalam ‘Rhapsody’. Sebuah impian yang juga pernah menular pada saya, terutama setelah melihat fakta bahwa di Indonesia, penginapan berjenis hostel, yang memiliki kamar yang berisi banyak orang karena menggunakan 3-4 tempat tidur bertingkat, adalah hal yang masih sangat asing. Saya sendiri belum pernah menemukannya, bahkan di Jogja yang memiliki jumlah hotel/penginapan yang begitu banyak (Ada yang pernah menemukan penginapan berjenis hostel di Indonesia? Tolong beritahu saya).

Novel ini juga mengingatkan saya pada unek-unek yang sempat saya sampaikan pada Faisal, teman SMA saya di Jogja, soal bagaimana minimnya informasi mengenai penginapan-penginapan di Indonesia di dunia maya. Mencari hotel/penginapan murah di Indonesia yang bisa kita booking lewat mesin pencari hotel terkenal seperti Agoda atau Hostelworld adalah hal yang amat susah dilakukan, menunjukkan bagaimana lemahnya manajemen penginapan-penginapan murah di Indonesia dalam memanfaatan internet sebagai media pemasaran penginapan mereka. Dalam ‘Rhapsody’, memang sempat dikisahkan bagaimana hostel milik Al baru mengalami perubahan nasib setelah ia bergabung dengan Hostel Universe, sebuah situs yang berisi informasi mengenai hostel-hostel murah di seluruh dunia – barangkali sejenis Agoda.

Tetapi yang terpenting dari novel ini adalah: Mahir mengingatkan bahwa bentuk penginapan murah seperti ini memang masih asing di Indonesia, tetapi memiliki potensi pasar yang luar biasa. Dan meski kita memiliki adat ketimuran yang selalu kita agung-agungkan itu, hostel toh tetap bisa hidup, meski, tentu saja, ada resiko-resiko yang harus dihadapi seperti kasus yang sempat dialami oleh Makassar Paradise dalam novel ini.

Pada akhirnya, harus diakui bahwa ‘Rhapsody’ berhasil membangkitkan kembali impian saya untuk mendirikan hostel di Indonesia – sebuah impian yang, harus saya akui, saya contek dari impian indah Uli. Dan bagi saya, ini adalah bagian terpenting, dan paling bernilai, dari novel ‘Rhapsody’ ini.

Catatan: Tentu saja ini bukan novel yang melulu membahas soal hostel saja. Kisah cinta di dalamnya juga cukup indah dan disajikan dengan menarik dan kreatif, tetapi karena saya pribadi lebih tertarik pada aspek perhostelan yang diceritakan dalam novel ini, saya lebih berfokus membahas soal bagian itu (selain juga karena saya sudah terlalu terpaku pada ‘kisah cinta yang aneh’ ala Haruki Murakami). Harap maklum.

Advertisements

One thought on “[Review] Rhapsody – Mahir Pradana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s