Aku Masih Ingat…

Aku masih ingat bagaimana logo Cambridge dengan gagah terpampang di depan sekolah kita. Berdampingan dengan logo sekolah kita yang khas, yang masih dengan congkaknya melabeli dirinya sebagai SMA Teladan. Sebuah julukan yang tak pernah aku sukai sejak aku menjadi siswa di sana, yang membuatku selalu menyebut SMA Negeri 1 Yogyakarta setiap kali ada yang bertanya padaku di mana aku sekolah.

Aku masih ingat bagaimana kita terkagum-kagum melihat logo itu terpampang di sana, satu hal yang membuat kita begitu bangga. Kita sekolah di SMA yang bekerja sama dengan University of Cambridge  – universitas terbaik di Inggris! Rasanya begitu hebat. Begitu gagah. Begitu…. luar biasa. Bagi anak lugu yang datang dari pinggiran Jogja, apa yang kita lihat di hari pertama kita sekolah itu begitu membuatku kagum. Dan, aku masih ingat, kamu pun begitu.

Aku masih ingat bagaimana kita, dengan begitu lugu, berandai-andai bahwa setelah lulus dari salah satu SMA terbaik di Jogja ini, kita akan terbang ke Inggris. Menjadi mahasiswa Cambridge, mengenakan jas dengan logo nan agung yang kita lihat setiap hari di depan sekolah. Dan, aku juga masih ingat, bagaimana kita sampai membuat janji untuk mewujudkan impian itu.

Janji yang mungkin bisa membuat kita terbahak-bahak jika mengingatnya bersama-sama sekarang. Bahwa kita akan pergi ke Inggris berdua, kuliah di Cambridge, dan menjalani hidup bersama. Aku belajar seni, kau belajar biologi. Janji yang dulu membuat raut wajah kita begitu cerah, begitu sumringah. Walau sebetulnya yang membuat kita begitu girang membayangkannya bukan soal kuliah di Cambridge, tetapi soal bagaimana kita akan hidup berdua di Inggris Raya.

Masa SMA memang bisa begitu absurd. Percintaan di kala sekolah memang bisa membuat kita berandai-andai begitu lepas, begitu bebas. Tak terkekang oleh pikiran-pikiran realistis yang mungkin akan membatasi mimpi-mimpi kita. Kita, yang masih begitu muda, bisa dengan entengnya bermimpi tinggal berdua di Inggris Raya. Jika membayangkannya sekarang, kita berdua mungkin akan sama-sama berkata: betapa absurdnya!

Tapi pada akhirnya, kita memang berbeda. Kau menjadi seorang yang begitu realistis sementara aku, dengan naifnya, masih memegang mimpi-mimpi itu di dalam hati dan pikiran. Dan meyakini bahwa bukan tak mungkin aku (dan juga kau) bisa mewujudkannya suatu hari nanti. Toh hidup kita masih panjang, pikirku. Sementara dunia ini penuh dengan kemungkinan. Dan juga keajaiban.

Seandainya saja kau tahu bahwa keajaiban itu memang ada, dan usahaku untuk terus memelihara mimpi-mimpi yang sempat kita bagi itu membawaku kepadanya. Seandainya saja kau juga meyakininya, mungkin kau tak akan berada di belantara ibukota bernama Jakarta, tetapi berdiri di sini, dengan setelan hitam-putih dan “toga” ala Cambridge, bersiap memasuki Senate House bersamaku. Bersama-sama menyambut gelar master yang, aku tahu, masih kamu cita-citakan hingga hari ini.

Aku masih ingat bagaimana di hari perpisahan kita, kau sebut aku sebagai pemimpi yang muluk.

Seandainya saja kau tahu, bahwa sang pemimpi muluk ini berhasil hidup mewujudkan sebagian mimpi yang kita buat dulu. Seandainya saja kamu tetap meyakininya…

 

Snapshot_20140604

Advertisements

One thought on “Aku Masih Ingat…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s