Etika Berjualan

Salah satu masalah yang paling mengganggu di Indonesia, bagi saya, adalah lemahnya kita dalam beretika. Hal yang tentu jamak terjadi dan kita temukan. Ketidakmampuan kita dalam mengantri dengan tertib, misalnya, hanyalah salah satu contohnya. Padahal, menurut saya, antri adalah salah satu tindakan mendasar dalam menjadi manusia yang beradab. Sayangnya kita seringkali melupakan hal itu hanya karena ketidaksabaran kita.

Ada hal lain yang menganggu saya yang juga menyangkut etika. Hal yang sering terjadi saat ini ketika kita melakukan transaksi, entah itu belanja di warung modern ataupun di tempat perdagangan lainnya. Yang saya maksud adalah persoalan uang kembalian. Ini adalah hal yang jamak terjadi: penjual seringkali tidak memiliki uang kembalian, lalu meminta pembeli untuk menyumbangkannya – ke pihak yang tak dijelaskan juntrungannya – atau, jika dalam jumlah yang besar, meminta kita ‘memecahkan’ uang kita yang bernominal besar terlebih dahuku lalu membayar dengan yang pas.

Ini seperti konsumen lah yang harus berusaha untuk mencari uang kembaliannya sendiri, yang berakibat konsumen harus membeli hal lain yang tidak perlu demi memecah uang bernominal besar tadi. Ini salah. Karena, menurut saya, salah satu kewajiban penjual adalah menyediakan uang kembalian untuk konsumennya, dan bukan sebaliknya.

Masalahnya kesalahan seperti ini kini dipelihara. Kita membiarkan praktek-praktek semacam ini dilakukan, menganggapnya sebagai sebuah kewajaran. Ini, terutama, sangat menganggu ketika terjadi di warung-warung modern dan pasar swalayan. “Beberapa ratusnya mau disumbangkan, Pak?” jadi hal paling sering kita dengarkan dewsa ini ketika berbelanja di warung modern. Ke mana uang itu disumbangkan seringkali tak dijelaskan, kecuali beberapa warung modern yang dengan jelas menunjukkan kalau mereka bekerja sama dengan badan amal atau badan-badan kemanusiaan lain seperti PMI. Tapi selain itu, tak ada penjelasan sama sekali ke mana uang kembalian yang seharusnya kita terima itu mengalir. Apakah betul-betul ke kaum yang membutuhkan? Apakah digunakan secara baik tanpa ada maksud promosi (bukankah kita sudah sering melihat upaya promosi badan-badan usaha yang berkedok gerakan amal?)? Atau malah mengalir ke kas pemasukan si warung modern itu? Kita tidak tahu.

Betul, hanya beberapa ratus rupiah. Mungkin tak signifikan bagi kita. Tetapi kalikan beberapa ratus rupiah itu dengan ratusan atau bahkan ribuan orang. Jumlahnya pasti tak sedikit. Ke mana uang itu mengalir?

Saya tidak tahu. Dan mungkin Anda juga.

Advertisements

One thought on “Etika Berjualan

  1. Kalo saya tetep nagih kembalian.
    Semalam “100 rupiahnya disumbangkan” saya bilang “kembalian aja, mbak” kalo gak urgen2 banget, saya balikin aja barangnya gak jadi beli

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s