Baca Buku Di Kereta

Empat tahun yang lalu, saya pernah menulis bagaimana saya menganggap kereta sebagai moda transportasi umum paling ideal yang ada.

Empat tahun kemudian, saya masih memiliki anggapan yang sama. Bedanya, jika empat tahun yang lalu saya mengatakan bahwa saya bukan fan berat kereta dan lebih menyukai motor, kini status itu sudah berubah.

Kini, kereta telah moda transportasi paling penting dalam kehidupan sehari-hari saya (Commuter Line). Sebagian dikarenakan motor saya yang sekarang ini bukan jenis motor yang nyaman untuk digunakan di Jakarta, dan sebagian lagi karena kereta memang menyenangkan.

Ada satu hal yang begitu saya senangi jika naik kereta (terutama jika bukan di jam-jam ramai): membaca buku. Membaca buku adalah hal terbaik yang bisa kita lakukan baik saat menunggu di stasiun maupun saat di dalam kereta. Sayangnya tak banyak yang menyadari hal itu dan lebih memilih untuk berkutat dengan smartphone mereka masing-masing. Padahal, momen-momen yang membosankan di dalam kereta adalah waktu yang sangat pas untuk diisi dengan buku – karena dengan kesibukan dan pengaruh internet dalam kehidupan kita sekarang ini, momen-momen menjemukan tanpa ada banyak pilihan seperti ketika di stasiun atau di dalam kereta menjadi begitu langka. Dan karena itulah kita harus memanfaatkannya dengan membaca buku.

Pada akhirnya, kini saya malah lebih banyak menghabiskan waktu menghabiskan buku di kereta ketimbang saat di kamar atau di tempat lain. 80% novel Zen RS, Jalan Lain Ke Tulehu, misalnya, saya baca di dalam kereta, dan hanya 20% yang saya baca di kamar atau di tempat lain.

Dan karena alasan saya di atas juga saya sekarang begitu gembira kalau melihat ada yang membaca buku di stasiun atau di kereta – buku apapun itu. Entah itu novel teenlit ala ABG lokal, atau novel impor ratusan ribu yang dibeli di Kinokuniya. Tak masalah. Entah itu dalam bentuk buku fisik maupun ebook yang dibaca menggunakan tablet ukuran 7 inci. Bukan masalah juga. Saya toh pernah menghabiskan Dance Dance Dance-nya Haruki Murakami dan biografi Andrea Pirlo lewat ebook yang dibaca menggunakan tablet (yang kini sudah sekarat :(((), dan sebagian besarnya saya baca di dalam kereta. Percayalah, tablet 7 incimu itu sangat menyenangkan untuk dipakai membaca. Ukurannya begitu pas untuk membaca ebook, jadi alangkah sayangnya kalau hanya dipakai untuk main game atau update status semata.

Yah, walaupun harus diakui juga, level kekerenan membaca buku fisik memang tetap jauh lebih tinggi ketimbang membaca ebook di tablet. Karena bukan rahasia lagi kalau mindset orang pada umumnya ketika melihat seseorang memegang tablet adalah menganggap orang itu menggunakannya untuk main game, update status, atau chatting. :)))

Kalau belum mencoba membaca buku di kereta, cobalah. Menyenangkan, dan waktumu akan berguna sepenuhnya. Asalkan jangan dipaksakan dilakukan ketika jam padat, sih. Saya pernah mencoba melakukannya dan akhirnya ribet sendiri. 😀

Ayo baca buku di kereta!

Advertisements

One thought on “Baca Buku Di Kereta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s