Beberapa Pelajaran Penting Tentang Seoul

Sebelum saya berangkat ke Korea Selatan, ada satu nasihat yang mirip yang disampaikan oleh beberapa teman yang pernah ke sana: habiskan sebagian besar waktu perjalanan di sana di Seoul saja. Sebuah nasihat yang membuat saya heran, karena jujur, sebelum berangkat, saya malah lebih excited dengan Busan ketimbang Seoul. Memangnya ada apa di Seoul? Apa yang istimewa di sana? Seoul, saya pikir ketika itu, tak ubahnya seperti kota besar pada umumnya. Membosankan. Saya dengan naifnya membandingkan Seoul dan Busan dengan Kuala Lumpur dan Penang – yang satu kota besar biasa yang sangat membosankan, yang satu lagi sangat menarik dan banyak hal eksotik yang ditawarkan.

Kenyataannya, saya salah sama sekali.

Seoul adalah kota yang seru, terutama bagi mereka yang senang menyaksikan acara-acara tv Korea. Kota ini memiliki terlalu banyak spot menarik yang sungguh sayang untuk dilewatkan. Dan meskipun subway di kota ini terhitung cepat – kalau Anda membandingkannya dengan Commuter Line, tentu – tetap saja dua hari adalah waktu yang sangat sedikit untuk mengunjungi semuanya. Seoul, kawan, adalah kota yang terlalu luas untuk dikunjungi dalam dua hari. Dan pada akhirnya, hanya penyesalan yang datang ketika kita harus meninggalkan kota ini dan menuju Busan.

Jadi, pelajaran pertama yang saya dapatkan di Seoul adalah:

1. Habiskan sebanyak mungkin waktu di Seoul.

Empat hari mungkin waktu paling minimal untuk mengunjungi beberapa tempat menarik dan penting di Seoul (termasuk Nami Island, yang lokasinya sebetulnya di luar kota Seoul). Seminggu adalah waktu yang disarankan. Intinya: jangan hanya dua hari. Sungguh-sungguh merugi.

2. Ada baiknya membawa pasangan jika berkunjung ke Seoul.

Seoul adalah kota yang romantis. Teramat romantis malah, karena di tempat-tempat publik, terutama di subway dan di Namsan Tower, Anda bisa melihat pasangan muda-mudi berpacaran dengan sangat mesranya. Berpelukan di tempat umum bukanlah hal tabu di kota ini dan percayalah, pemandangan seperti ini bisa memunculkan rasa iri. Jadi, bawalah pasangan Anda.

3. Mengenal nama-nama makanan Korea dan bentuk tulisannya sangat disarankan.

Ini mungkin sudah menjadi rahasia umum, tetapi kebanyakan orang Korea tidak bisa berbahasa Inggris – bahkan untuk kata-kata yang sederhana seperti pork atau beef sekalipun. Jadi, jika Anda benar-benar buta Korea dan tidak senang menonton program TV Korea seperti Running Man, ada baiknya mulai mempelajari nama-nama makanan yang umum di Korea seperti tteokbokki, odeng, kimbap, bibimbap, ramyun, bulgogi, dll. Apalagi jika bisa menghafalkan tulisannya. Setidaknya, ketika Anda memesan makanan, Anda tidak perlu bertanya kepada pelayan yang akan kebingungan menerangkannya, dan Anda pun akan sudah memahami lebih dahulu apa yang akan Anda makan itu.

Foto dari Path Ima. :D

Foto dari Path Ima. 😀

4. Bawa uang sebanyak mungkin!

Seoul adalah kota yang sangat mahal. Sangat mahal. Satu kali perjalanan menggunakan subway saja sekitar Rp 12.000. Satu kali makan normalnya menghabiskan 5-10 ribu won atau Rp 60.000 – Rp 120.000. Makan di restoran fastfood, yang terasa mahal di Indonesia, akan terasa murah di sana. Bersiaplah menghabiskan beberapa juta rupiah hanya dalam beberapa hari, belum termasuk belanja.

5. T-Money adalah benda paling penting yang harus Anda miliki.

Sesampainya Anda di Seoul, carilah convenience store (misalnya Storyway di Seoul Station) lalu belilah T-Money. T-Money adalah alat pembayaran elektronik, semacam Flazz Card atau E-Money di Indonesia, yang bisa digunakan untuk membayar biaya perjalanan subway, bis, taksi, dan membayar belanja di convenience store. Jelas kartu ini menjadi sangat penting, apalagi bagi backpacker yang pergi ke mana-mana menggunakan subway atau bis. Harga kartunya adalah 5000 won, belum termasuk isi kreditnya.

20141029_234506

6. Keluar tengah malam? Hati-hati banyak orang mabuk.

Hati-hati dengan banyaknya orang-orang mabuk yang berkeliaran di Seoul, terutama di wilayah padat seperti sekitar kampus. Berhubung hostel kami tak jauh dari Sungkyunkwan University, kami sempat keluar tengah malam untuk mencari makan dan harus melihat banyaknya orang mabuk di jalanan, biasanya anak-anak muda (mungkin mahasiswa) dan bergerombol, baik laki-laki maupun perempuan. Alkohol memang merupakan bagian yang hampir tak terpisahkan dari kuliner malam Korea, dan merupakan bagian dari budaya di sana.

7. Tak dilayani dengan baik? Maklumi saja.

Kami sempat mendapatkan pelayanan yang kurang menyenangkan saat mengunjungi convenience store di Seoul, di mana orang yang menjaga kasir convenience store tersebut menunjukkan raut wajah tak senang melihat kami melihat-lihat di dalam tokonya. Dan kalau Anda mengalaminya, dimaklumi saja. Menurut Resha, hal ini mungkin karena orang Korea tersebut tidak bisa berbahasa Inggris. Menurutnya, orang Korea yang kurang bisa berbahasa Inggris sering tidak nyaman jika harus berhadapan dengan orang asing – sesuatu yang membuat tiba-tiba saya teringat editor ChelseaFC.com untuk bahasa Korea, yang sangat jarang berbicara jika semua editor di Asia melakukan meeting lewat Skype. Apa mungkin itu juga menjadi alasannya, ya?

8. Penjual makanan biasanya ramah dan menyenangkan.

Berbeda dengan para penjaga convenience store, orang-orang yang bekerja di restoran kecil atau warung jajanan di pinggir jalan biasanya sangat ramah, bahkan meski mereka tidak bisa berbahasa Inggris sekalipun. Mereka biasanya akan kesulitan untuk menerangkan makanan jika Anda bertanya, tetapi mereka akan berusaha melakukannya dengan baik dan sabar. Setidaknya itulah kesan yang saya dapatkan, tak hanya di Seoul, tapi juga di Busan.

9. Naik ke Namsan Tower? Siap-siap antri panjang.

wpid-20141010_215013.jpg

Ini terutama jika Anda pergi di akhir pekan. Saya mengalaminya di malam kedua kami di Seoul, ketika saya pergi sendirian ke Namsan Tower (saya memutuskan untuk pergi sendirian karena sangat ingin melihat cahaya lampu kota Seoul dari atas bukit Namsan), ketika saya harus mengantri sampai setengah jam hanya untuk naik ke cable car dari stasiun di wilayah Myeongdong. Niken dkk. yang akhirnya berniat naik ke Namsan pada keesokan harinya harus melihat antrian yang lebih parah lagi, yang akhirnya membuat mereka membatalkan kepergian itu karena harus mengejar kereta malam ke Busan.

Jangan lupa poin nomor dua di atas. Jangan pergi sendirian ke Namsan Tower di akhir pekan malam-malam. Jangan! Nanti bernasib seperti saya: kedinginan, harus iri melihat begitu banyak orang berpelukan dan memasang gembok di pagar, dan harus mendapatkan pemandangan proses lamaran seorang pria kepada pacarnya yang sangat tersentuh dan menangis keras. HAH.

wpid-20141010_214852.jpg

10. Bawa dan pakai sneakers terbaikmu.

Hampir semua orang di Seoul sepertinya menyukai sneakers keren – pergilah ke stasiun Myeongdong di akhir pekan dan lihatlah kaki-kaki anak-anak muda di sana. Sneakers-sneakers terkenal macam AirMax adalah pemandangan biasa. Apalagi sneakers cum running shoes seperti Lunarfly. Sangat biasa. Adidas SL72 yang saya pakai jadi kelihatan tidak ada apa-apanya.

Jadi, bawa dan pakai sneakers terbaikmu di Seoul.

Advertisements

3 thoughts on “Beberapa Pelajaran Penting Tentang Seoul

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s