Rekomendasi Akhir Pekan #1

Saya sangat senang berbagi hal-hal yang sedang saya senangi ke orang lain (baca: memaksa orang agar ikut suka juga), entah itu film, lagu, atau buku. Saya yakin kebanyakan dari kita mungkin seperti itu. Karena saya butuh medium untuk menyalurkannya, saya pikir mungkin akan menarik untuk menuliskannya secara reguler setiap akhir pekan di blog ini. Dan karena saya cukup malas menulis panjang-panjang (meski mengaku blogger), rasanya lebih pas jika rekomendasi-rekomendasi tersebut dijadikan satu postingan saja. Jadilah muncul ide postingan ‘Rekomendasi Akhir Pekan’ yang (rencananya) akan saya tulis di setiap hari Sabtu atau Minggu.

Postingan Rekomendasi Akhir Pekan, yang saya mulai hari ini, akan berisi rekomendasi-rekomendasi film, lagu, buku, artikel, atau apapun yang saya konsumsi selama satu pekan terakhir dan membuat saya terkesan. Semua rekomendasi saya tentunya bersifat subjektif, artinya sesuai selera saya pribadi, jadi tidak ada jaminan Anda akan menyukainya juga, tentu. Dan karena saya bukan Baygon, tidak ada jaminan rekomendasi saya ini bermutu (maafkan selera humor saya yang payah).

Dan inilah rekomendasi saya untuk pekan ini…

Interstellar

Maafkan selera saya yang sungguh mainstream, tetapi Interstellar memang sangat sangat bagus. Meski banyak dikritik oleh sebagian penggemar maupun ilmu astronomi dan fisika terkait teori-teori yang digunakan di dalam film ini (misalnya tulisan Phil Prait di sini), Christopher Nolan sekali lagi berhasil membuat saya berkata ‘gila’ berkali-kali. Eksekusi efeknya mungkin tak secanggih Gravity, tetapi ciri khas Nolan dengan skenario yang membuat kepala pusing jelas jadi kekuatan utama film ini. Disarankan untuk menontonnya di 4DX atau IMAX.

MAN WITH A MISSION

Saya sudah mendengar nama band ini sejak beberapa minggu terakhir, tetapi baru hari ini saya mendengarkan lagunya secara langsung. Dan, percayalah, mereka keren sekali!

MAN WITH A MISSION adalah sebuah band Jepang yang memiliki ciri khas berupa topeng serigala yang digunakan oleh para anggotanya, baik di video klip maupun di atas panggung saat konser. Mereka memainkan musik alternative rock dengan warna musik yang sangat kebarat-baratan – jika Anda tahu tentang One OK Rock, pasti Anda tahu yang saya maksud. Warna musik mereka yang tak seperti band Jepang pada umumnya membuat mereka, semestinya, bisa cukup laku secara internasional.

Untuk mulai mendengarkan mereka, coba dengarkan “Wake Myself Again”, yang pernah menduduki peringkat 1 di Japan Hot 100 di Billboard.

Inside the Cult of ‘Football Manager’

Football Manager adalah salah satu game paling populer di antara para penggemar sepakbola. Meski tak memiliki grafis yang luar biasa, Football Manager memiliki keunikan yang tak bisa disamai oleh game populer lainnya seperti Pro Evolution Soccer atau FIFA, yang membuat game ini memiliki level adiksi yang bisa berbahaya. Dalam artikel Greg Johnson di Vice UK ini, dijabarkan dengan lebih menarik lagi bagaimana racun adiksi yang terkandung dalam game ini memiliki pengaruh yang sangat besar bagi kehidupan banyak penggemarnya. Artikel yang sangat menarik: http://www.vice.com/en_uk/read/football-manager-greg-johnson-322

Haruki Murakami: ‘I’m an outcast of the Japanese literary world’

Ini sungguh bias karena dipengaruhi oleh kecintaan saya pada Haruki Murakami, tetapi artikel ini bagi saya sangat menarik karena mengungkap beberapa hal dalam kehidupan Murakami sebagai seorang novelis. Inti artikel ini membicarakan bagaimana Murakami yang begitu dipengaruhi oleh karya-karya sastra Barat mengaku bahwa dirinya sebenarnya kurang diterima oleh dunia sastra Jepang, meski ia dicintai oleh jutaan penggemar sastra di seluruh dunia. Juga tentang Colorless Tsukuru Tazaki, and His Years of Pilgrimage, novel panjang terakhirnya yang baru pada Agustus lalu terbit edisi Bahasa Inggrisnya. Baca: http://www.theguardian.com/books/2014/sep/13/haruki-murakami-interview-colorless-tsukur-tazaki-and-his-years-of-pilgrimage

Meski saya belum menyelesaikan satu buku pun selama satu pekan terakhir, tapi link soal Haruki Murakami di atas membuat saya ingin merekomendasikan buku ini…

What I Talk About When I Talk About Running: A Memoir

Ini adalah karya Murakami yang tidak biasa karena alih-alih menulis kisah fiksi berupa novel atau kumpulan cerpen, Murakami menulis memoarnya sebagai pelari maraton amatir. Murakami sudah berlari jarak jauh selama sekitar tiga dekade (kalau saya tidak salah ingat) terakhir dan ia menuliskan pengalaman-pengalamannya ketika berlari lewat buku ini. Anda mungkin akan berpikir bahwa buku ini akan membosankan, karena awalnya saya juga cukup skeptis, tetapi tak diduga, ternyata buku ini sangat menarik. Layak dibaca, terutama bagi yang sedang menyukai olahraga lari yang sedang hype saat ini.

FireShot Screen Capture #353 - 'What I Talk About When I Talk About Running by Haruki Murakami — Reviews, Discussion, Bookclubs, Lists' - www_goodreads_com_book_show_2195464_What_I_Talk_About_When_I_Talk_About_Running

Selamat berakhir pekan!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s